Ketahanan pangan rumah tangga pertanian kabupaten Sleman
Ari Susanto,
2015 | Skripsi |Permasalahan Pangan masih menjadi perhatian utama dalam upaya pembangunan secara nasional maupun regional. Beberapa faktor berpotensi mengancam ketahanan pangan Kabupaten Sleman, seperti: penurunan jumlah rumah tangga pertanian, perkembangan kawasan perkotaan, serta fisiografis wilayah yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengukur tingkat ketahanan pangan pada rumah tangga pertanian, dan 2) menggambarkan strategi dari pemenuhan kebutuhan pangan oleh rumah tangga pertanian di Kabupaten Sleman. Sampel wilayah penelitian ditentukan menggunakan teknik pemilihan Sampel Gugus Bertahap berdasarkan fisiografis wilayah. Lokasi penelitian dan sampel rumah tangga pertanian masing-masing berada di: wilayah hamparan, Desa Selomartani (38% populasi); lereng Merapi, Desa Wukirsari (30% populasi); dan Prambanan, Desa Sambirejo (30% populasi). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan menggunakan tabulasi silang, analisis Chi Square dan Korelasi Spearman Rank. Hasil analisis dideskripsikan menggunakan informasi kondisi sosial, demografi dan ekonomi. Hasil menunjukan ketahanan pangan rumah tangga pertanian lebih tinggi di wilayah hamparan (60%) dibanding dengan wilayah lereng Merapi (58,82%) dan Prambanan (30%). Berdasarkan uji Chi Square, perbedaan tersebut tidak bergantung dengan kondisi fisiografis wilayah. Saat persediaan pangan rumah tangga pertanian di tiap wilayah tidak cukup, maka mereka akan mengimpor pangan sehingga pangan tetap stabil. Indikator ketersediaan dan stabilitas pangan memiliki hubungan negatif. Jika persediaan pangan dalam kondisi cukup dan stabil, maka tingkat ketahanan pangan akan semakin rendah. Kualitas pangan berhubungan positif yang cukup kuat dengan tingkat ketahanan pangan. Artinya pada rumah tangga pertanian finansial terbatas, mereka akan mengurangi konsumsi pangan dengan kualitas baik. Rumah tangga pertanian di tiap wilayah akan keluar dari kondisi sulit pangan dengan strategi yang sama, Dalam penyediaan pangan yaitu membeli, meminjam bahan pangan dari tetangga dan di wilayah lereng, menambah bahan pangan pokok dengan pangan alternatif (umbiumbian). Saat mengakses pangan, rumah tangga pertanian memiliki strategi yaitu meningkatkan penghasilan dari pekerjaan sektor non pertanian, memilih bahan pangan murah, membatasi belanja, dan di wilayah lereng Prambanan memanfaatkan lahan pekarangan sebagai kebun pangan alternatif. Strategi dalam menyerap pangan saat kondisi sulit pangan, yaitu dengan memprioritaskan bahan pangan bergizi untuk anak, membatasi porsi makan, dan memilih bahan pangan tidak pada kualitas terbaik. Kata Kunci: Ketahanan pangan, rumah tangga pertanian, strategi pemenuhan pangan, fisiografis wilayah, Sleman.
Kata Kunci :