Laporkan Masalah

Kajian hidrogeokimia airtanah bebas diwilayah kepesisiran kabupaten Purworejo

Puspa Chattra Barapela,

2016 | Skripsi |

Prinsip Uniformitarianisme menyatakan bahwa proses-proses geomorfologi yang telah terjadi pada masa lampau meninggalkan bekas yang nyata dan khas pada bentuklahan masa kini. Fenomena yang berkaitan dengan prinsip tersebut adalah ditemuinya variasi airtanah bebas payau hingga asin di wilayah kepesisiran Kabupaten Purworejo. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengkaji karakteristik dan pola persebaran hidrogeokimia secara spasial di wilayah kepesisiran Kabupaten Purworejo; dan (2) menemukenali faktor-faktor yang memengaruhi karakteristik dan pola persebaran hidrogeokimia airtanah bebas di wilayah kepesisiran Kabupaten Purworejo. Metode pengambilan dan pengukuran data didasarkan pada bentuklahan sebagai unit analisis. Pengambilan dan pengukuran data dilakukan secara systematic sampling untuk ketinggian muka airtanah (TMA), nilai daya hantar listrik (DHL), dan sifat fisik airtanah, serta purposive sampling untuk pengambilan sampel airtanah dengan memerhatikan pola sebaran bentuklahan dan karakteristik airtanah. Selanjutnya tipe hidrogeokimia dianalisis dengan metode ion dominan, diagram stiff, dan diagram piper segiempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama terdapat lima tipe airtanah bebas pada daerah penelitian yang dipengaruhi oleh genesis bentuklahan. Tipe air bikarbonat berada pada sistem akuifer dataran banjir dan tanggul alam. Tipe semi-bikarbonat dominan dan tersebar merata di seluruh bentuklahan dengan senyawa utama Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2. Tipe evaporit dan fosil berada di swale muda yang berasosiasi dengan laguna masa lampau. Tipe sulfat ditemui di gisik pantai dekat muara Sungai Jali. Kedua, faktor-faktor yang memengaruhi karakteristik dan pola persebaran hidrogeokimia airtanah bebas di daerah penelitian adalah: (i) proses pelarutan mineral-mineral dari material marin dan aluvium sungai serta proses infiltrasi dan perkolasi air hujan membentuk tipe air bikarbonat dan semi-bikarbonat, (ii) proses evaporasi intesif zona perairan laut dangkal pada kala pleistosen meninggalkan kristal-kristal garam yang terlarut dalam membentuk tipe air evaporit, (iii) proses reduksi bahan organik dari vegetasi pada laguna masa lampau membentuk tipe air sulfat, dan (iv) proses pertukaran kation airtanah dengan mineral lempung marin yang bersifat menjebak air dan penemuan fosil molluscca membentuk tipe air fosil.

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.