Strategi efisiensi industri tekstil di Indonesia: Pendekatan Spasial
Sunaryadi , Dr. Arief Ramelan Karseno, MA
Industri tekstil pada pertengahan 1970-an sampai dengan tahun 1990 menunjukkan perkembangan yang pesat. Tetapi, pada dekade tahun 1990-an mengalami perkembangan yang fluktuasi. Kondisi ini membutuhkan pengamatan yang mendetail untuk mengetahui permasalahan industri tekstil tersebut. Pengamatan yang dilakukan adalah antar lokasi kabupaten dan kota. Tujuannya agar kondisi lokasi dapat diamati secara baik. Selanjutnya, kebijakan yang diambilpun dapat mempertimbangkan secara spesifik dengan menggunakan aeuan lokasi.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah periode tahun 1995, yang merupakan data terakhir pada saat penelitian ini dilakukan, terutama terkait dengan survey industri pengolahan menengah dan besar. Metodologi yang dipakai dalam peneJitian ini adalah Efisien DEA, Sistim Informasi Geografi (SIG), dan Regresi Cross Section. Berdasarkan analisis DEA dan SIG menunjukkan bahwa lokasi industri tekstil yang efisien jika disekelilingnya terdapat lokasi industri yang sama atau cluster. Sedangkan, berdasarkan analisis regresi cross section menunjukkan bahwa industri tekstil pada tahun ini berada pada kondisi yang tidak efisien. Hal ini terlihat dari efisiensi DEA yang negatif dan variable makro sendiri tidak signifikan.
In mid 1970s until 1990s Indonesian textiles industry has been showed growing fast. But, in 1990s decade grew fluctuation. Those condition need to investigate with detail problem textiles industry. The investigation uses concept between textiles industrial location of municipality/regency. This aim of condition location can be seemed well. So, policy can be made specifically at the location.
Data period this research is 1995, that's latest data at term of making research. This research Methodology vehicles DEA Efficiency, Geographic Information System, and Regression Cross Section. Based on DEA and GIS have been showed that efficiency of textiles location industrial significant with cluster existence. While, based on regression, textiles industry is not efficient, because DEA variable is negative. The other side, macro variable is not significant to value added.
Kata Kunci : fluktuasi, efisiensi antar lokasi, efisiensi dalam lokasi, kebijakan antar lokasi, kebijakan dalam lokasi, fluctuation, efficiency between location, efficiency in the location, policy between location, and policy in the location.