Analisis Valuasi Ekonomi Pencemaran Air terhadap Kesehatan Masyarakat Yogyakarta: studi kasus sungai Winongo
Nugroho, Hatta, Heni Wahyuni, S.E., M.Ec.
2008 | Skripsi | S1 EconomicsPencemaran lingkungan merupakan bentuk dari proses penurunan kualitas lingkungan hidup yang dapat direfleksikan dengan menurunnya tingkat kesehatan masyarakat. Penelitian dengan judul "Analisis Valuasi Ekonomi Pencemaran Air Terhadap Kesehatan Masyarakat Yogyakarta" studi kasus : Sungai Winongo merupakan penelitian tentang pengaruh pencemaran air yang berasal dari limbah domestik yang mengandung Bakteri Total Coli dan zat beracun lain terhadap kesehatan masyarakat. Penurunan kualitas kesehatan masyarakat akan menimbulkan biaya ekonomi bagi setiap individu untuk mengantisipasinya. Kotamadya Yogyakarta merupakan tempat berdomisili masyarakat dengan kepadatan yang tinggi. Banyak dari masyarakatnya tidak memiliki tempat pengolahan air limbah. Air limbah tersebut sering disebut air limbah domestik. Padatnya perumahan penduduk di kotamadya yogyakarta akan mengakibatkan konsentrasi pencemaran air di daerah tersebut akan meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pencemaran air terhadap kesehatan masyarakat di Kotamadya Yogyakarta dan nilai biaya sosial sebagai willingness to pay (WTP) masyarakat dalam menjaga kualitas kesehatannya. Dalam usaha mencapai tujuan penelitian dan menguji hipotesis, digunakan metode willingness to pay (WTP) dan didukung juga dengan metode penghitungan secara statistic. WTP untuk kesehatan nilainya sama dengan jumlah pengeluaran untuk menjaga tubuh tetap sehat. Metode willingness to pay (WTP) merupakan penilaian ekonomi dari biaya kesehatan biaya kesehatan akibat pencemaran air. Penghitungan dan penilaian moneter (ekonomi) dari biaya kesehatan akibat polusi udara terdiri dari 3 (tiga) tahap (Asian Development Bank,1996 dan Bhimo,2001) Sebagai hasil penelitian tahap pertama dengan sample 2 lokasi (Jembatan Kricak jatimulyo dan Jembatan Taman Sari) didapatkan hasil bahwa parameter polutan air di kota yogyakarta memiliki kecenderungan meningkat, dan secara umum telah berada di atas nilai ambang batas (NAB).Untuk penelitian tahap kedua yang digunakan untuk membuktikan hipotesis (1). Pada penelitian tahap ketiga yang digunakan untuk membuktikan hipotesis (2). Didapatkan jumlah biaya masyarakat penderita gangguan pencernaan kasus diare sebesar Rp 54.221,88 untuk kategori sakit gangguan pencernaan ringan (rawat jalan). dengan berdasarkan nilai tersebut, maka biaya sakit akibat dampak polusi gas buang kedaraan bermotor yang harus dikeluarkan penduduk usia produktif kota Yogyakarta Rp 2.892.056,25 per bulan untuk biaya rumah sakit yang disebabkan pencemaran air oleh limbah domestik. Untuk rawat inap gangguan pencernaan kasus diare, masyarakat di sepanjang bantaran sungai Winongo harus mengeluarkan biaya dengan rata-rata Rp 1.455.041,58. Dengan Asumsi tersebut maka biaya yang dikeluarkan per bulan untuk biaya rawat inap gangguan pencernaan kasus diare, masyarakat di sepanjang bantaran sungai Winongo adalah Rp. 39.439.252,06 sebagai akibat pencemaran air. Kata kunci: lingkungan, kesehatan dan pencemaran air.
Pollution is an environment's quality decline that can be reflected by the declining public health quality. The research entitled "Valuation Economic Analysis: The Water Pollution on Public Health" is a case in Kota Yogyakarta. The research discovers the effect of water pollution, which came from domestic waste containing bacteria total coli and any others poisonous materials, on the declining quality of public health. The declining of public health quality would of course raise several economic costs for anyone in anticipating the declination. The residence of Yogyakarta is high populated. Most of population has no place to process the water waste, which is usually called as domestic water waste. High density of houses in Kotamadya Yogyakarta would raise the concentration of water pollution at the region. The research was aimed to discover the effect of water pollution on the public health quality in Kotamadya Yogyakarta and its value of social cost as public's Willingness to Pay (WTP) in order to maintain their health qualities. In achieving the aim and testing the research's hypothesis, the writer has used the method of Willingness to Pay (WTP) which is supported by the statistical analysis. WTP for people health is equal to the expenditure for keeping the body healthy. WTP is economical assessment from health costs caused by water pollutions. These processes consist of three stages (Asean Development Bank, 1996 and Bhimo, 2001). The first stage with two locations as sample (Kricak Jatimulyo Bridge and Taman Sari Bridge) shows that water pollutants parameter in Kota Yogyakarta tends to increase and is above Nilai Ambang Batas (NAB) generally. The second stage research is to prove the first hypothesis. The third stage research is to test the second hypothesis. The stomache patients should spend Rp 54.221,88 for light exhalation problem individually. Based on that cost, Kota Yogyakarta residents at productive age should spend Rp. 2.892.056,25 each month for hospital cost because of water pollution from domestic waste. People should spend about Rp 1.455.041,58 for stronger exhalation problem. Based on that cost, the resident at productive age should spend Rp. 39.439.252,06 each month for the impact of water pollution. Keyword : environment, healthy and water pollution.
Kata Kunci : Valuasi Ekonomi; Pencemaran Air; Kesehatan Masyarakat