Laporkan Masalah

Pengaruh Aspek Budaya Power Distance, Uncertainty Avoidance, Individualism and Collectivism serta Masculinity and Feminity terhadap Praktek Kompensasi: studi kasus pada grup-grup wayang kulit di Yogyakarta

Permana, Ariya, Drs. M. Irfan Nursasmito, M.Si., Ak.

2007 | Skripsi | S1 Extention - Accounting

Wayang kulit sebagai sumber budaya maupun produk budaya tidak dapat dipungkiri masih bertahan hidup ditengah masyarakat Indonesia khususnya Jawa. Sebagai sebuah pertunjukan, pergelaran wayang kulit tak ubahnya seperti perusahaan yang sedang menjalankan aktivitas bisnisnya. Seperti halnya sebuah entitas bisnis, pengelolaan sumber daya manusia dalam sebuah grup wayang kulit juga sangat diperlukan karena tanpa adanya sumber daya manusia yang baik, sebuah pertunjukan wayang kulit yang bagus tidak akan pernah terjadi. Penelitian ini akan lebih menitikberatkan pada praktik kompensasi secara keseluruhan sebagai salah satu praktik yang dilakukan didalam organisasi seni khususnya grup wayang kulit dalam menerima suatu tanggapan pergelaran. Dengan alasan tersebut dilakukan penelitian mengenai pengaruh aspek budaya power distance, uncertainty avoidance, individualism and collectivism serta masculinity and feminity terhadap praktek kompensasi. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah power distance, uncertainty avoidance, individualism and collectivism serta masculinity and feminity sebagai variabel independen. Sedangkan variabel dependennya adalah praktek kompensasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari aspek budaya power distance, uncertainty avoidance, individualism and collectivism serta masculinity and feminity terhadap praktek kompensasi yang dilakukan oleh grup kesenian wayang kulit di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dengan menggunakan metoda kuisioner dimana para responden diminta untuk mengisi kuisioner yang telah disediakan. Kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini, sebelumnya telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan hasil validitas dan reliabilitas yang tinggi. Sampel yang diambil adalah orang-orang yang diketahui berperan sebagai Niyaga, Sinden dan Wiraswara dalam pertunjukan wayang kulit.



Analisis data dilakukan dengan menggunakan linear regresion dan multiple linear regression. Hasil t-test menunjukkan bahwa power distance, uncertainty avoidance, serta masculinity and feminity mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap praktek kompensasi. Sedangkan individualism and collectivism tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap praktek kompensasi. Hasil dari F-test menunjukkan bahwa power distance, uncertainty avoidance, individualism and collectivism serta masculinity and feminity secara simultan (bersama-sama) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap praktek kompensasi.

Either culture source or culture product, leather puppet performance has successfully maintained its existence among Indonesian society particularly in Java. As an art performance, considerably puppet show portrays a company that is running its business activities. Much like a business entity, human resources management within a group of puppet performance is strongly needed because without good human resources, a puppet performance will not be well-established to happen. This research is undertaken to focus on overall of compensation practices as one of practices which is carried out in an art organization especially group of puppet performance in taking an invitation to perform. Along with the reason, a research is conducted to expose external influences such as power distance, uncertainty avoidance, individualism and collectivism as well as masculinity and femininity toward compensation practices. Variables used in this research are power distance, uncertainty avoidance, individualism and collectivism as well as masculinity and femininity considered as independent variables whereas compensation practices are dependent variables. The research is aimed to acknowledge the influence occurred from cultural aspects of power distance, uncertainty avoidance, individualism and collectivism as well as masculinity and femininity toward compensation practices that are undergone by groups of puppet performance in Yogyakarta. This research is using primary data obtained by distributing questionnaires in which those respondents are required to fill the questionnaires addressed. Questionnaires used have been examined under validity and reliability tests with high scores as final results. Samples targeted are niyaga (gamelan players), sindhen (women singers) and wiraswara (men singers) within puppet shows. Data analysis is conducted by using linear regression and multiple linear regressions. The results of t-test indicate that power distance, uncertainty avoidance as well as masculinity and femininity have significant influences toward compensation practices. Meanwhile individualism and collectivism do not have significant influences toward compensation practices. The results of F-test show that power distance, uncertainty avoidance, individualism and collectivism as well as masculinity and femininity simultaneously have significant influences toward compensation practices.

Kata Kunci : Budaya Power Distance; Uncertainty Avoidance; Individualism; Collectivism; Masculinity; Feminity; Praktek Kompensasi; Wayang Kulit


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.