Laporkan Masalah

Kajian kerentanan bangunan akibat bahaya gempabumi dikota Mataram Nusa Tenggara Barat

Uzlifatul Azmiyati,

2015 | Tesis |

Gempabumi diketahui sebagai fenomena alam yang menimbulkan kerugian yang sangat besar baik secara moral dan material. Berdasarkan beberapa kasus gempabumi merusak di dunia, diketahui bahwa tingkat kerusakan akibat gempabumi tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya kekuatan gempabumi dan jarak suatu daerah dari pusat gempabumi tetapi juga dipengaruhi oleh karakteristik dinamika tanah. Kota Mataram sebagai ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat yang padat penduduk (6.741 jiwa/km2) merupakan bagian dari wilayah Indonesia yang rawan terhadap bencana gempabumi menjadi lokasi penelitian ini. Karakteristik dinamika tanah diperoleh berdasarkan analisis data mikrotremor yang ada di Kota Mataram dengan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) yang menghasilkan nilai frekuensi alami tanah (f0) dan faktor amplifikasi tanah (A0). Frekuensi alami dan faktor amplifikasi menjadi input untuk menghitung karakteristik dinamika tanah lainnya: periode dominan (Tg), indeks kerentaran seismik (Kg), ground shear strain (?), dan percepatan getaran tanah maksimum (PGA). Tingkat kerentanan bangunan diidentifikasi selama survei lapangan dengan menerapkan metode Rapid Visual Screening (RVS) menurut pedoman FEMA 154. Metode ini mengandalkan pengamatan secara visual untuk menilai indikator kerentanan yaitu jenis struktur bangunan, tinggi bangunan, ketidakteraturan vertikal, ketidakteraturan horisontal, dan kelas geoteknik tanah. Hasil analisis menunjukkan bahwa pola spektrum mikrotremor Kota Mataram menghasilkan frekuensi alami rendah (0,13–10,96 Hz) dengan faktor amplifikasi tinggi (3,04–6,59), nilai periode dominan tinggi (0,02–2,25 detik). Hal tersebut menunjukkan bahwa Kota Mataram memiliki lapisan sedimen yang tebal dan batuan dasar yang dalam. Indeks kerentanan seismik tingggi ditunjukkan di bagian barat Kota Mataram. Jika dilihat dari nilai ground shear strain maka Kota Mataram akan berpotensi mengalami getaran dan rekahan. Nilai PGA menunjuukkan bahwa Kota Mataram terletak pada zona bahaya gempabumi rendah sampai sedang (0,11-0,69 g). Bangunan dengan tingkat kerentanan yang tinggi sebanyak 27% dari total sampel yang tersebar di 6 Kecamatan di Kota Mataram. Bangunan dengan kerentanan tinggi tersebut didominasi oleh bangunan pemukiman dan komersial dengan luas lantai yang berbeda-beda. Jumlah bangunan dengan kerentanan tinggi lebih sedikit dibandingkan dengan bangunan dengan tingkat kerentanan rendah.

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.