Laporkan Masalah

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat underpriced saham IPO di Bursa Efek Jakarta

Moses, Alexander, I Wayan Nuka Lantara, SE., M.Si

2006 | Skripsi | S1 Management

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah faktor-faktor proporsi saham yang ditawarkan kepada masyarakat, umur perusahaan, ukuran perusahaan, Price Earning Ratio, dan Book Value mempengaruhi tingkat underpriced saham perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO di BEJ. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya kepada teori invetasi, berkaitan dengan faktor-faktor penentu underpriced di pasar modal Indonesia.



Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang melakukan IPO (Initial Public Offering) antara tahun 2000 hingga 2003 di Bursa Efek Jakarta. Sedangkan pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan purposive sampling dengan kriteria antara lain: mengalami underpriced setelah IPO, menerbitkan prospektus, serta memiliki Book Value (BV) dan Price Earning Ratio (PER) yang positif. Alat uji statistik data yang digunakan untuk melakukan pengujian hipotesis adalah analisis regresi berganda.



Hipotesis penelitian yang diajukan adalah: (l) Proporsi saham yang ditawarkan kepada masyarakat berpengaruh negatif terhadap tingkat underpriced (2) Umur perusahaan berpengaruh negatif terhadap tingkat underpriced (3) Ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap tingkat underpriced. (4) PER berpengaruh positif terhadap tingkat underpriced, dan (5) Book value berpengaruh positif terhadap tingkat underpriced.



Berdasarkan pengujian hipotesis yang telah dilakukan diperoleh hasil temuan sebagai berikut:1)proporsi saham yang ditawarkan kepada masyarakat (Xi) berpengaruh signifikan negatif (bl=-1.0693; Sig=0.088) terhadap tingkat underpriced pada saham perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO di BEJ. Setiap peningkatan proporsi saham yang ditawarkan kepada masyarakat sebesar 1 %, maka tingkat underpriced akan turun atau berkurang sebesar 1,0693%. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Beatty (1989); di mana menurut hasil penelitian Beatty (1989) tersebut proporsi saham yang ditawarkan kepada masyarakat (XI) berpengaruh negatif terhadap tingkat underpriced, (2) Umur perusahaan (X2) berpengaruh signifikan positif (b2=O.0054; Sig=0.069) terhadap tingkat underpriced pada saham perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO di BEJ. Setiap peningkatan umur perusahaan sebesar 1 tahun, maka tingkat underpriced akan meningkat 0,0054%. Hasil penelitian ini ternyata tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ritter (1991) yang mengambil penelitian pada periode 1975- 1 984 di Amerika Serikat. Ritter menyimpulkan bahwa emiten yang berusia muda menunjukkan tingkat underpricing yang tinggi dengan initial return sebesar 29,42%. Hal ini kemungkinan terjadi karena perusahaan yang telah lama beroperasi atau berumur lebih lama memberikan signal (tanda) tentang kondisi perusahaannya dengan melakukan penetapan IPO yang undepricing untuk memberikan asumsi bahwa keuntungan masa datang dari underpricing IPO lebih besar dari kerugiannya (Signalling Equilibrium Phenomenon, Allen and Faulhaber, 1989), (3) Ukuran perusahaan (X3) tidak berpengaruh signifikan (b3=-0.0179; Sig=0.623) terhadap tingkat underpriced pada saham perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO di BEJ, (4) PER (Xt) berpengaruh positif dan signifikan (b4=0.1103; Sig=0.019) terhadap tingkat underpriced, jika PER mengalami peningkatan sebesar 1 maka tingkat underpriced cenderung meningkat sebesar 0.1103%.Dapat pula disimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan yang memiliki PER tinggi cenderung memiliki tingkat underpriced tinggi pula. (5) Book Value (X5) yang memiliki perusahaan yang melakukan IPO di BEj tidak berpengaruh signifikan terhadap (b5=0.0001:Sig.0741) terhadap tingkat underpriced.

-

Kata Kunci : IPO,PER,underpriced,price earning ratio


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.