Pengenalan fasilitas pelayanan dikawasan simpang lima kota Semarang untuk penderita tunanetra dalam bentuk peta (Peta taktual)
Adevia Taftiana Rosyadi,
2016 | Skripsi |Peta memiliki tujuan sebagai alat komunikasi, dapat digunakan oleh seluruh pengguna, baik pengguna dengan keadaan normal maupun mempunyai keterbatasan secara fisik. Penyandang tunanetra memiliki hak yang sama dengan manusia yang umumnya tidak memiliki keterbatasan baik dalam penggunaan fasilitas umum maupun fasilitas disediakan secara khusus. Penyandang tunanetra juga merupakan pengguna peta yang berhak untuk mengetahui informasi apa saja yang disajikan pada peta dengan saluran atau sarana yang berbeda. Penelitian ini memiliki tujuan (1) melakukan inventarisasi informasi fasilitas pelayanan di Kawasan Simpang Lima Kota Semarang yang dibutuhkan oleh penderita tunanetra; (2) menyusun informasi fasilitas pelayanan di Kawasan Simpang Lima Kota Semarang dalam bentuk peta (Peta Taktual). Penelitian ini terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu tahap pertama pengumpulan informasi kebutuhan tunantera dengan cara wawancara serentak dan kemudian dianalisis deskriptif sebagai dasar pembuatan desain simbol peta serta pembuatan desain simbol, tahapan ke-dua merupakan proses pembuatan peta dasar tiga dimensi dan juga proses percetakan mastermap dengan menggunakan media cetak thermoforming dengan substrat peta menggunakan substrat plastik, dan tahapan ke-tiga yaitu berupa uji keterbacaan kepada tunanetra dengan cara wawancara langsung. Pengujian keterbacaan peta yang telah dicetak dilakukan dengan cara wawancara terhadap 30 responden yang sebelumnya telah dipilih menggunakan metode purposive sampling. Kebutuhan tunanetra dalam kaitannya pembuatan peta taktual yaitu memuat informasi bangunan seluruh fasilitas pelayanan di Kawasan Simpang Lima Kota Semarang. Peta Taktual Fasilitas Pelayanan di Kawasan Simpang Lima Kota Semarang telah sesuai dengan kebutuhan responden baik dalam unsur kemudahan untuk dibaca dan ukuran peta. Hasil pengujian keterbacaan peta menunjukan bahwa simbol yang terbagi menjadi dua yaitu simbol bangunan dan simbol jalan menunjukan bahwa peta mudah untuk dibaca oleh penyandang tunanetra dengan nilai uji keterbacaan simbol bangunan sebesar 91,50% dan simbol jalan sebesar 94,67%.
Kata Kunci :