Relevansi Manajemen Laba dengan Valuasi Perusahaan yang berdasarkan Teori Surplus Bersih Model Ohlson
RAHADIAN ILHAMI AKBAR (Pembimbing: Drs. Sumiyana, M.Si), Drs. Sumiyana, M.Si
Akuntansi menghasilkan sebuah laporan keuangan. Laporan keuangan dijadikan sebagai dasar bagi pihak eksternal dalam membuat suatu keputusan ekonomik. Manajemen laba membuat laporan keungan menjadi bias. Penelitian ini dirancang untuk dapat menguji apakah nilai perusahaan yang melakukan manajemen laba nilai perusahaannya akan tetap tinggi bila dinilai dengan metode valuasi surplus bersih model Ohlson.
Sample penelitian diambil dari perusahaan manufaktur yang melakukan perdagangan saham secara terbuka di BEI dengan kriteria terdaftar pada tahun 2003-2007, laba bersih positif, harga saham tidak turun dan melakukan manajemen laba. Variabel laba abnormal akan diuji dengan model regresi linier untuk dapat menarik kesimpulan dari hipotesis yang diajukan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa laba abnormal signifikan digunakan sebagai variabel untuk menilai perusahan menggunakan model Ohlson. Dengan demikian, perusahaan yang melakukan manajemen laba tetap dapat diukur nilainya dengan baik walaupun manajemen laba membuat laporan keuangan menjadi bias.
Accounting provides financial report. A financial report is then used as a basic for the external parties on creating an economics decision. Earnings management then makes the financial report becomes bias. This research is designed to test whether company that uses earning management will still have a high company value based on clean surplus theory valuation method, the Ohlson Model.
The sample of this research was taken from manufacture company which is listed on the stock market and trade their stock openly between 2003-2007, had positive income, the stocks price doesnot decrease between 2003-2007, and also uses earnings management. Abnormal earnings will be tested with linear regression to get a conclusion from the hypothesis.
The result from the research shows that abnormal eranings is proven significant to be used as variable to score a company based on the Ohlson Model. This means that the company that does the earnings management can still be scored accordingly although earning management makes the financial report become bias.
Kata Kunci : manajemen laba, akrual diskritioner, valuasi perusahaan, model Ohlson, earnings management, discretionary accruals, company valuation, the Ohlson Model