Laporkan Masalah

Kajian kepadatan bangunan menggunakan interpretasi Hibrida citra landsat-8 OLI dikota Semarang tahun 2015

Shanti Puspitasari,

2016 | Skripsi |

Perkembangan kota yang pesat memicu semakin meningkatnya jumlah bangunan sehingga kepadatan bangunan di Kota Semarang semakin meningkat. Identifikasi kepadatan bangunan apabila dilakukan secara terestris membutuhkan waktu, biaya, dan tenaga yang cukup banyak sehingga agar lebih efisien dimanfaatkanlah citra penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Pemetaan kepadatan bangunan di Kota Semarang berdasarkan interpretasi hibrida, (2) Mengkaji tingkat akurasi peta kepadatan bangunan hasil interpretasi hibrida di Kota Semarang dengan peta kepadatan bangunan rujukan, dan (3) Mengkaji pola kepadatan bangunan yang terjadi di Kota Semarang yang diperoleh berdasarkan hasil interpretasi hibrida. Hasil penelitian berupa peta kepadatan bangunan hasil interpretasi hibrida. Kelas kepadatan tinggi memiliki area seluas 11.935 Ha atau 30,76% dari luas wilayah dan kelas kepadatan bangunan rendah memiliki luas 5.761,10 Ha atau 14,85% dari luas wilayah. Bukan lahan terbangun masih mendominasi wilayah ini dengan luas area 21.103,84 Ha atau 54,39% dari total luas wilayah. Hasil uji akurasi peta kepadatan bangunan interpretasi hibrida memiliki keakuratan sebesar 87,81% sehingga interpretasi hibrida layak digunakan untuk identifikasi kepadatan bangunan. Pola kepadatan bangunan kelas tinggi adalah acak dimana kelas ini tersebar diseluruh kecamatan terutama pada daerah dengan topografi datar dan kelas kepadatan rendah memiliki pola acak juga terutama di daerah perdesaan. Kepadatan di Kota Semarang dipengaruhi oleh faktor topografi wilayahnya, yakni kepadatan tinggi mayoritas berada di topografi datar hingga landai dan kepadatan rendah mayoritas berada di topografi berbukit. Semakin menjauhi pusat kota kepadatan mengikuti jalan utama

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.