Laporkan Masalah

Struktur dan komposisi vegetasi penyusun komunitas hutan cendana (santalum album, L) pasca penebangan serta persepsi masyarakat di Timor Tengah Utara

Fransisca Xaveriana Serafina Lio,

2015 | Tesis |

Gangguan yang terjadi pada komunitas hutan cendana (S. album L) berupa penebangan secara besar-besaran pada tahun 1996 menyebabkan perubahan struktur dan komposisi vegetasi penyusunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur dan komposisi vegetasi penyusun komunitas hutan cendana (S. album L) pasca penebangan, kondisi fisikokimia dan persepsi masyarakat terhadap hutan cendana (S. album L) dan hasil-hasil pertanian di Kabupaten Timor Tengah Utara. Di antara 24 kecamatan yang ada di Kab. TTU, Kec. Biboki Selatan dan Biboki Anleu memiliki jumlah cendana (S. album L) yang tumbuh alami terbanyak dan pernah dilakukan penebangan. Upaya rehabilitasi disertai dengan perilaku konservasi penting dilakukan agar hutan cendana tetap terjaga kelestariannya. Penelitian dilaksanakan dengan cara membagi lokasi kajian vegetasi menjadi 3 zona berdasarkan ketinggian tempat yaitu Upland (656-730 m dpl), Middle (362-433 m dpl) dan Lowland (110-125 m dpl), serta masyarakat adalah pada keluarga yang bermukim dekat hutan. Data vegetasi dicuplik dari 20 plot ukuran 20mx20m untuk tegakan, dan 5 ulangan ukuran 1mx1m per plot untuk vegetasi lantai. Data fisikokimia berupa suhu udara, kelembaban udara, suhu tanah, kelembaban tanah, pH tanah dan intensitas cahaya di ukur di bawah dan di luar kanopi, N, P dan K total, serta Kapasitas Tukar Kation dicuplik pada plot yang telah ditentukan. Responden sebanyak 60 KK dan informasi diperoleh dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga hutan cendana hanya tersusun atas 2 dan 3 strata dan dalam kondisi rusak karena luasnya gap kanopi yang terjadi. Sebanyak 68 jenis tumbuhan, 46 jenis,dan 21 jenis ditemukan di hutan cendana Upland, Middle dan Lowland. Vegetasi dominan dari 3 growth form pohon, sapling dan vegetasi lantai di Daerah Upland adalah Syzygium aqueum L., Bambusa sp., dan Poa trivialis L dengan NP 18,1; 29,5; dan 28,6. Di Daerah Middle adalah Musa paradiciaca., Ananas comosus Merr., dan Cyperus rotundus L., dengan Nilai Penting 31,3; 41,2; dan 33,5. Di Daerah Lowland adalah Gliricidia sepium (Jacq) Kunth., Ricinus communis L., Poa trivialis L dengan NP 35,7; 45,8; dan 36,5. Indeks Keanekaragaman tergolong sedang dengan nilai 1,6; 1,7; dan 1,4. Indeks Kemerataan juga tergolong sedang dengan nilai 0,4 untuk ketiga lokasi. Indeks Similiaritas tergolong rendah yaitu < 50%. Hasil analisis aspek fisikokimia menunjukkan kesesuaian dengan kondisi ekologi cendana. Hasil analisis sosial ekonomi masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat memiliki persepsi tinggi tentang hutan cendana yaitu sebesar 95 % di desa Oenaem dan 100% di desa Adat Tamkesi dan Nifutasi. Persepsi masyarakat tentang kerusakan hutan cendana tergolong tinggi yaitu sebesar 75% di di desa Oenaem, 90% dan 100% masyarakat memiliki persepsi sedang di desa Adat Tamkesi dan Nifutasi. Persepsi masyarakat tentang pencegahan terhadap kerusakan hutan cendana tergolong tinggi di desa Oenaem dan Adat Tamkesi yaitu sebesar 100% dan 90%, sedangkan di desa Nifutasi 80% masyarakat memiliki persepsi sedang. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa 100% masyarakat ketiga desa memiliki pengetahuan sedang dan persepsi tinggi sebesar 100% tentang manfaat hasil pertanian. Upaya rehabilitasi dan konservasi kondusif dilakukan mulai dari hutan cendana Daerah Middle¸diikuti Upland dan Lowland.

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.