Analisis formasi keterkaitan, pola kluster dan orientasi pasar: studi kasus sentra industri keramik di Kasongan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta
Supomo, Irwan Adimaschandra. (Adv. Dr. Mudrajad Kuncoro, M.Soc.Sc.), Dr. Mudrajad Kuncoro, M.Soc.Sc.
Fenomena kluster telah menarik perhatian para ekonom untuk terjun dalam studi masalah lokasi sehingga memunculkan paradigma lama yang disebut geografi ekonomi baru (new economic geograph atau geographical economics) (Fujita & Thiesse. 1996: Krugman. 1995; Kuncoro. 2002; Lucas 1988). Argumentasi ini dikuatkan kembali oleh Michael Porter (1998), bahwa peta ekonomi dewasa ini didominasi oleh apa yang dinamakannya kluster (cluster). Hal senada juga ditegaskan oleh Kuncoro (2002) bahwa industri cenderung beraglomerasi di daerah-daerah di mana potensi mereka mendapat manfaat akibat lokasi perusahaan yang saling berdekatan.
Dalam kaitannya dengan UKM, pertumbuhan UKM mulai menjadi topik yang cukup hangat sejak munculnya thesis flexible specialization pada tahun 1980-an, yang didasari oleh pengalaman-pengalaman dari sentra-sentra Industri Skala Kecil (ISK) dan Industri Skala Menengah (ISM) di beberapa negara di Eropa Barat, khususnya Italia (Tambunan. 1999). Menurut Tambunan, pengalaman inj menunjukkan bahwa Industri Skala Kecil di sentra-sentra dapat berkembang Iebih pesat, Iebih fleksibel dalam menghadapi perubahan pasar, dan dapat meningkatkan produksinya daripada Industri Skala Keci1 secara individu di luar sentra.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentitikasi pola Kluster Keramik Kasongan menurut Markusen. formasi keterkaitan (linkage formation) dan mencari fak1or-taktor yang mempengaruhi orientasi pasar (domestik atau ekspor) industri keramik. Kasongan. Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta.
Untuk uji hipotesis analisis faktor-faktor penentu orientasi pasar, penelitian ini menggunakan model ekonometri Regresi Logistik dengan bantuan program SPSS 10.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut:
Pertarna, bahwa po1a Kluster Keramik Kasongan merupakan gabungan antara po1a Marshallian dan Hub and Spoke. Kedua, bahwa terjadi keterkaitan yang erat baik antara pemasok, produsen keramik. maupun pembeli. Ketiga, bahwa terdapat empat faktor signifikan yang menyebabkan probabilitas untuk berorientasi pasar ekspor semakin besar, yaitu keaktifan promosi, penerapan teknologi pembakaran, jumlah tenaga kerja yang direkrut dan umur perusahaan.
Memasuki perdagangan bebas terutama AFTA 2003, maka sudah sepatutnya sentra industri keramik Kasongau dikembangkan menjadi Iebih efektif dan global market oriented, bukan lagi social dan political oriented dengan tujuan semata-mata untuk mengurangi kesenjangan (meminjam istilah Tambunan). Oleh karena itu, penulis menyarankan perlunya suatu jaringan bisnis (network) yang kuat yang melibatkan pihak-pihak yang berkaitan demi pengembangan sentra industri keramik Kasongan secara optimal
Kata Kunci : Pola kluster, Orientasi pasar, Industri keramik, Kasongan Bantul