Interaksi Kebijakan moneter Dan Fiskal Di Indonesia: 1984-2008
SANTOSO, WIJOYO (Adv.: Prof. Dr. Insukindro, M.A.; Prof Dr. Miranda Swaray Goeltorn, M.A), Prof. Dr. Insukindro, M.A.; Prof Dr. Miranda Swaray Goeltorn, M.A
Disertasi ini bertujuan mengetahui effetivitas interaksi kebijakan moneter dan kebijakan fiskal dalam menghadapi goncangan inflasi dan goncangan output: apakah lebih efektif dengan koordinasi (kebijakan fiskal sebagai variabel endogen) atau tanpa koordinasi (kebijakan fiskal sebagai variabel eksogen). Selain itu, disertasi ini akan mengidentifikasi arah interaksi kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia dalam menghadapi goncangan inflasi dan goncangan output: apakah saling memperkuat (komplemen) atau saling menggantikan (substitusi). Dalam disertasi ini juga akan dilakukan simulasi terhadap respon kebijakan moneter dan fiskal dalam menghadapi goncangan inflasi dan output dengan memberikan variasi bobot pada suku bunga dan output dan dan memisahkan antara kebijakan fiskal endogen dan eksogen. Selanjutnya, akan diukur apakah interaksi kebijakan moneter dan kebijakan fiskal dalam menghadapi goncangan inflasi dan goncangan output sudah optimal atau belum. Penelitian mengenai interaksi kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia menggunakan landasan teori New Keynesian yang memiliki elemen-elemen sesuai dengan karakteristik perekonomian Indonesia. Pnelitian mengenai interaksi kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia dalam disertasi ini dilakukan dengan membangun model DSGE yang merupakan keseimbangan umum yang dinamis yang mengandung elemen forward dan backward looking dan ingin menjelaskan perilaku dinamis perekonomian pada model keseimbangan dan bagaimana reaksinya terhadap perubahan variabel. eksogen dan goncangan. Selain itu, model DSGE adalah model antar-waktu (intertemporal) dan forward looking artinya keputusan sekarang dipengaruhi oleh ekspektasi mendatang sehingga model DSGE menggunakan optimisasi dinamis antar waktu. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam menghadapi goncangan inflasi dan goncangan output, kebijakan moneter dan fiskal sebaiknya berkordinasi karena karena memberikan kerugian sosial yang lebih kecil dibandingkan tanpa koordinasi. Interaksi atau koordinasi kebijakan moneter dan fiskal dalam menghadapi goncangan inflasi sudah efektif dibandingkan menghadapi goncangan output. Respon kebijakan moneter dan fiskal terhadap goncangan inflasi dan goncangan output secara bersama- sama terbukti juga belum optimal karena nilai fungsi kerugian dengan parameter hasil estimasi lebih besar dibandingkan fungsi kerugian dengan kombinasi parameter suku bunga dan pengeluaran pemerintah. Untuk mencapai interaksi kebijakan moneter dan fiskal yang optimal varian suku bunga perlu dijaga seminimal mungkin relatif terhadap varian output. Interaksi kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia saling subtitusi atau komplementer dipengaruhi oleh tipe goncangan.
This disertation is aimed at identifying the direction of monetary and fiscal policies in a way of responding toward inflation and output shocks: are monetary and fiscal policies complementary or substitute one another?. Furthermore, this research is designed to prove empirically that coordination (endogenous fiscal policy) between monetary and fiscal policies is better than that without coordination (exogenous fiscal policy) in answering to inflation and output shocks. By minimizing loss function, interaction of monetary and fiscal policies in coping with inflation and output shocks is further simulated through giving some variation of weight on interest rate and output and considering two type of fiscal policies (endogenous anad exogenous), then identifying the lowest loss function as the most optimal policy interaction indicator. As theoretical background, this disertation applies New Keynesian approach because it provides some elements in corresponding to the charateristics of Indonesian economy. To answer the goal of this disertation, Dynamic and Stochastic General Equilibirum or DSGE is used to explain dynamic behaviour of economic agents in responding to economic shocks. DSGE is inter-temporal dynamic optimization dan forward looking model, combined with monetary and fiscal rule. Finally this disertation concludes that in coping with inflation and output shocks, monetary and fiscal policies must coordinate as they produce smaller social welfare loss as compared to that without coordination. In dealing with output shocks, interaction monetary and fiscal polices is better than in dealing with inflation shocks. This is indicated with a lower social welfare loss in managing output shocks as compared to inflation shocks. This implies that in handling inflation shocks, coordination between monetary and fiscal policies should be enhanced more effetively. To minimize social welfare loss, interest rate variation should be maintained at a minimum level relative to output variation. Policy simulation is further exercised using parameters related to interest rate and government expenditure within the loss function equation. These parameter combinations generate lower social welfare loss as contrast to using estimated paramaters. This simulation means that in responding to inflation and output shocks, better coordination between monetary and fiscal policy may gain more social welfare. Whether the interaction of monetary and fiscal policy tends to be complementary or subtitute depends on type of shocks.
Kata Kunci : effetivitas interaksi kebijakan moneter, kebijakan fiscal, inflasi, pengeluaran pemerintah, kebijakan fiskal sebagai variabel endogen, kebijakan fiskal sebagai variabel eksogen, model DSGE, model antar-waktu (intertemporal) dan forward looking.