Laporkan Masalah

Kajian tingkat keberlanjutan pembangunan wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2000 - 2010

Apip Priadi,

2014 | Skripsi |

INTISARI Saat ini pembangunan menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi dan mengabaikan kerusakan lingkungan. Hal ini juga terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dimana kabupaten dan kota yang memiliki pembangunan ekonomi tinggi mengalami penurunan pada kondisi lingkungan. Salah satu solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut adalah pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan yang mengintegrasikan pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa perkembangan pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan serta untuk mengetahui status tingkat keberlanjutan di setiap kabupaten/kota di DIY tahun 2000-2010. Penelitian ini menerapkan metode analisa deskriptif kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis scalling dan klasifikasi. Analisa deskriptif kuantitatif dilakukan terhadap data-data indikator pembangunan berkelanjutan. Data indikator pembangunan berkelanjutan yang digunakan berjumlah 25 indikator. Indikator tersebut dikelompokan kedalam tiga jenis indikator yaitu indikator ekonomi, indikator sosial, dan indikator lingkungan. Teknik analisis scalling digunakan untuk menyamakan satuan dari berbagai jenis data. Tujuannya agar diperoleh data skor total dari berbagai jenis data. Klasifikasi digunakan untuk mengelompokan status tingkat keberlanjutan pembangunan wilayah antar kabupaten/kota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) perkembangan pembangunan ekonomi terbaik adalah Kota Yogyakarta dengan skor total sebesar 1.175. Pada pembangunan sosial adalah Kabupaten Sleman dengan skor total sebesar 2.432. Kemudian pada pembangunan lingkungan adalah Kabupaten Gunungkidul dengan skor total sebesar 1.356. (2) Status keberlanjutan pembangunan wilayah dalam periode tahun 2000-2010 menempatkan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman termasuk kedalam kategori Tingkat Berkelanjutan Tinggi (TBT). Sedangkan Kabupaten Kulon Progo, Gunungkidul, dan Bantul berada dalam ketegori Tingkat Berkelanjutan Rendah (TBR). Kecuali Kabupaten Gunungkidul berada pada ketegori Tingkat Berkelanjutan Sedang (TBS) tahun 2005. Sedangkan Kabupaten Bantul tahun 2010 tergolong kategori Tingkat Berkelanjutan Tinggi (TBT). Bantul selalu mengalami tren pertumbuhan positif dalam perkembangan berkelanjutan. Kata Kunci: Pembangunan berkelajutan, status keberlanjutan, Tingkat Berkelanjutan Tinggi (TBT), Tingkat Berkelanjutan Sedang (TBS), Tingkat Berkelanjutan Rendah (TBR), scalling, DIY.

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.