Aplikasi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk pemetaan kerawanan kebakaran hutan dan lahan dikawasan cagar biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu provinsi Riau
Adrea Farandika,
2016 | Skripsi |Deforestasi besar-besaran dari hutan menjadi perkebunan, khususnya kelapa sawit memulai era bencana kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. Sejak tahun 1997, hampir setiap tahun kejadian kebakaran hutan dan lahan terjadi. Keadaan kebakaran juga semakin diperparah dengan kondisi lahan yang mayoritas merupakan lahan gambut, sehingga kebakaran sulit untuk dipadamkan. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan parameter-parameter penyusun kerawanan kebakaran hutan dan lahan yang selanjutnya disusun menjadi peta kerawanan kebakaran hutan dan lahan di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu. Terdapat 7 parameter yang digunakan dalam pemetaan kerawanan kebakaran hutan dan lahan ini yakni aksesibilitas terhadap jalan, aksesibilitas terhadap sungai, suhu permukaan, curah hujan, kepadatan hotspot, peruntukan lahan dan penutup/penggunaan lahan. Kemudian dilakukan proses Analytic Hierarchy Process (AHP) sebagai metode pembobotan masing-masing parameter. Dari proses AHP, peta kerawanan dibentuk dengan skenario Inconsistency Index (IC) terrendah dan skenario equal. Peta kerawanan dihasilkan dengan 4 kelas yakni tidak rawan, sedang, rawan dan sangat rawan. Dari skenario IC rendah didapatkan kelas sangat rawan seluas 32.327 Ha dengan mayoritas berada pada Kecamatan Siak Kecil dan Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis. Proses wawancara AHP menyimpulkan bahwa parameter paling berpengaruh dalam kebakaran hutan dan lahan adalah parameter suhu dan curah hujan. Kedua parameter ini dianggap masuk akal sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan paling penting karena pembukaan lahan baru biasanya terjadi disaat musim kering
Kata Kunci :