Laporkan Masalah

Perbandingan Efisiensi Badan Usaha Milik Negara dan Swasta Studi Kasus Pada Industri Semen di Indonesia

SUHAIRI (Pembimbing): Dr. Bambang Sudibyo, MBA., Dr. Bambang Sudibyo, MBA,

2015 | Tesis | S2 Accounting

ABSTRAKSI

Banyak pengamat ekonomi yang menyatakan bahwa perusahaan negara di Indonesia (BUMN) merupakan usaha yang inefisien. Namun demikian, masih jarang penelitian empiris yang dilakukan guna membuktikan hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara empiris tentang efisiensi relatif dari perusahaan swasta dan BUMN yang menghasilkan semen di Indonesia. Di camping itu, penelitian ini juga ingin mengetahui pengaruh perbedaan harga jual semen di dalam negeri dengan luar negeri terhadap indeks efisiensi ekonomik perusahaan. Sampel sejumlah 6 perusahaan ditarik dari populasi 10

perusahaan yang beroperasi pada saat penelitian. Indeks efisiensi perusahaan ditentukan untuk 12 periode akuntansi (1977-1988), dan kemudian dikelompokkan sesuai dengan pemilikan perusahaan. Dalam penelitian lapangan, data dari salah satu perusahaan swasta yang terpilih sebagai sampel gagal diperoleh. Oleh karena itu, pengujian tingkat efisiensi perusahaan dalam penelitian ini dilakukan untuk indeks-indeks efisiensi dari 2 perusahaan swasta dan 3 BUMN. Tingkat efisiensi perusahaan ditentukan berdasarkan ukuran efisiensi akuntansi dan efisiensi ekonomik. Ukuran efisiensi akuntansi tersebut meliputi return on equity, return on assets, dan return on permanent capital. Ukuran efisiensi ekonomik atau produktivitas ditentukan berdasarkan produktivitas total dan produktivitas parsial; produktivitas kapital, produktivitas bahan baku, produktivitas bahan bakar, dan produktivitas tenaga kerja. Pengujian tingkat efisiensi perusahaan dilakukan dengan menggunakan analisis selisih 2 means atau t test, pada tingkat siknifikansi 0,05, dengan memperhatikan asumsi-asumsi yang melandasi uji selisih 2 means tersebut. Pengujian •selisih 2 means untuk indeks-indeks efisiensi akuntansi tidak dapat dilakukan, karena distribusi normal indeks efisiensi akuntansi perusahaan swasta ditolak pada tingkat siknifikansi 0,05. Sebaliknya, seluruh indeks efisiensi ekonomik dari perusahaan swasta dan BUMN dapat diterima pada tingkat siknifikansi 0,05; kecuali produktivitas tenaga kerja pada harga riil yang diukur berdasarkan rupiah tenaga kerja, dan produktivitas bahan bakar pada harga ekspor. Hasil pengujian selisih 2 means terhadap indeks efisiensi ekonomik baik pada harga jual riil maupun pada harga jual ekspor menunjukkan, seluruh ukuran produktivitas parsial dan produktivitas total menghasilkan t hitung yang lebih besar daripada t tabel (2,9685, a = 0,05, 0 = 0,90), kecuali untuk produktivitas bahan baku. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perusahaan swasta lebih efisien

-daripada BUMN. Indeks efisiensi ekonomik pada harga jual riil lebih besar daripada indeks efisiensi ekonomik pada harga jual ekspor. Perbedaan indeks efisiensi tersebut berkisar antara 51,10% sampai 77,87% dari indeks efisiensi ekonomik pada harga riil. Hal ini berarti bahwa kebijakan pemerintah dalam menetapkan patokan harga jual semen di Indonesia mengakibatkan lebih tingginya indeks efisiensi ekonomik perusahaan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa industry semen di Indonesia dalam periode 1977-1988 mendapat

subsidi dari masyarakat melalui pembayaran yang lebih mahal untuk setiap ton semen yang dikonsumsinya.

ABSTRACTS

Some economists state that Indonesian Public Companies are inefficient. However, empirical research is rarely done to verify them. This research is intended to compare empirically between the relative efficiency of Private and Public Cement Companies in Indonesia. It is also intended to measure the impacts of selling price difference between domestic and foreign market on efficiency indices of the companies. A sample of 6 out of 10 companies in the population was drawn. Efficiency indices are determined for 12 accounting periods (1977-1988), and then are grouped according to company ownership categories -- private and public. In the field, one of the private company included in the sample refused to provide the data. Therefore, indices are computed and tested based on only 2 private and 3 public corporations. Efficiency indices are computed for both accounting and economic efficiency. Accounting indices include return on equity, return on assets, and return on permanent capital. Economic indices consist of total productivity and partial productivity, that is capital productivity, materials productivity, fuel productivity and labour productivity. The relative efficiencies of the private and public companies were tested using the statistical technique of "difference between 2 group means test", after the assumptions underlying the test were satisfied. The test on relative

accounting efficiency could not be done because of the failure to satisfy the normality assumption. Therefore, test were done only on relative economic efficiency, except for wage productivity based domestic price and fuel productivity based on border price, due also to the failure to satisfy the normality assumption. The research found that for all relative economic efficiency tests the t-statistic was greater than the critical t-value of 2,9685 for a = 0,05 and 0 = 0,90, except for materials productivity. Therefore, it can be concluded that private cement companies are more efficient than public

cement companies. The economic efficiency indices based on domestic

prices are much greater than the ones based on border prices. The differences range from 51,10% up to 77,87% of the domestic prices. This means that ceilling prices for cement determined by the Government are too high, or that they are subsidized too much by domestic consumers.


Kata Kunci : Relevansi Konsep Ekuitas dalam Pengukuran Efisiensi, Efisiensi dan Produktivitas


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.