PARITAS DAYA BELI DALAM JANGKA PANJANG: STUDI KASUS NEGARA ASEAN - 4
Thomas Pramono Hadi (Adv : Prof. DR . Soedijono Reksoprajitno, M.B.A), Prof. DR . Soedijono Reksoprajitno, M.B.A.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah hipotesis Paritas Daya Beli berlaku dalam keseimbangan jangka panjang, dengan menggunakan uji akar-akar unit dan tes kointegrasi dan Dickey Fuller test dan Perron test. Asumsi yang mendasari hipotesis ini adalah bahwa barang bergerak secara leluasa sebagai akibat tidak adanya pajak dan biaya transportasi, semua barang merupakan traded goods dan pasar yang terjadi merupakan persaingan sempurna. Apabila tingkat proteksi masih terjadi dalam perdagangan antar negara, maka dapat mengakibatkan traded goods berubah menjadi nontraded goods.
Indonesia, Malaysia, Philipina dan Thailand dikenal sebagai negara yang menerapkan proteksi tinggi untuk melindungi industri dalam negeri. Kondisi yang jauh dari perdagangan bebas ini, dapat menimbulkan distorsi harga, yang pada akhirnya akan mengakibatkan tidak berlakunya Paritas Daya Beli. Hasil pengujian akar-akar unit dengan basis Dollar Amerika menunjukkan bahwa semua variabel stasioner pada derajat pertama, kecuali untuk kasus Indonesia. Pengujian kointegrasi menunjukkan bahwa natural exchange rate (LER) dan price differentials (LDP) tidak cointegrated. Selanjutnya, pengujian LER dan LDP dengan real exchange rate (RER) juga memperlihatkan bahwa variabel tersebut tidak stasioner. Hasil ini mengindikasikan bahwa hipotesis paritas Daya Beli tidak berlaku dalam jangka panjang untuk semua negara dengan basis Dollar Amerika. Di sisi lain, apabila menggunakan basis Yen Jepang, hasil pengujian menunjukkan bahwa di Malaysia, Philipina dan Thailand, memiliki kecenderungan Paritas Daya Beli akan berlaku dalam keseimbangan jangka panjang. Besarnya tingkat intervensi pemerintah dan sangat tebalnya tingkat proteksi di Indonesia, tampaknya bisa menjelaskan mengapa Paritas Daya Beli tidak dapat berlaku di Indonesia.
This research aims to test what Purchasing Power Parity can work in the long run equilibrium, by using unit roots test and cointegration test from Dickey Fuller test and Perron test. The hypothesis based on assumption that the goods move freely as a consequence of there is no tax and transportation cost, all goods are traded goods and the existing market is a perfect competition.
If protection level is still happened in the inter nations trade, so it can influence traded goods changes into nontraded goods. Indonesia, Malaysia, Philipines and Thailand are known as a country which apply a high protection for protecting domestic industry. This condition that is far from the free trade can create price distortion, that finally will cause the Purchasing Power Parity can not work. The result unit roots test by using US Dollar basis, shows that all variable are stationary on first order, except for Indonesia. Cointegration test shows that natural exchange rate (LER) and price differentials (LDP) are not cointegrated. Then, LER and LDP test with real exchange rate (RER) also shows that the variable are not stationary. This result indicates that hypothesis Purchasing Power Parity can not work in the long run equilibrium for all countries with US Dollar basis. On the other side, if Japanese Yen is operated, the result of the test shows that in Malaysia, Philipines and Thailand have preference that Purchasing Power Parity will work in the long run equilibrium. The high of goverment intervention level and the very high protection level of Indonesia, seems that it can explain why Purchasing Power Parity can not work in Indonesia.
Kata Kunci : Paritas Daya Beli, Proteksi, Uji Akar-akar Unit, Uji Kointegrasi, Purchasing Power Parity, Protection, Unit Roots test, Cointegration test