Perbandingan harga lahan dipasaran dengan harga lahan NJOP secara spasial dikecamatan Mlati kabupaten Sleman
Urai Ridho Abdussyahiid Maaarij Fitrah Banarsyahdhimi,
2014 | Skripsi |Perkembangan kawasan perkotaan di Kabupaten Sleman kian pesat dari waktu ke waktu. Berbagai aspek mengikuti perkembangan yang terjadi di kawasan perkotaan termasuk aspek perkembangan harga lahan. Harga lahan pasaran bersifat sangat dinamis serta berkembang jauh lebih cepat dan lebih tinggi dibanding NJOP yang relatif statis. Fenomena ini kemudian diteliti secara spasial di Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji dan memetakan perbedaan harga lahan pasaran dengan NJOP serta mengkaji faktor yang berpengaruh terhadap perbedaan tersebut secara spasial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa teknik survei dengan pengamatan populasi dilakukan secara sampling dan dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif dalam konteks spasial. Data primer yang digunakan berupa harga lahan pasaran, bentuk penggunaan lahan dan sebaran fasilitas umum, sebagian diambil dari data lapangan dan sebagian dari Citra GeoEye-1. Data sekunder berupa peta NJOP struktur raster dan data jaringan jalan. Penentuan sampel lapangan menggunakan metode stratified random sampling yang kemudian dilakukan wawancara ke pemilik lahan sekitar dan pengamatan di lapangan. Tujuan pertama dan kedua dilakukan dengan analisis kuantitatif operasi aritmatik, sementara tujuan ketiga dilakukan dengan analisis kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan beberapa fakta, antara lain NJOP yang mendominasi di Kecamatan Mlati adalah klas sangat rendah (Rp 27.000,00 – Rp 103.000,00) dan paling minoritas adalah kelas sangat tinggi (Rp 1.722.000,00 – Rp 2.640.000,00). Harga lahan pasaran yang mendominasi adalah kelas sangat rendah (Rp 300.000,00 – 600.000,00) dan paling minoritas adalah kelas sangat tinggi (Rp 2.900.000,00 – Rp 6.250.00,00). Perbedaan harga lahan pasaran dengan NJOP yang mendominasi adalah kelas rendah (Rp 343.000 – Rp 586.000,00) dengan luasan 1503,94 Ha atau 52,9 %. Perbedaan kelas rendah ini mayoritas berada di Desa Sumberadi, Tirtoadi dan Tlogoadi yang berasosiasi keruangan dengan bentuk penggunaan lahan sawah dan jaringan jalan hirarki jalan lain. Sementara perbedaan harga lahan pasaran dengan NJOP tertinggi berupa kelas sangat tinggi (Rp 3.148.000,00 hingga Rp 4.213.000,00) namun hanya memiliki luasan 79,23 Ha atau 2,79 %). Perbedaan harga lahan kelas sangat tinggi ini tersebar di sebagian Desa Sinduadi dan Sendangadi, yang berasosiasi keruangan dengan bentuk penggunaan lahan bangunan/gedung serta jaringan jalan hirarki jalan arteri dan kolektor. Kata Kunci: Pemetaan, NJOP, Harga Lahan Pasaran, Perbedaan Harga Lahan
Kata Kunci :