Laporkan Masalah

Analisis Tarif Berdasarkan Average Cost dan Willingness to Pay pada Moda Transportasi Berbasis Busway: Studi Kasus Trans Jogja

YOSUA YUDAIKAWIRA UTAMA, Hengki Purwoto, S.E., M.A.

2010 | Skripsi | S1 Economics

Trans Jogja merupakan sistem angkutan umum perkotaan baru di Yogyakarta yang dikembangkan dalam rangka memperbaiki citra pelayanan angkutan umum sehingga menciptakan ketertarikan masyarakat untuk menggunakan angkutan umum daripada kendaraan pribadi. Akan tetapi, tingkat penggunaan pelayanan yang belum optimal menunjukkan keengganan masyarakat untuk menggunakan Trans Jogja. Salah satu penyebabnya adalah tarif yang mahal bagi sebagian masyrakat Yogyakarta yang notabene merupakan mahasiswa atau pelajar dan masyarakat golongan ekonomi lemah.

Pada tugas akhir ini dilakukan analisis tarif yang sesuai dengan keinginan masyarakat sehingga dapat meningkatkan jumlah penumpang dan tarif yang dapat meningkatkan pedapatan Trans Jogja sehingga menutupi biaya operasional serta meminimalkan subsidi pemerintah. Tarif diperoleh dari survei wawancara dengan masyarakat berupa pemahaman masyarakat tentang Trans Jogja, karakteristik masyarakat dan tarif yang diinginkan. Biaya operasional kendaraan dihitung berdasarkan SK Dirjen Perhubungan Darat No.SK.687/AJ.206/DRJD/2002. Penetapan tarif didasarkan pada hasil survei masyarakat. Pendapatan dihitung berdasarkan tarif yang diinginkan dikali jumlah penumpang yang akan menggunakan Trans Jogja. Subsidi diperoleh dari pengurangan biaya operasional dengan pendapatan.

Hasil penelitian bahwa tarif yang diinginkan masyarakat pasca kenaikan harga BBM adalah Rp 3.000,00 untuk single trip, Rp 2.700,00 untuk reguler umum dan Rp 2.000,00 untuk reguler pelajar. Dari tarif tersebut diperoleh pendapatan Rp 46.427.834,00/hari dengan jumlah penumpang 16.570 orang/hari. Dengan asumsi satu bulan terdapat 30 hari kerja, subsidi yang dikeluarkan Rp 2.297.342.896,00 dengan BOK sebesar Rp 7.220,00/bus-km.

Trans Jogja is a new urban public transport systems in Yogyakarta, which was developed in order to improve the image of public transport services so as to create interest in the community to use public transport rather than private vehicles. However, the level of service usage have not been optimized to show the public's reluctance to use Trans Jogja. One possible cause is an expensive tariff for some of society Yogyakarta, which incidentally is a student or students and the community economically weak groups.

In this final analysis is carried out in accordance with the tariff that society desires, thereby increasing the number of passengers and rates that can increase pedapatan Trans Jogja that cover operational costs and minimize government subsidies. Rates obtained from survey interviews with people in the form of public understanding about the Trans Jogja, community characteristics and the desired rate. Vehicle operating costs are calculated based on the Decree of Directorate General of Land Transportation No.SK.687/AJ.206/DRJD/2002. Tariff determination based on the results of a community survey. Revenue is calculated based on the desired rate multiplied by the number of passengers who will use the Trans Jogja. Subsidies provided by operating cost reductions with revenue.

The study show that rates of post people want fuel price increase is IDR RP. 3.000,00 for a single trip, IDR RP. 2.700,00 for the regular public and IDR RP 2.000,00 for regular students. Were obtained from the tariff revenue IDR RP. 46.427.834,00 / day by the number of passengers 16.570 person / day. Assuming there are 30 days a month of work, subsidies issued IDR RP 2.297.342.896,00 to the BOK for IDR RP 7.220,00/bus-km.

Kata Kunci : BOK, tarif, pendapatan, subsidi, tariffs, income, subsidy


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.