Pengungkapan wajib dan kualitas akuntansi: Analisis Perkembanngan standar akuntansi keuangan indonesia
Yossi Diantimala (Adv.: Prof. Dr. Zaki baridwan; Prof.Dr. Indra Wijaya Kusuma, MBA.; Dr. Supriyadi, , Prof. Dr. Zaki baridwan; Prof.Dr. Indra Wijaya Kusuma, MBA.; Dr. Supriyadi, M.Sc
Riset ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengungkapan wajib terhadap kualitas akuntansi setelah periode harmonisasi IAS berakhir pada tahun 2006, selama periode konvergensi SAK ke IFRSs diwakili oleh tahun 2010, dan selama periode implementasi IFRSs diwakili oleh tahun 2012. Penelitian ini dimotivasi oleh dua aliran penelitian yang telah berkembang selama ini, yaitu penelitian yang menguji kualitas akuntansi setelah pengadosian wajib IFRSs dan penelitian yang menguji kepatuhan perusahaan pada pengungkapan wajib. Penelitian yang menguji pengaruh pengungkapan wajib terhadap kualitas akuntansi belum pernah dilakukan. Penelitian ini bermaksud memberi kontribusi di bidang ini dengan mengisi kekosongan ini. Peningkatan pengungkapan wajib mencerminkan peningkatan kuantitas dan kualitas pengungkapan wajib. Kuantitas pengungkapan menunjukkan jumlah item pengungkapan sebagaimana diatur oleh SAK. Kualitas pengungkapan menunjukkan kedalaman, kelengkapan, dan kerincian pengungkapan informasi keuangan yang seharusnya disampaikan oleh perusahaan ke publik. Kualitas pengungkapan tercermin pada kepatuhan perusahaan pada pengungkapan wajib. Semakin tinggi tingkat kepatuhan perusahaan pada pengungkapan wajib berarti semakin dalam, semakin lengkap, dan semakin rinci informasi keuangan yang disampaikan oleh perusahaan. Hal ini akan mengurangi insentif manajemen untuk manajemen laba, mendorong pengakuan kerugian tepat waktu, dan meningkatkan relevansi nilai informasi akuntansi. Riset ini menggunakan sampel 58 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk tahun pengamatan 2006, 2010, dan 2012. Pengungkapan wajib diukur dengan kepatuhan perusahaan pada pengungkapan wajib. Kepatuhan perusahaan diukur dengan indeks pengungkapan yang diukur dengan banyaknya item-item pengungkapan wajib yang disampaikan oleh perusahaan melalui laporan tahunan perusahaan. Instrumen pengukur indeks pengungkapan dikembangkan sendiri berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku efektif di setiap tahun pengamatan. Kualitas akuntansi diukur dengan metrik kualitas akuntansi yang terdiri dari metrik manajemen laba, pengakuan kerugian tepat waktu, dan relevansi nilai. Kualitas akuntansi yang tinggi ditunjukkan oleh manajemen laba yang rendah, pengakuan kerugian tepat waktu yang tinggi, dan relevansi nilai yang tinggi. Uji beda dua rerata digunakan untuk menguji hipotesis pertama dan kedua serta Uji Chow digunakan untuk menguji hipotesis ketiga. Hasil penelitian ini menunjukkan rerata pengungkapan wajib perusahaan manufaktur di Indonesia masih rendah, namun cenderung semakin meningkat yang konsisten dengan hipotesis pertama. Kualitas akuntansi semakin menurun dari tahun ke tahun. Hasil ini menunjukkan hipotesis kedua tidak diterima. Pengaruh pengungkapan wajib terhadap kualitas akuntansi semakin meningkat, namun hubungan pengaruh pengungkapan wajib terhadap kualitas akuntansi tidak konsisten dengan prediksi. Hasil ini menunjukkan hipotesis ketiga diterima.
This study is aimed to examine the effect of mandatory disclosure on accounting quality after the period of harmonization of International Accounting Standards ended in 2006, during the period of convergence process of Financial Accounting Standards to IFRSs represented by the year 2010, and IFRSs implementation represented by the year 2012. This research is motivated by two streams of researches which are well explained. The first stream is the research which tests accounting quality around mandatory IFRSs adoptions. The second stream is the research which investigates compliance with mandatory disclosure around mandatory IFRSs adoptions. The research which examines the effect of mandatory disclosure on accounting quality has not been done. This research is intended to provide a big contribution on filling this gap. The increase of mandatory disclosure reveals the increase of quantity and quality of mandatory disclosure. The quantity of mandatory disclosure reflects the amount of disclosure should be met by the firm as regulated by accounting standards. The quality of mandatory disclosure exhibits deepen, complete, and detail financial information disclosure should be provided by the firm to public. Disclosure quality is reflected on firms compliance with mandatory disclosure. Getting higher firms compliance with mandatory disclosure, more comprehensive, complete, and more detail financial information provided by the firm to public. The quantity and quality of mandatory disclosure affect the accounting quality. Higher quantity and quality of mandatory disclosure, earnings management reduce, more timely loss recognition, and higher value relevance. This research uses 58 manufacturing firms listed in the Indonesia Stock Exchange for the three accounting periods, 2006, 2010, and 2012. Mandatory disclosure is measured by firms compliance with mandatory disclosure of Financial Accounting Standards Statement of Indonesia. Firms compliance is measured by disclosure index which is developed based on mandatory disclosure items. Accounting quality is measured by accounting quality metrics, these are, earnings management, timely loss recognition, and value relevance. Higher accounting quality is exhibited by less earnings management, more timely loss recognition, and higher value relevance. Paired Sample T-Test is used to examine the first and the second hypotheses and Chow Test is used to
test the third hypothesis. The results indicate that mean of disclosure index is low, but getting higher year
by year. Accounting quality is getting smaller year by year. These findings consistent with hypothesis one but they contradict with hypothesis two. The last finding suggests that the effect of mandatory disclosure on accounting quality increase year by year. Its consistent with hypothesis three.
Kata Kunci : pengungkapan wajib, Indeks Pengungkapan Wajib, kepatuhan pada pengungkapan wajib, kualitas akuntansi, manajemen laba, pengakuan kerugian tepat waktu, relevansi nilai, Standar Akuntansi Keuangan, IFRSs, mandatory disclosure, mandatory disclosure index, com