Prediksi perubahan lahan pertanian sawah sebagian kabupaten Klaten dan sekitarnya menggunakan cellular automata dan data penginderaan jauh
Dicky Setiady,
2016 | Skripsi |Keberadaan lahan pertanian sawah mulai tergusur oleh adanya pembangunan bangunan-bangunan baru, baik dimanfaatkan sebagai permukiman maupun dimanfaatkan sebagai lahan lain yang lebih produktif secara ekonomi. Kabupaten Klaten merupakan salah satu penghasil beras utama di Provinsi Jawa Tengah yang terkenal dengan beras Delanggu. Posisi Kabupaten Klaten yang strategis berada di jalur utama penghubung Kota Yogyakarta dan Kota Surakarta merupakan hal yang menarik untuk dikaji, khususnya mengenai perubahan lahan dari lahan sawah menjadi lahan non sawah. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) melakukan pemetaan dan menganalisis perubahan lahan pertanian sawah sebagian Kabupaten Klaten dan sekitarnya tahun 2002-2008 berdasarkan interpretasi citra Landsat, dan (2) menganalisis pengaruh penggunaan data spasial lain (aksesibilitas, pusat kegiatan, lahan terbangun, dan jaringan sungai) terhadap akurasi model Cellular Automata (CA) lahan pertanian sawah sebagian Kabupaten Klaten dan sekitarnya tahun 2014. Penelitian ini menggunakan citra Landsat 7 ETM+ tahun 2002 dan Landsat 5 TM tahun 2008 sebagai data utama dalam menganalisis perubahan lahan sawah menjadi lahan non sawah. Hasil analisis perubahan lahan sawah tahun 2002-2008 digunakan sebagai input dalam melakukan prediksi lahan sawah tahun 2014 melalui pemodelan CA. Data spasial lain digunakan sebagai variabel pendorong perubahan yang terdiri dari jarak terhadap aksesibilitas, jarak terhadap lahan terbangun eksisting, jarak terhadap sungai, dan jarak terhadap pusat kegiatan. Setiap variabel tersebut diakomodasi dalam model regresi logistik biner untuk dianalisis besar pengaruhnya terhadap perubahan lahan sawah dan sekaligus digunakan sebagai peta sub-model transisi (peta probabilitas lokasi transisi). Matriks area transisi diperoleh dari model Markov untuk memprediksi luasan lahan sawah yang mungkin muncul pada tahun 2014 berdasarkan peta lahan sawah tahun 2002 dan tahun 2008. Untuk mengetahui perbedaan tingkat akurasi model CA dengan penggunaan data spasial lain, maka perlu pembanding yaitu model CA tanpa penggunaan data spasial lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis citra Landsat selama periode 2002 hingga 2008 terjadi perubahan lahan sawah menjadi lahan non sawah yang paling banyak terjadi di sebelah timur-tenggara Jalan Yogyakarta-Surakarta dengan penurunan luas sebesar 3.207,96 Ha atau sekitar 534,7 Ha/tahun. Analisis dari hasil pemodelan menunjukkan bahwa setiap penggunaan data spasial lain sebagai variabel penentu perubahan memberikan pengaruh tersendiri terhadap terjadinya perubahan lahan sawah, di mana variabel jarak terhadap lahan terbangun eksisting dan jarak terhadap pusat industri merupakan variabel yang memberikan pengaruh paling besar. Lebih lanjut, penggunaan data spasial lain melalui model regresi logistik biner sebagai aturan transisi dalam pemodelan CA untuk prediksi lahan sawah tahun 2014 menghasilkan akurasi model lebih tinggi dibandingkan dengan model tanpa penggunaan data spasial lain. Model dengan penggunaan data spasial lain melalui regresi logistik biner diperoleh akurasi sebesar 86,15% dengan indeks kappa 0,68076, sedangkan model tanpa penggunaan data spasial lain hanya diperoleh akurasi
Kata Kunci :