PENDEKATAN KOINTEGRASI DAN ANALISIS STABILITAS FUNGSI PERMINTAAN UANG KUASI: STUDI KASUS LIMA NEGARA ASEAN TAHUN 1932-1992
Widihanoko, Hadrianus (Adv.Drs.Ahmad Jamli, M.A.), Drs.Ahmad Jamli, M.A.
Penelitian ini mempunyai dua tujuan, yaitu untuk meneliti derajat integrasi dan kointegrasi variabel-variabel fungsi permintaan uang kuasi dan meneliti stabilitas fungsi permintaan uang kuasi di lima negara ASEAN, yaitu: Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura dan Thailand.
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang berasal dari penerbitan oleh International Monetary Fund (IMF) yaitu International Financial Statistics (IFS), Bank Indonesia (BI) yaitu Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia dan Biro Pusat Statistik (BPS) yaitu Indikator Ekonomi Indonesia. Variabel yang dijelaskan (dependent variabel) dalam penelitian ini adalah variabel uang kuasi dalam nilai riil. Variabel penjelas (independent variabel) yang dipakai adalah variabel pendapatan riil (produk domestik bruto riil), tingkat bunga deposito dalam negeri (tingkat bunga deposito) dan variabel tingkat bunga luar negeri (LIBOR). Model yang digunakan adalah model koreksi kesalahan atau error corection model (ECM), model penyesuaian parsial atau partial adjustment model (PAM) dan model penyerapan syok atau shock absorber model (SAM).
Hipotesis dalam penelitian ini adalah: pertama, variabel yang dipilih adalah berkointegrasi dan stationer pada derajat satu, kedua, fungsi permintaan uang kuasi di negara-negara yang diteliti merupakan fungsi permintaan uang yang tidak stabil.
Pendekatan kointegrasi gagal memperoleh kesamaan derajat integrasi antar variabel dan dengan demikian maka gagal dalam memperoleh kointegrasi. Tetapi model koreksi kesalahan mengindikasikan bahwa variabel yang diamati adalah variabel yang berkointegrasi sehingga dapat dikatakan bahwa variabel-variabel tersebut merupakan variabel yang berkointegrasi. Analisis stabilitas tidak berhasil mendapatkan stabilitas fungsi permintaan uang kuasi di Indonesia, Malaysia dan Singapura.
Dengan tidak adanya stabilitas fungsi permintaan uang kuasi maka otoritas moneter harus mencari sasaran kebijakan yang lebih baik. Indikator yang dapat dipakai sebagai sasaran antara selain agregat moneter adalah nilai tukar mata uang dan atau tingkat bunga. Kecuali kedua sasaran antara tersebut, tingkat inflasi sebagai salah satu sasaran akhir kebijakan moneter juga dapat dipakai sebagai target kebijakan moneter. Kebijakan ini sering disebut dengan kebijakan target inflasi (inflation targeting).
Kata Kunci : kointegrasi, analisis stabilitas,uang kuasi, studi kasus, ASEAN, 1932-1992