Analisis Kinerja Keuangan Perbandingan Antara Daerah Induk dan daerah Pemekaran
ROHMAD YULIANTORO (Pembimbing:Eko Suwardi, Dr., M.Sc.), Eko Suwardi, Dr., M.Sc.
Penelitian ini menguji perbedaan kinerja keuangan antara daerah induk dengan daerah pemekaran. Kinerja keuangan dalam penelitian ini adalah tingkat desentralisasi, tingkat kemandirian daerah, rasio belanja modal dan tingkat kemampuan pembiayaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis: perbedaan kinerja keuangan antara daerah induk dengan daerah pemekaran
Obyek dari penelitian ini yaitu kabupaten atau kota yang menjadi daerah induk dan kabupaten atau kota yang menjadi daerah pemekaran. Periode pemekaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah periode tahun 1999-2004. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 48 daerah induk dan 49 daerah pemekaran diseluruh Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa laporan realisasi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) periode tahun anggaran 2005-2007. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Independent Sample t Test dari program SPSS for Windows, dengan tingkat signifikansi 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) secara signifikan tingkat desentralisasi daerah induk lebih baik dibandingkan daerah pemekaran, (b) secara signifikan tingkat kemandirian daerah induk lebih baik dibandingkan daerah pemekaran, (c) tidak ada perbedaan signifikan tingkat kemampuan pembiayaan antara daerah induk dengan daerah pemekaran, dan (d) secara signifikan rasio belanja modal daerah pemekaran lebih baik dibandingkan daerah induk.
This research tested the difference of financial performance between parent areas and new autonomy areas. The financial performances that meant in this research were degree of decentralization, level of independence, capital expenditure ratio, and level of financing capability. The aim of this research was to analyze the difference of financial performance between parent area and new autonomy area.
The objects in this research were districts or cities that become parent areas and districts or cities that become new autonomy areas. The division period that used in this research was in the year of 1999-2004. Samples that used in this research were consists of 48 parent areas and 49 new autonomy areas. Data that used in this research is local government revenues and expenditures budget realization report in the period of 2005-2007. Data analysis performed using independent sample t test from SPSS for window program. Level of significance that used in this research was 5%.
Result of this research showing that a) parent areas degree of decentralization significantly better than new autonomy areas, b) parent areas level of independence significantly better than new autonomy areas, c) no significant difference of financing capability level both parent areas and new autonomy areas and d) new autonomy areas capital expenditure ratio significantly better than parent areas.
Kata Kunci : parent areas, new autonomy areas, regional financial performance, degree of decentralization, level of independence, financing capability level, capital expenditure ratio, daerah induk, daerah pemekaran, kinerja keuangan daerah, tingkat desentralisasi, ti