Hubungan karakteristik hidrokimia dan pemanfaatan airtanah pada pulau kecil : Studi kasus pulau Panggang Kepulauan Seribu DKI Jakarta
Helmi Budiyanto,
2015 | Skripsi |Pulau Panggang memiliki luas ± 12 ha dengan jumlah penduduk 4.133 jiwa. Kepadatan penduduk di Pulau Panggang sangatlah tinggi. Kepadatan mencapai 344 jiwa/ha. Jumlah penduduk yang demikian padat meyebabkan lebih dari 90% luasan pulau adalah lahan terbangun. Kondisi ini membuat sedikitnya lahan terbuka untuk resapan air hujan yang menjadi sumber utama bagi airtanah. Berkurangnya resapan air hujan ditambah penurapan airtanah yang terus menerus menyebabkan permasalahan airtanah. Tujuan pertama penelitin ini adalah menganalisis karakteristik hidrokimia airtanah di Pulau Panggang. Metode yang digunakan adalah klasifikasi nilai daya hantar listik (DHL), uji sampel airtanah untuk mengetahui konsentrasi ion mayor, jumlah sampel yang diuji sebanyak 6 sampel. Analisis hidrokimia yang digunakan adalah metode ion dominan, metode diagram Stiff, dan metode diagram Piper Segiempat. Tujuan kedua adalah menganalisis pemanfaatan airtanah masyarakat Pulau Panggang. Metode yang digunakan adalah wawancara. Sampel berjumlah 90 keluarga yang didapat dengan metode purposive sampling. Hasil wawancara di analisis dengan metode deskriptif kualitatif. Tujuan ketiga adalah menganalisi hubungan karakteristik hidrokimia airtanah dan pemanfaatan airtanah. metode yang digunakan adalah korelasi spearman. Hasil pengukuran nilai daya hantar listrik (EC) airtanah di Pulau Panggang berada pada rentang 1.906 ?mhos/cm sampai 18.560 ?mhos/cm. Klasifikasi Kloosterman (1983) menunjukan airtanah di Pulau Panggang yang termasuk airtanah payau (brackish) sebanyak 0.08 %, airtanah asin (saline) sebanyak 0.97 % , dan airtanah sangat asin (haline) sebanyak 98.95 %. Hasil pengujian sampel airtanah menunjukan tipe hidrokimia airtanah di Pulau Panggang adalah MgCl2 dan termasuk airtanah asin (intrusi) menurut klasifikasi Diagram Piper Segiempat. Kondisi airtanah yang ada membuat pemanfaatan airtanah dominannya hanya untuk kebutuhan mandi dan cuci. Masyarakat tidak ada yang menggunakan airtanah sebagai sumber air baku untuk kebutuhan minum, dan hanya sekitar 6.6 % masyarakat yang menggunakan untuk keperluan masak. Kondisi Airtanah memiliki hubungan yang sangat erat terhadap pemilihan sumberdaya air untuk keperluan minum, namun hubungannya lemah terhadap pemilihan sumberdaya air untuk kebutuhan memasak, dan sangat lemah terhadap pemilihan sumberdaya air untuk mencuci dan mandi. Kata kunci : airtanah, daya hantar listrik (DHL), hidrokimia, pola pemanfaatan. pulau kecil, pulau panggang,
Kata Kunci :