Autokorelasi Silang Return Saham Perusahaan Besar dan Perusahaan Kecil di Bursa Efek Jakarta
Noor Endah Cahyawati (pemb : Dr. Jogiyanto HM., MBA), Dr. Jogiyanto HM., MBA
Penelitian-penelitian sebelumnya mengenai autokorelasi silang menemukan adanya pola lead-lag return saham berbasis ukuran perusahaan, yaitu bahwa lag return perusahaan besar lebih dapat memprediksi return perusahaan kesil saat ini dibandingkan lag return perusahaan kecil untuk memprediksi return perusahaan besar saat ini. Kelemahan utama dari hasil riset tersebut, disebabkan karena para peneliti mengabaikan event yang mungkin mempengaruhi pola autokorelasi silang yang ditemukan. Oleh karena itu peneliti menduga kesimpulan mengenai pola autokorelasi silang ini belum konklusif .
Penelitian ini menganalisis pola autokorelasi silang return saham selama periode pengumuman laporan keuangan (pengumuman laba) tahunan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memperoleh bukti empiris mengenai kemampuan prediksi autokorelasi silang return saham perusahaan besar terhadap return saham perusahaan keeil saat ini. Sampel penelitian meliputi seluruh emiten Bursa Effek Jakarta yang mengumumkan laporan keuangan tahwlan 1997, 1998, 1999, 2000 dan 2001 dalam peri ode Januari-Juli tahun 1998, 1999,2000,2001, dan 2002 diluar sektor keuangan dan perbankan.
Hasil penelitian ini menunjukkan : Pertama, Lag return perusahaan besar memiliki hubungan kausalitas (granger cause) dengan return perusahaan keeil saat ini. Atau dengan kata lain lag return perusahaan besar memprediksi dengan lebih baik return perusahaan kecil saat ini dibandingkan kemampuan prediksi lag return perusahaan keeil terhadap return perusahaan besar saat ini. Kedua, Besaran autokorelasi silang antara lag return saham perusahaan besar dan keeil berbeda seeara signifikan dalam kondisi pasar naik maupun kondisi pasar turun. Akan tetapi, autokorelasi silang antara lag return saham perusahaan besar dan keeil memiliki tanda (arah) yang sarna. Ketiga, koefisien autokorelasi silang pada penghitungan dasar berbeda seeara signifikan dengan koefisien autokorelasi silang pada. penghitungan sinkron. Hal ini mendukung penjelasan Loyalist bahwa autokorelasi silang ini muncul karena adanya market frictions, sehingga pola dan besaran autokorelasi silang konsisten dengan kesalahan pengukuran data karena adanya dampak perdagangan tidak sinkron. Keempat, autokorelasi return saham perusahaan kecil tidak berdampak signifikan terhadap autokorelasi silang antara lag return saham perusahaan besar dan kecil. Hal ini mengimplikasikan bahwa pendapat Revisionist mengenai penyebab autokorelasi silang tidak sepenuhnya menjelaskan pola dan besaran autokorelasi silang yang ditemukan. Kelima, perusahaan kecil merespon informasi umum lebih lambat dibandingkan perusahaan besar. Jika dilihat dari hasil test granger, ditemukan bahwa perusahaan keeil merespon informasi umum dengan maksimal jeda waktu 2 minggu setelah perusahaan besar. Disamping itu juga ditemukan bahwa perusahaan kecil merespon informasi positif dengan jeda waktu tertentu, tetapi merespon informasi negatif sama cepat dengan perusahaan besar. Hasil penelitian diatas mendukung pendapat heretics yang menyatakan bahwa autokorelasi silang muncul karena investor menyesuaikan harga saham secara parsial terhadap adanya informasi baru.
The prior studies find evidence of assymetric size based portfolio return cross autocorrelations, where lagged large firm return lead current small firm returns. Thus, lagged large firm returns predict current small firm returns. The main weakness of those studies is researchers ignore an event which may influence significantly to the return pattern. Because of ignoring the events, I presume that the conclusions of empirical studies documents are not conclusive yet.
This study examine cross-autocorrelation pattern by considering the earning announcement date. The objective of this study is to examine to what extent lagged large firm return can predict current small firm returns. Samples include all Jakarta Stock ExchangeÂ’s companies that release their 1997, 1998, 1999, 2000 and 2001 annual financial statemens (net income) during January-July in 1998, 1999, 2000, 2001 and 2002.
The results of this study : First, lagged firm return granger cause to current small firm returns. Thus, lagged large firm returns contain predictive power over current small firm returns. Second, size based portfolio return cross-autocorrelations is significantly different in up and down markets but there is no directional asymmetry. Third, cross-autocorrelations coefficient is significantly different when portfolio return become more synchronous. This finding is consistent with Loyalist explanation that cross-autocorrelation puzzle. Fifth, small firm respond common information much more slowly than large firm. The result of Granger test show that small firm respond common information with a delay for 2 (two) weeks. This study also find that small firsm respond good news much more slowly than large firm but respond bad news without a delay. This finding is consistent with Heretics explanation that time series patterns in return occur because investors either overact or only partially adjust to information arriving to the market.
Kata Kunci : autokorelasi silang, Saham