Laporkan Masalah

The Analysis Of Make Or Buy Decision In The Oil Procurement Activities In PT PERTAMINA (PERSERO)

SYAIFULLOH, ARYO FAJAR (Adv.: Rangga Almahendra, Dr., S. T., M. M.), Rangga Almahendra, Dr., S. T., M. M.

2015 | Tesis | S2 Magister Management

Kondisi tingginya tingkat konsumsi bahan bakar, turunnya produksi lifting minyak mentah Pertamina dan kapasitas kilang pengolahan Pertamina yang tidak bertambah mengakibatkan kebutuhan dalam negeri akan bahan bakar tidak dapat terpenuhi sepenuhnya, sehingga harus diadakan melalui proses import yang mengakibatkan beban subsidi menjadi tinggi.Bank Dunia menyarankan agar Pertamina dapat menambah infrastruktur guna menurunkan jumlah impor dan besarnya subsidi.

Dalam kaitannya dengan pengadaan bahan bakar minyak, peneliti bersama dengan para ahli menyusun tiga buah skenario yaitu: (1) Pertamina membangun kilang minyak dan menjalankan kegiatan pengolahan minyak, (2) Pembangunan kilang minyak dan pengolahan minyak mentah dilakukan oleh pihak swasta, (3) Pertamina melakukan pengadaan dengan mekanisme impor.

Ketiga skenario tersebut kemudian dianalisis menggunakan studi kelayakan keuangan untuk melihat skenario mana yang memiliki nilai investasi yang paling baik. Selain itu, dikarenakan banyaknya faktor yang mempengaruhi pemilihan skenario-skenario tersebut maka penelitian ini menggunakan metode Multiple Criteria Decision Analysis (MCDA).

Berdasarkan analisa kelayakan keuangan, didapatkan hasil bahwa skenario dimana Pertamina membangun kilang serta melaksanakan pengolahan minyak memiliki nilai investasi yang paling baik (NPV tertinggi). Berdasarkan analisa MCDA yang dilakukan bersama dengan para ahli, didapatkan hasil bahwa skenario dimana pihak swasta membangun kilang minyak dan juga melaksanakan pemrosesan minyak mentah memiliki nilai yang tertinggi. Dikarenakan MCDA mempertimbangkan berbagai faktor (tidak hanya faktor keuangan saja), maka hasil yang didapat melalui analisa MCDA menjadi rekomendasi yang dihasilkan melalui penelitian ini kepada Pertamina.

High levels of fuel consumption, the decline in crude oil lifting production and a stagnant Pertaminas refinery capacity cause to the fuel shortage, which must be procured through the import process that resulted in high subsidy. World Bank suggested that Pertamina should build more infrastructures (refinery) in order to reduce the amount of fuel products import to reduce the amount of subsidy.

In relation to the procurement of fuel, researchers along with experts construct three scenarios, they are: (1) Pertamina to build refinery and operate crude oil processing, (2) Construction of an oil refinery and a crude oil processing done by the private sector, (3) Pertamina import the fuel products.

These three scenarios are then analyzed using the financial feasibility study to see which scenario has the best investment value. In addition, because there are many factors that influence the selection of these scenarios, this research method Multiple Criteria Decision Analysis (MCDA).

Based on the financial feasibility analysis, showed that the scenario in which

Pertamina to build the refinery and operate the crude oil processing has the best investment value (highest NPV). Based on MCDA that conducted with experts, showed that the scenario in which the private sector to build the refinery and operate crude oil processing has the highest score. Due MCDA considering various factors (not just financial factor only), then the results obtained through the analysis of MCDA become a recommendation for Pertamina.

Kata Kunci : crude oil, fuel procurement, fuel (gasoline), refinery, Pertamina, financial feasibility studies, Multiple Criteria Decision Analysis (MCDA), minyak mentah, pengadaan bahan bakar


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.