EVALUASI DAMPAK MASUKNYA CHINA DALAM WTO TERHADAP SEKTOR PERTANIAN INDONESIA
TRIANDARU, SIGIT (Pembimbing: DR. BUDIONO SRI HANDOKO, MA.), DR. BUDIONO SRI HANDOKO, MA.
Republik Rakyat China, di satu sisi, bila dilihat dari jumlah penduduk dan GNP-nya memang memberikan kemungkinan peluang bagi perdagangan intemasional yang dapat menguntungkan Indonesia. Namun demikian, perkembangan ekonomi China tidak hanya ditandai dengan dua hal tersebut. Proporsi pekerja di sektor pertanian yang lebih besar, proporsi GDP sektor pertanian yang lebih besar.: inflasi yang lebih rendah, nilai total ekspor yang jauh lebih besar, negara tujuan utama ekspor yang banyak kesamaannya dengan Indonesia, serta stabilitas keamanan yang relatif lebih baik menimbulkan pertanyaan tentang manfaat yang dapat diperoleh oleh Indonesia dengan masuknya ke dalam WTO.
Dari sisi topik, penelitian ini serupa dengan penelitian Walmsley dan Hertel pada tahun 2000 dengan beberapa modifikasi. Penelitian Walmsley dan Hertel menekankan pada pengaruh waktu masuknya China, dan efek masuknya China ditekankan pada perekonomian Amerika Utara dan Eropa. Penelitian ini menekankan pada pengaruh masuknya China, tanpa melihat waktunya karena untuk saat ini China sudah dipastikan masuk dalam WTO melalui kesepatan Doha, Qatar. Efek masuknya China dalam penelitian ini ditekankan pada pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia, terutama sektor pertanian. Dari sisi metodologi, penelitian ini serupa dengan penelitian Walmsley dan Hertel, yaitu menggunakan pendekatan model keseimbangan umum berupa aplikasi Computable General Equilibrium (CGE), yaitu Global Trade Analysis Project (GTAP). Perbedaannya terletak pada perumusan skenario analisis, yaitu pada agregasi sektoral, agregasi regional, dan skema penurunan tarif bagi China. Penelitian ini menggunakan versi terbaru dari GT AP yaitu GTAP Version 5. Database yang digunakan dalam versi ini didasarkan pada keseimbangan tahun 1997 dan belum pemah digunakan sebelumnya untuk
menganalisis dampak masuknya China ke dalam WTO.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa negara yang cenderung diuntungkan akibat masuknya China adalah negara maju dan negara berkembang secara umum, sementara China dan Indonesia mengalami hal yang sebaliknya. Masuknya China cenderung menguntungkan neraca perdagangan komoditi non-pertanian Indonesia, dan merugikan neraca perdagangan sebagian besar kelompok komoditi pertanian Indonesia, kecuali sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, temak, produk temak, dan produk susu.
The Peoples Republic of China, according to it's population size and GNP, does give a strong chance for international trade that benetifs Indonesia. On the other hand, China's economic development is not merely associated to the two indicators previously mentioned. The bigger proportion of worker in the agriculture sector, bigger controbution of agriculture sector to it's GDP, lower inflation rate, much bigger total export value, similiarity in export destinations (compared to Indonesia), and relatively higher national security stability creates a question about the possible benefits could be experienced by Indonesia related to the accession of China to the WTO.
The topic of this research has, therefore, something in common with Walmsley and Hertel's research in the year of 2000 plus some modifications. Walmsley and Hertel's research stressed the impact of the timing of the China's accession to the WTO, and the China's accession is seen mostly on it's impact to North America and Europe. On the contrary, this research emphasizes the impact of China's accession without considering the timing of the accession, since China accession to the WTO had been approved in the latest WTO Conference at Doha, Qatar, November 2001. The China's accession is focused on it's impact to the Indonesian economy, espesially it's agriculture sector. Methodlogically, this research is similiar to the Walmsley dan Hertel's, using general equilibrium model approach in the application of Computable General Equilibrium (CGE), Global Trade Analysis Project (GTAP). The basic difference could be found on analysis-scenario formulation, particularly on it's sectoral aggregation, regional aggregation, and the schemes of China's tariff reduction. In addition, the database used in this research is the latest one. It is the GTAP Version 5, which has not been used to analyse China's accession before.
The research comes to a conclusion that developed countries and developing countries on general are the regions experiencing benefits come from the China's accession, while China and Indonesia tend to experience the opposite situation. The China's accession tends to support balance of trade of Indonesian non-agricultural commodities, and tends to lessen most of agricultural commodities' balance of trade except fruits, vegetables, flowers, plants, vegetable materials, animal, animal products, and dairy products.
Kata Kunci : Trade, GTAP, Applied General Equilibrium Model, Agriculture, and Liberalization,Perdagangan, GTAP, Model Keseimbangan Umum Terapan, Pertanian, dan Liberalisasi