Laporkan Masalah

Analisis spasial penyakit kecacingan soil transmitted helminth dengan karakteristik tanah melalui pendekatan geomorfologi dikabupaten Bantul

Nurul Maulida Muslimawati,

2016 | Skripsi |

Penyakit kecacingan Soil Transmitted Helminth di Indonesia masih mempunyai prevalensi yang cukup tinggi, contohnya di Kabupaten Bantul yang mempunyai prevalensi sebesar 28,67%. Penyakit kecacingan ini disebabkan oleh infeksi cacing parasit Soil Transmitted Helminth yang dapat menyebabkan masalah kesehatan lain seperti anemia, kurang gizi, hingga kematian. Cacing parasit tersebut mempunyai hubungan dengan karakteristik tanah dimana tanah dibutuhkan dalam siklus hidup dan perantara ke manusia. Hubungan cacing Soil Transmitted Helminth dengan tanah ini dapat dianalisis menggunakan penginderaan jauh dan sistem informasi geografis (SIG). Melihat fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui jenis dan karakteristik tanah dengan pendekatan geomorfologi, 2) menganalisis kesesuaian tanah untuk hidup cacing Soil Transmitted Helminth, dan 3) menganalisis secara spasial antara penyakit kecacingan Soil Transmitted Helminth dengan media hidupnya yaitu tanah. Sumber data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Landsat 8 OLI dan citra SRTM 30 meter, sedangkan untuk data pendukung adalah Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1:25.000, Peta Geologi skala 1:100.000, data jumlah kasus kecacingan Soil Transmitted Helminth tahun 2014, dan data curah hujan 10 tahun. Identifikasi tanah menggunakan pendekatan geomorfologi (bentuklahan) dengan memanfaatkan data penginderaan jauh (data utama). Informasi yang dapat diketahui dari hasil pemanfaatan data penginderaan jauh adalah beberapa faktor pembentuk tanah seperti topografi, material penyusun/bahan induk, penutup lahan (organisme), dan curah hujan. Identifikasi tanah tersebut digunakan untuk mengetahui kesesuaian tanah sebagai tempat hidup cacing Soil Transmitted Helminth. Metode analisis untuk identifikasi tanah dan kesesuaiannya tersebut menggunakan metode analisis aritmatic matching, sedangkan analisis spasial penyakit kecacingan Soil Transmitted Helminth menggunakan metode autocorrelation Moran’s I. Hasil yang diperoleh dari identifikasi tanah di Kabupaten Bantul terdapat 7 (tujuh) jenis tanah yaitu regosol, aluvial, latosol, kambisol, grumusol, mediteran, dan rendzina. Tingkat kesesuaian tanah untuk hidup cacing Soil Transmitted Helminth didapatkan sebesar 94,55% dari total keseluruhan jenis tanah. Analisis spasial penyakit kecacingan Soil Transmitted Helminth dengan karakteristik tanah menunjukkan adanya korelasi dimana jenis tanah menentukan jenis cacing Soil Transmitted Helminth. Namun, analisis spasial autocorrelation Moran’s I menunjukkan bahwa tidak ada keterkaitan antara persebaran penyakit kecacingan Soil Transmitted Helminth di satu kecamatan dengan kecamatan lainnya, hal tersebut ditunjukkan dengan nilai indeks Moran sebesar -0,102. Pola spasial penyakit kecacingan Soil Transmitted Helminth sendiri termasuk random.

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.