Laporkan Masalah

Penggunaan metode klasifikasi berlapis pada integrasi citra digital aster dan SIG untuk pemetaan hutan mangrove : Studi kasus di pulau Karimunjawa dan pulau Kemujan kepulauan Karimunjawa kab. Jepara Jawa Tengah

Agus Siswanto,

2014 | Skripsi |

Penelitian ini dilakukan di Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan, Kabupaten Jepara, Propinsi Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah 1) menyusun peta persebaran hutan mangrove dengan menggunakan metode klasifikasi berlapis yang berisi informasi tentang luasan, persebaran, jenis – jenis mangrove dominan, dan kerapatannya di Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan, 2) mengkaji manfaat dan keterbatasan metode klasifikasi berlapis pada integrasi citra digital ASTER dan Sistem Informasi Geografis untuk pemetaan hutan mangrove di Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan. Metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode klasifikasi berlapis pada integrasi citra digital ASTER dan sistem informasi geografis. Citra digital ASTER yang dipergunakan dalam penelitian ini direkam pada tanggal 23 Agustus 2004. Prosedur klasifikasi berlapis pada penelitian ini terdiri dari tiga tingkatan klasifikasi dengan menggabungkan analisis sistem informasi geografis dan beberapa metode klasifikasi yang meliputi interpretasi citra secara visual, klasifikasi multispektral secara terselia, transformasi indeks vegetasi, dan klasifikasi berbasis pengetahuan ke dalam satu kerangka kerja. Kerja lapangan menggunakan metode stratified random sampling dilakukan untuk mencocokkan hasil interpretasi dan memperoleh data lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas kawasan hutan mangrove di Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan mencapai 424,87 Ha. Kerapatan hutan mangrove yang ada di daerah penelitian digolongkan menjadi lima kelas kerapatan, sedangkan jenis mangrove dominannya digolongkan menjadi sembilan kelas vegetasi. Metode klasifikasi berlapis pada integrasi citra digital ASTER dan sistem informasi geografis sangat bermanfaat dan efektif untuk dipergunakan dalam pemetaan hutan mangrove. Metode klasifikasi berlapis memiliki keterbatasan yang harus selalu diperhatikan. Apabila terdapat kesalahan pada lapis pertama dalam prosedur klasifikasi berlapis, maka kesalahan tersebut akan menurun pada lapis kedua, ketiga dan seterusnya. Namun dengan benar – benar memperhatikan kelemahan metode klasifikasi berlapis ini, maka diharapkan kesalahan yang terjadi dapat diminimalisir. Kata kunci : klasifikasi berlapis, citra digital, sistem informasi geografi, pemetaan, hutan mangrove.

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.