Laporkan Masalah

Penentuan Tarif Jasa Pemeriksaan Laboratorium Menggunakan Activity-Based Costing System : Studi Kasus : Kemungkinan Penerapannya Pada RS.Islam Klaten

UTAMI,INTIYAS (pembimbing: Drs. R.A. Supriyono, S.U, Akt), Drs. R.A. Supriyono, S.U, Akt

2012 | Skripsi | S1 Economics

Suaru organisasi baik manufaktur maupun jasa yang beroperasi dalam lingkungau kontemporer harus rnenerapkan straregi baru untuk mencapai keunggulaunya. Sistern akuntansi biaya yang digunakan untuk membebankan biaya harus diubah dengan sistem yang yang cocok dengan lingkungannya yaitu dengan activity-based costing system. Jika sistem biaya tidak diubah maka timbul distorsi biaya yang besar dan dapat menyebabkan manajemen mengambil keputusan yang tidak tepat. Salah satu kepurusan yang membutuhkan infonnasi akuntansi biaya adalah penentuan harga jual (tarif jasa).



RS, Islam KJaten sebagai organisasi jasa juga membutuhkan infonnasi biaya untuk penentuan tarif jasanya. Salah satu bagian rumah sakit yang menghasilkan banyak jasa untuk menunjang pemeriksaan adalah instalasi laboratorium. Persaingan ketal yang terjadi, pemakaian teknoJogi kesehatan yang canggih, pasien sebagai konsurnen yang menginginkan hasil pemeriksaan laboratorium yang berkualitas merupakan kondisi lingkungan kontemporer yang menunjukkan perlunya sistem akuutansi biaya baru.



Oleh karena itu penelitian ini bertujuan: (1) untuk mengetahui apakah instalasi laboratorium RS, Islam memenuhi kriteria yang diperlukan untuk penerapan sistem ABC, (2) untuk mengetahui besamya tarif pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan sistem ABC dan perbedaannya dengan sistem tradisional yang selama ini digunakan, (3) untuk mengetahui apakah sistem ABC dapat membantu manajemen rumah sakit dalam menetapkan kebijakan penentuan tarif jasa pemeriksaan laboratorium dengan memperhatikan faktor-faktor dalam pricing policy misalnya biaya, persaingan dan tanggung jawab sosia1.



Sistem ABC adalah sistem yang terdiri atas dua tahap yaitu pertama melacak biaya pada berbagai aktivitas dan kemudian ke berbagai produk. Sistem ABC menggunakan cost driver dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan sistem tradisional yang hanya menggunakan satu atau dua cost driver berdasar unit Akibatnya, sistem ABC mampu menentukan biaya produk yang lebih akurat, meningkatkan mutu pembuatan keputusan, menyempumakan perencanaan strategis, dan meningkatkan kemampuan yang lebih baik untuk mengelola aktivitas-aktivitas melalui penyempurnaan berkesinambungan.



Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa instalasi laboratorium RS, Islam Klaten berada dalam kondisi yang memenuhi syarat penerapan sistem ABC yaitu: (a)



menghadapi persaingan yang cukup ketat, (b) menghasilkan beberapa jenis produk yaitu 39 jenis pemeriksaan, ( c) menggunakan peralatan medis dengan teknologi kesehatan yang maju, (d) komposisi bia ya overhead lebih besar dibanding biaya bahan clan biaya tenaga kerja langsung yaitu 58~'(1 dari total biaya produksi, (e) kornposisi biaya overhead berlevel unit yang lebih besar yaitu 57% dari biaya overhead berlevel non unit (f) diversitas produk relatif tinggi, karena beberapa jenis pemeriksaan menggunakan peralatan medis yang sama, tetapi mengkonsumsi aktivitas-aktivitas overhead dahlin proporsi yang berbeda-beda, (g) informasi yang diperlukan untuk menentukan tarif dengan sistem ABC telah tersedia sehingga dapai dikatakan biaya pengukuran yang terjadi cukup rendah.



Uji t dengan signifikansi 5% dilakukau untuk mengetahui perbedaan tarif lama yang berlaku dengan tarif baru hasil perhitungan untuk keias T, Il dan In. Dan uji l diperoleh hasil yaitu probabilitas kelas 1 adalah 0,02 kelas 11 sebesar 0,029 dan kelas III sebesar 0,007. Hasil uji 1 tersebut berada di bawah 5% (0,05) hal jni menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara tarif lama yang berlaku dengan tarif perhitungan sistem .ABC.



Dengan pembebanan biaya yang akurat, penetapan hargajual (tarif) jasa dapat ditentukan dengan lebih tepat pula. Tarif pemeriksaan laboratorium ditentukan dengau metode cost plus pricing yang berdasarkan sistem ABC dalaru pembebanan biaya overheadnya. Penerapan subsidi silang diperlukan untuk menjalankan fungsi so sial dan ekonomi rumah sakit yaitu memberi pelayanan kepada semua lapisan masyarakat dan menghasilkan sisa hasil usaha untuk kelangsungan hidup runah sakit Untuk itu pasien kelas T dan II, harga jual (tarif) jasa direntukan dengan metode biaya penuh karena selain menutup biayanya juga member: subsidi untuk kelas III. Kelas Ill menggunakan metode biaya variabel sehingga hanya dibebani biaya variabelnya saja, karena biaya tetapnya telah disubsidi kelas 1 clan II. Dengan demikian sistem ABC dapat mernbantu manajemen rumah sakit dalam menetapkan kebijakan penentuan tarif jasa pemerikaan Iaboratorium dengan memperhatikan faktor tanggungjawab sosial, biaya dan persaingan.



Dari hasil pene1itian dapat disimpulkan bahwa sistem ABC mungkin diterapkan di instalasi RS.Islam untuk peneutuan tarif jasa pemeriksaan laboratorium sebagai pengganti sistem akuntansi biaya tradisonai yang selama ini berlaku

Kata Kunci : Penetapan Tarif jasa, Management Strategic, activity-based costing system, Cost Accounting,


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.