Efek fenomena iklim global dan topografi terhadap pola distribusi curah hujan di provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta
Rodi Yunus,
2014 | Tesis |di beberapa bidang (hidrologi, klimatologi dan pertanian) sangat berhubungan dan ditentukan oleh variasi curah hujan. Variasi distribusi curah hujan dipengaruhi banyak faktor, mulai skala global sampai skala lokal. Pada penelitian ini dilakukan analisis variasi curah hujan dengan faktor–faktor skala global dan skala lokal. Skala global berupa fenomena iklim global yaitu interaksi jarak jauh anomali suhu muka laut (SST) Samudera Pasifik (Indeks Nino 3.4) dan perbedaan anomali SST timur (IODE) dan barat (IODW) Samudera Hindia (DMI). Analisis regresi menunjukan variasi SST yang terjadi di kedua Samudera berpengaruh signifikan terhadap variasi curah hujan di beberapa lokasi di Jawa Tengah dan DIY untuk periode SON, DJF dan JJA. Pengaruh indek Nino 3.4 lebih nyata di Yogyakarta dan bagian timur Jawa Tengah. IODE dan DMI lebih signifikan berpengaruh di bagian barat Jawa Tengah. Kontribusi pengaruh ketiga variabel tersebut terhadap variasi curah hujan di lokasi yang signifikan berkisar 40%-72%. Terjadinya anomali SST di Samudera Pasifik dapat menimbulkan fenomena ENSO (El Nino atau La Nina). Sementara perbedaan anomali SST antara timur dan barat Samudera Hindia dapat menimbulkan fenomena IOD. Kejadian El Nino menyebabkan rata-rata curah hujan berkurang dan perbedaanya signifikan dibanding kondisi netral pada periode SON. Untuk periode DJF berkurangnya curah hujan lebih signifikan pada dataran rendah (elevasi < 100 m dpl) saat kejadian El Nino dan IOD (+) secara bersamaan. La Nina menyebabkan curah hujan meningkat periode DJF, dan curah hujan ekstrim lebih sering terjadi. Dampak La Nina lebih siginifikan pada lokasi yang berada dibawah 500 m dpl. Dalam skala lokal, posisi geografi dan topografi merupakan faktor yang mempengaruhi variasi curah hujan. Berdasarkan posisi geografi, curah hujan musiman (SON, DJF, MAM dan JJA) umumnya lebih tinggi di bagian barat dari pada di bagian timur wilayah penelitian dan berkorelasi positif dengan ketinggian. Curah hujan secara spasial dapat diperoleh dengan cara interpolasi. Untuk estimasi spasial curah hujan ini digunakan pendekatan multivariat regresi non linier dengan topografi sebagai variabel bebas. Variabel topografi yang dipertimbangkan adalah lintang, bujur, elevasi, lereng dan arah lereng. Model estimasi curah hujan dibentuk dari kombinasi variabel topografi. Model estimasi paling bagus, memiliki performa dan tingkat akurasi lebih baik adalah model yang dibangun dari lintang, bujur dan elevasi. Model ini lebih konsisten dari model spasial IDW. Kata Kunci : Curah hujan, ENSO, IOD, Topografi dan Multivariat regresi
Kata Kunci :