Perbedaan Koefisien Laba Pada Pertumbuhan dan Profitabilitas Perusahaan Studi Empiris Perusahaan Manufaktur di BEI tahun 2003-2008
YULIANTO ADI PRADANA (Pembimbing: Sumiyana, Drs., M.Si.), Sumiyana, Drs., M.Si.
Pertumbuhan perusahaan diikuti dengan pertumbuhan laba akan mempengaruhi harga saham. Harga saham mampu memberikan informasi tentang perubahan laba, dan dari penelitian sebelumnya perbedaan pertumbuhan dan profitabilitas memiliki hasil respon koefisien laba yang berbeda. Investor memiliki harapan pada perusahaan yang memiliki tingkat aset yang tinggi pada perioda sebelumnya, karena investor memiliki ekspetasi bahwa perusahaan mampu memberikan laba yang lebih tinggi lagi untuk perioda-perioda yang akan datang. Profitabilitas dipandang oleh investor sebagai kemampuan perusahaan dalam memberikan laba yang lebih tinggi lagi di masa depan, karena laba yang diperoleh perusahaan akan diinvestasikan kembali ke dalam perusahaan sehingga harapan terhadap earning per share (EPS) diekspetasi akan meningkat di masa depan.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah koefisien laba memiliki respon yang berbeda terhadap profitabilitas dan pertumbuhan perusahaan untuk kasus di Indonesia. Sampel penelitian dilakukan dengan purposive sampling dan sampel penelitian ini adalah perusahaan-perusahan manufaktur yang terdaftar berturut-turut di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2003 sampai dengan 2008. Pengujian dilakukan dengan uji statistik yaitu regresi signifikan pada uji T-test, F-test dan asumsi klasik. Metoda analisis data yang digunakan untuk pengujian hipotesis adalah analisis regresi linier berganda. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan empiris induktif.
Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa hipotesis pertama yang menyatakan bahwa variabel Rt-1,EPt dan AGt berpengaruh positif terhadap retun tidak didukung. karena retun pada tahun t-1, EPt, dan AGt tidak selalu berkorelasi positif terhadap retun. Hipotesis kedua yang menyatakan bahwa retun pada perusahaan-perusahaan bertumbuh tinggi memiliki korelasi yang lebih tinggi dibanding perusahaan bertumbuh rendah dapat didukung karena, dengan membandingkan selisih kekuatan korelasi, perusahaan bertumbuh tinggi memiliki korelasi variabel EPt yang lebih tinggi dibanding perusahaan bertumbuh rendah. Hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa retun pada perusahaan-perusahaan unprofitable memiliki korelasi yang lebih tinggi dibanding perusahaan profitable rendah dapat didukung karena, dengan membandingkan selisih kekuatan korelasi, perusahaan unprofitable memiliki korelasi variabel EPt yang lebih tinggi dibanding perusahaan profitable.
Kata Kunci : retun saham, earning per share, pertumbuhan aset, dan profitabilitas