Laporkan Masalah

ANALISIS EKONOMI UNTUK MANAJEMEN KUALITAS AIR

USMAN, WAN, -

2014 | Disertasi | S3 Economics

Kualitas air yang rendah di aliran sungai, ditandai de¬ngan rendahnya konsentrasi oksigen terlarut (DO), tingginya konsentrasi kebutuhan oksigen biologi (BOD), sebagaimana juga halnya dengan zat tersuspensi (88). Hal ini dapat menyebab¬kan kerusakan terhadap perikanan, kesehatan dan keseimbang¬an ekologi. Perkembangan industri dan penduduk di cekungan Kali Garang Jawa Tengah, telah mengakibatkan pencemaran air, sehingga pada musim kemarau di suatu daerah dari sungai ter¬sebut, konsentrasi oksigen terlarut (DO) sangat rendahhing¬ga mencapai 0 mg/l. Cekungan kali ini dari waktu ke waktu akan terus berkembang dan kerusakan akan terus meningkat, kecuali ada suatu program yang sungguh-sungguh untuk manaje¬men kuali tas air yang dimulai dengan mencapai beberapa stan¬dar yang diusulkan. Penting sekali untuk meneruskan pertum-buhan ekonomi, dan apabila ongkos eksternal dapat dicapai dengan biaya yang minimum, maka produksi Indonesia. akan te¬tap dapat bersaing.

Tujuan studi ini adalah: (1) menemukan strategi Ongkos Total Minimum untuk pengolahan air limbah guna mencapai,ber¬bagai macam standar kualitas air; (2) untuk menentukan ke¬pekaan dari Ongkos Tot'al Minimum terhadap berbagai macam standar DO dan BOD; (3) untuk mengembangkan suatu model eko¬nomi terpadu yang memungkinkan untuk menganalisis tujuan ter¬sebut di atas antara lain: (4) membandingkan ongkos total dari strategi ini dengan strategi pengurangan persentase po¬lusi secara seragam yang biasa dilakukan oleh industri yang berlokasi di aliran sungai; (5) menentukan implikasi dari musim kemarau dan musim hujan dalam manajemen kualitas air; (6) menguji betapa penting lokasi industri terhadap kuali tas air dan implikasinya terhadap strategi manajemen kualitas air.

Metoda yang dipakai adalah dengan cara - meXlgkonstrulC$i suatu model ekonomi terpadu antara aktivitas ekonomi,pendu¬duk dan kualitas air. Model ini ditandai oleh air buangan perusahaan dan penduduk dengan alternatif pengolahan yang dipakai, dan parameter kualitas air yang dianalisis ialah BOD, COD, DO, SSe Dihimpun suatu matriks dengan 210 x 242, yang memungkinkan untuk menurunkan strategi Ongkos Total Minimum guna mencapai alternatif standar DO dan BOD pada lima mintakat (zones) dengan enam noktah (node) yakni tempat pengamatan kualitas air,termasuk daerah muara. Alternatif pengolahan adalah pengolahan tingkat satu, tingkat dua, dan "lagoon" untuk industri, dan "septictanks" untuk penduduk. Luaran perusahaan, penduduk dan beban polusi yang dihasilkan diproyeksikan dari tahun yang sudah, yang dianggap tetap un-tuk keperluan manajemen kualitas air.

Penemuan utama studi ini ialah limbah penduduk lebih penting dalam menentukan kuali tas air daripada limbah indus-ri. Yang terakhir ini menyebabkan masalah lokal, tetapi jum-lah beban penduduk yang banyak)mendesak oksigen terlarut (DO) ke tingkat yang lebih rendah pada keseluruhan sistem. Tidak mungkin mencapai standar DO yang tinggi (6 mg/l) di tempat-tempat yang rapat penduduknya. "Seperti tank" menjadi penting sebagai strategi untuk manajemen kualitas air.

Ongkos Total Minimum tidak peka terhadap penambahan standar DO untuk 2, 3, 4 mg/l. Standar yang merata sebesar 5 mg/l di semua mintakat menyebabkan ongkos naik dengan ta-jam, dan 'untuk 6 mg/l umumnya tak dapat dicapai pada musim kemarau, meskipun memungkinkan untuk mengadakan kombinasi standar 5 - 6 mg/l dengan ongkos yang sangat tinggi.

Kolam stabiliasi, (lagoon) penting untuk pengolahan air limbah industri di mintakat di mana tersedia cukup tanah de-ngan harga yang pantas. Kolam stabilisasi merupakan bentuk pengolahan pertama bagi air limbah dalam strategi Ongkos To-tal Minimum apabila standar DO naik.

Lokasi perusahaan (industri) merupakan faktor penentu yang penting untuk manajemen kualitas air dan strategi Ong-kos Total Minimum dari manajemen kualitas air. Industri tekstil yang berlokasi di mintakat II merupakan industri yang banyak mengeluarkan polusi di cekungan Kali Garang.

Dengan memindahkan industri tersebut di bagian hulu di mana DO nyata yang ada sekarang masih tinggi, demikian juga halnya dengan re-oksigenasi lebih cepat, maka dapat 'mengu-rangi ongkos untuk mencapai standar DO.

Hal ini dapat dianggap bahwa kebijaksanaan lokasi in¬dustri dapat memainkan peranan yang penting dalam manajemen kualitas air.

Beban SS menjadi tinggi dari "non-point source" pada musim hujan. Hal ini menyebabkan kenaikan ongkos pengambilan air oleh Perusahaan Air Minum Semarang untuk memproduksi air minum. Tetapi hal ini tidak disebabkan karena pengolahan perusahaan dan penduduk.

Akhirnya strategi Ongkos Total Minimum untuk manajemen kualitas air, lebih murah jika dibandingkan dengan strategi pengurangan persentase polusi secara seragam yang biasa di-gunakan oleh industri di cekungan sungai. Pada pencapaian standar yang sama yakni 3 mg/l perbedaan ongkos untuk kedua strategi tersebut 73 persen; sedangkan untuk mencapai stan-dar yang tinggi dengan strategi pengurangan persentase po-lusi secara seragam tak menghasilkan penyelesaian.

-

Kata Kunci : kualitas air, daerah aliran sungai, konsentrasi oksigen, manajemen kualitas air-


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.