Farm Development and Rural Poverty Comparison Among Villages in Kulon Progo Regency of Yogyakarta Special Province
Nasution, Muhammad Zamal, Dr. Samsubar Saleh, M.Soc.Sc.
2008 | Tesis | S2 EconomicsKemiskinan masih menjadi topik yang menarik diperbincangkan di Indonesia. Lebih dari separuh dari 235 juta penduduk Indonesia tergolong miskin dengan pengeluaran kurang dari $2 per hari. Kabupaten Kulon Progo sebagai salah satu kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ternyata masih menderita kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi yang lambat. Riset ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kemiskinan di wilayah pedesaan dan kaitannya dengan pembangunan pertanian dalam penanggulangan kemiskinan di pedesaan. Data statistik diperoleh dari penerbitan Badan Pusat Statistik yaitu "Kecamatan Dalam Angka" meliputi keseluruhan desa tahun 2003-2006. Data primer diperoleh dari wawancara dengan enam kepala desa sampel, penyuluh pertanian, Karang Taruna, kelompok tani, dan observasi. Selain itu, dilakukan juga diskusi dengan pejabat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) dan dinas terkait Kabupaten Kulon Progo untuk mendapatkan penjelasan dan masukan berkaitan penanggulangan kemiskinan, pertanian, dan pembangunan pertanian. Dengan menggunakan purposive random sampling dan berdasarkan pembagian zona penelitian oleh BAPPEDA yaitu utara, tengah, dan selatan; survey dilakukan di desa dengan kemiskinan tertinggi dan terendah. Model regresi diperlukan untuk mengetahui posisi masing-masing variabel menjelaskan penyebab kemiskinan di pedesaan. Secara keseluruhan model menjelaskan 70% penyebab kemiskinan di pedesaan. Jumlah petani berpengaruh signifikan dengan kenaikannya 1% akan menaikkan kemiskinan 0.922% rumah tangga miskin. Lahan yang beririgasi berpengaruh signifikan dengan kenaikannya 1% akan menurunkan 0.101% rumah tangga miskin. Jumlah anggota keluarga tidak signifikan mempengaruhi rumah tangga miskin. Sebaliknya, jumlah lahan signifikan dengan kenaikan sebesar 1% akan menaikkan banyaknya rumah tangga miskin 0.177%. Model regresi menunjukkan luas lahan positif mempengaruhi kemiskinan pedesaan. Data sampel desa menunjukkan semakin luas lahan kering maka tingkat kemiskinan rumah tangga desa juga meningkat. Hasil wawancara juga menyimpulkan bahwa kemiskinan disebabkan oleh produktifitas lahan kering. Berdasarkan analisis Sistem Informasi Geografi diperoleh bukti aliran air permukaan air yang seharusnya mampu dimanfaatkan bagi pengairan di lahan perbukitan zona utara. Kata kunci: kemiskinan pedesaan, rumah tangga petani, jumlah anggota keluarga, luas lahan, fasilitas pinjaman, penyuluhan pertanian, lahan beririgasi, kebijakan pertanian.
Poverty has always been a concern in Indonesia. More than half of Indonesia's 235 million people are poor. The district of Kulon Progo is the second lowest district in Yogyakarta province both in economic growth and welfare level, so less developed among four others district. This research's aim is to address factors influence the farm development in poverty alleviation and rural development in Kulon Progo Regency of Yogyakarta Special Province of Indonesia. Statistical data were retrieved from Indonesia's Central Board of Statistic in range of 2003 through 2006. Primary data comprised of farm development by the government, rural poverty in each village, farmer experience in poverty allevation were derived by conducting direct audience with the government officials, head of villages, field farm officials, farmer group units, and field observation. Using purposive random sampling, this research divides Kulon Progo Regency into north zone, middle zone, and south zone; according to the lowest and highest poverty level of each village. Regression model is developed with classical normal linear regression model to reveal each variable share on rural poverty. Simultaneously, this linear regression model explains 70% of rural poverty caused by all variables. Numbers of farmer positively affects numbers of poor rural inhabitants, where the 1% increasing of numbers of farmer will raise 0.922% numbers of poor rural inhabitants. Irrigated land has a negative impact to rural poverty, where the increasing level of 1% irrigated land will eradicate 0.101% numbers of poor rural inhabitants. Numbers of household member is not significant to influence poor rural inhabitants. In contrary of common belief, the significant role of land ownership has a positive impact to influence rural poverty, where the 1% increasing size of land ownership will raise 0.177% poor rural inhabitants. Regression model results land ownership positively affects rural poverty. Taking interview with some key persons in the six villages compared to statistical data explains that poverty rate is affected by dry land productivity rather than wet land productivity. Based on geographic information system analysis, there are some run-off of water bodies in the north zone. These potential flows should be able to support farm development in the dry land. Keywords: rural poverty, farmer households, number of household member, land size, support/loan facility, farming assistantship participation, irrigation contribution, agricultural policy.
Kata Kunci : Farm Development; Rural Poverty