Pengaruh Gaya Kepemimpinan Atasan Terhadap Kepuasan Kerja Bawahan Dengan Moderating Variable Faktor-Faktor Situasional Menurut Teori Fiedler: Pada Perusahaan Diversifikasi Usaha Margaria Group Yogyakarta
TRIASARI, KARINA. (Adv.: Sari Sitalaksmi, SE, M.MGT.), Sari Sitalaksmi, SE, M.MGT.
Efektivitas seorang pemimpin sangat mempengaruhi perilaku individu, kelompok maupun perilaku organisasi secara keseluruhan. Sedangkan sumberdaya manusia merupakan aset terbesar dalam suatu organisasi, maka kepemimpinan menjadi sangat penting bagi suatu organisasi. Karena para pemimpinlah yang dapat menggunakan kekuasaan dalam posisi jabatannya (power position) mereka secara efektif, memberikan penghargaan (reward), hukuman (punishment), serta pengaruhnya agar para karyawan yang menjadi bawahannya berperilaku sesuai dengan tujuan dan keinginan perusahaan.
Arti pentingnya kepemimpinan dalam organisasi tercermin dari munculnya bermacam-macam teori dan pendekatan. Salah satu teori yang menggunakan pendekatan kontingensi adalah Fiedler's LPC Contingency Model yang dikemukakan oleh Fred E. Fiedler dan teori ini adalah teori kepemimpinan yang pertama kali muncul. Esensi dari teori ini adalah seorang pemimpin dikatakan efektif apabila ia tidak akan terhambat oleh kepribadiannya, gaya kepemimpinannya dan oleh situasi yang ada pada kelompok-kelompok manajemen (tim) dalam perusahaannya, jika ia mampu memadankan atau mengkombinasikan secara tepat faktor-faktor situasional tersebut untuk mengarahkan pencapaian tujuan perusahaan. Fiedler mengatakan bahwa gaya kepemimpinan seorang individu itu tetap. Hal ini dikarenakan jika situasi menuntut seorang pemimpin yang berorientasi tugas dan orang yang berada dalam posisi kepemimpinan itu berorientasi hubungan, maka situasi itu hams dimodifikasi atau pemimpin digantikan jika keefektifan optimum hams dicapai. Sedangkan faktor-faktor situasional yang dimaksud adalah Posisi Kekuasaan, Struktur tugas dan Hubungan pemimpin dan bawahan. Sehingga dengan gaya kepemimpinan yang diperankan oleh seorang pemimpin bersifat tetap, maka hanya ada dua cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan efektivitas suatu kepemimpinan, yaitu: (1) Mengganti pemimpin yang gaya kepemimpinannya tidak cocok dengan situsi dan digantikan oleh individu yang gaya kepemimpinannya cocok dengan situasi yang ada. (2) Memadankan atau mengubah situasi yang ada hingga cocok dengan gaya kepemimpinan yang sedang dijalankan oleh seorang pemimpin dengan karakter kepribadian tertentu.
Permasalah pokok dalam penelitian ini adalah apakah model Fiedler dimana gaya kepemimpinan dengan dimoderati tiga faktor situasional yaitu posisi kekuasaan, struktur tugas dan hubungan pemimpin dan bawahan dapat digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan kerja bawahan, artinya apakah gaya kepemimpinan mempunyai pengaruh secara langsung terhadap kepuasan kerja bawahan, dan apakah pengaruh gaya kepemimpinan tergantung pada faktor-faktor situasional: posisi kekuasaan, struktur tugas dan hubungan pemimpin dan bawahan. Sesuai dengan teori Fiedler bahwa apabila gaya kepemimpinan cocok dengan situasi yang ada berarti pemimpin telah efektif, namun apakah dengan gaya kepemimpinan dan situasi yang telah cocok tersebut pemimpin mampu mengubah perilaku kelompok bawahan kearah perubahan positif yaitu kepuasan kerj a bawahan.
Obyek dari penelitian ini adalah perusahaan diversifikasi usaha Margaria GROUP dimana perusahaan ini memiliki bermacam-macam unit usaha yang bergerak dari berbagai macam bidang usaha, dan dari tiap-tiap unit usaha tersebut tidak memilikiketerkaitan antara satu dengan lainnya baik dari teknologi yang digunakan maupun saluran pemasarannya (unrelated diversification). Dalam penelitian ini obyek yang diambil hanya terdiri dari dua unit usaha dalam Margaria GROUP yaitu unit usaha Wisma Batik Margaria dan unit usaha Al-Fath GROUP (gabungan unit usaha Al-Fath dan Arrahma). Hal ini dikarenakan hanya kedua unit usaha tersebut yang memiliki struktur organisasi yang hampir sama dan hanya kedua unit usaha tersebut yang menerapkan gaya kepemimpinan yang bersifat tetap dari sejak berdirinya perusahaan hingga sebelum penelitian ini dilakukan. Kedua unit usaha tersebut akan diteliti secara terpisah karena keduanya memiliki pimpinan yang berbeda, struktur organisasi yang hampir sama dan memiliki satu direktur utama yang sama.
Untuk pengujian hipotesis 3 di atas digunakan model Simple Regression dari Brownell dengan keputusan menerima atau menolak hipotesis didasarkan pada uji t untuk menguji signifikansi konstanta dan variabel bebas, dimana variabel gaya kepemimpinan memiliki signifikansi di bawah 0,05. Sehingga hipotesis 3 diterima. Sedangkan untuk menguji hipotesis 4 di atas digunakan model Multiple Regression dari Brownell dengan keputusan menerima atau menolak hipotesis didasarkan pada uji t untuk menguji signifikansi konstanta dan masing-masing dari dua variabel bebas, dimana keduanya yaitu variabel gaya kepemimpinan dan variabel interaksi antara gaya kepemimpinan dengan posisi kekuasaan, struktur tugas dan hubungan pemimpin-bawahan memiliki signifikansi di bawah 0,05. Sehingga hipotesis 4 diterima.
Kata Kunci : Gaya Kepemimpinan, Kepuasan Kerja, Teori Fiedler