Pengaruh Loyalitas Dan Retaliasi Terhadap Kecenderungan Akuntan Untuk Melakukan Whistleblowing: Suatu Eksperimen
RIDWAN, MUHAMMAD (Adv.: Bambang Riyanto L.S., Dr., M.B.A.), Bambang Riyanto L.S., Dr., M.B.A.
Studi ini melalui eksperimen menguji pengaruh tingkat loyalitas dan kekuatan retaliasi terhadap kecenderungan akuntan untuk melakukan whistleblowing (PBW) tatkala mereka dihadapkan pada penyimpangan-penyimpangan yang serius. Dihipotesiskan bahwa individu dengan tingkat loyalitas yang lebih tinggi akan lebih cenderung untuk melakukan whistleblowing daripada individu dengan tingkat loyalitas yang lebih rendah. Di samping itu, dihipotesiskan pula bahwa individu yang menghadapi retaliasi yang lemah akan lebih cenderung untuk melakukan whistleblowing daripada individu yang menghadapi retaliasi yang kuat. Tujuh puluh mahasiswa yang terdaftar pada program pascasarjana jurusan akuntansi pada dua universitas di Indonesia dan sedang bekerja berpartisipasi dalam studi ini. Para partisipan menjawab tiga skenario hipotetis tentang whistleblowing pada salah satu dari dua kondisi, yaitu retaliasi kuat atau lemah, dan kemudian menyelesaikan instrumen yang mengukur loyalitas. Studi ini menguji hipotesis dengan menggunakan desain 2x2 between subjects. Berbeda dengan teori filosofis oleh Larmer (1992), Corvino (2002), dan Vandekerckhove dan Commers (2004), studi ini secara empiris menemukan bahwa tingkat loyalitas tidak mempengaruhi PBW partisipan. Dengan kata lain, studi ini gagal memperoleh bukti empiris akan pengaruh tingkat loyalitas terhadap PBW. Di samping itu, berbeda dengan hasil yang diperoleh Arnold dan Ponemon (1991) dan Liyanarachchi dan Newdick (2009), tidak ditemukan pengaruh kekuatan retaliasi yang signifikan terhadap PBW partisipan.
This study experimentally examines the effect of loyalty level and retaliation strength, on accountants’ propensity to blow the whistle (PBW) when faced with a serious wrongdoing. It is argued that individuals with higher levels of loyalty are more likely to blow the whistle than are individuals with lower levels of loyalty. Besides, it is expected that individuals facing a weak retaliation are more likely to blow the whistle than are individuals facing a strong retaliation. Seventy working students enrolled in post-graduate of accounting program in two Indonesia universities participated in the study. Participants responded to three hypothetical whistle-blowing scenarios on one of two conditions –i.e., strong or weak retaliation for whistleblowing, and completed an instrument that measured loyalty. This study examines the arguments using the 2x2 between subjects design. Unconsistent with the philosophical theory of Larmer (1992), Corvino (2002), and Vandekerckhove and Commers (2004), this study empirically finds that the level of loyalty does not affect their PBW. In other words, this study fails to obtain empirical evidence about the effect of loyalty level on PBW. Besides, unlike results reported by Arnold and Ponemon (1991) and Liyanarachchi and Newdick (2009), a significant effect of retaliation strength on participants’ PBW is not found.
Kata Kunci : whistleblowing, propensity to blow the whistle (PBW), loyalty,retaliation, loyalitas, retaliasi