Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Skeptisisme Audito
THERESIA F. SITANALA 9Pembimbing: Dr. Supriyadi, M.Sc), Dr. Supriyadi, M.Sc
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji secara empiris pengaruh etika,
keahlian, pengalaman audit dan gender terhadap skeptisisme auditor eksternal.
Peneliti menggunakan auditor yang bekerja pada beberapa Kantor Akuntan Publik
yang berada di Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta sebagai responden penelitian.
Teknik penyampelan menggunakan convenience sampling. Data primer yang
digunakan diambil dari 127 responden dengan menggunakan kuesioner. Pengujian
hipotesis menggunakan program SPSS.
Hasil penelitian ini secara empiris juga menunjukkan bahwa dari empat
hipotesis penelitian yang diajukkan, hanya satu hipotesis yang tid ak terdukung,
artinya semakin tinggi level etika maka semakin tinggi pula skeptisisme auditor,
semakin ahli dan semakin berpengalaman maka semakin tinggi pula skeptisisme
auditor dan gender tidak mempengaruhi skeptisisme auditor eksternal. Hasil
penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi Kantor akuntan Publik untuk dapat
menggunakan hasil penelitian ini sebagai acuan dalam menentukan kebijakan
perekrutan auditor dan menentukan staff yang akan ditunjuk dalam melaksanakan
audit. Dan juga untuk pengembangan literatur, penelitian ini dapat menambah wacana
keilmuan dan sebagai referensi bagi peneliti yang lain yang tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai perilaku auditor yang berhubungan dengan peningkatan kualitas
audit khususnya terkait skeptisisme auditor.
Present research is proposed to examine empirically the influences of ethic,
expertise, audit experience and gender over external auditor skepticism. Auditors who
work at several Public Accountant Bureaus in Surabaya, Yogyakarta and Jakarta City
are involved as research respondents.
Technical sampling is performed using sampling convenience. 127
respondents are asked to fill questioner which taken as primary data. Hypothetical
analysis is performed by SPSS program.
Empirically, the result presents that only one of four hypotheses proposed is
unsupported. This suggests that the higher ethical level, the higher auditor skepticism
will be; the higher auditor expertise and experiences, the higher their skepticism; and
gender is founded uncorrelated with external auditor skepticism. This result can be
takes as reference in determining auditor recruitment policy and staff appointment in
performing audit. And as literature extension, this research can enrich the course and
as reference of other researcher that interest in performing similar study on auditor
behavior linked to audit quality improvement, auditor skepticism for particular.
Kata Kunci : auditor skepticism, ethic, expertise, experience, gender, skeptisisme auditor, etika, keahlian, pengalaman