dari t tabel. Hipotesis pertama diterima karena t hitungnya (=16,103) > t tabel (=1,645). Sedangkan hipotesis kedua juga diterima karena t hitungnya (=8,029) > t tabel (-1,645). Sedangkan dari pengujian hipotesis dengan menggunakan uji F dapat diketahui bahwa gaya kepemimpinan "bupati kiai" dan iklim organisasional secara bersama-sama mempengaruhi tingkat pemberdayaan karyawan, dikarenakan dari hasil perhitungan diperoleh nilai F hitung (=17,158) > nilai F tabel (=5,39). Dari hasil analisis quantitatif di atas, dan dengan mempertimbangkan temuan-temuan di lapangan, dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya kepemimpinan "bupati kiai" dan iklim organisasional di kantor Bupati Gresik memang efektif mempengaruhi tingkat pemberdayaan karyawan. Namun itu bukan berarti bahwa hasil penelitian tersebut dapat diadopsi secara langsung untuk menjelaskan studi kepemimpinan yang berlaku di instansi dan daerah lain, mengingat efektivitas kepemimpinan dan pembentukan iklim organisasional sangat banyak ditentukan apakah gaya yang diterapkan tersebut sesuai dengan budaya organisasi, norma norma dan budaya masyarakat setempat yang telah berlaku. Untuk itu, pengkajian ulang mengenai gaya kepemimpinan yang sesuai dalam setiap masa kepemimpinan bupati yang terpilih sangat diperlukan dalam rangka menemukan gaya kepemimpinan terbaik untuk diterapkan dalam organisasi."> dari t tabel. Hipotesis pertama diterima karena t hitungnya (=16,103) > t tabel (=1,645). Sedangkan hipotesis kedua juga diterima karena t hitungnya (=8,029) > t tabel (-1,645). Sedangkan dari pengujian hipotesis dengan menggunakan uji F dapat diketahui bahwa gaya kepemimpinan "bupati kiai" dan iklim organisasional secara bersama-sama mempengaruhi tingkat pemberdayaan karyawan, dikarenakan dari hasil perhitungan diperoleh nilai F hitung (=17,158) > nilai F tabel (=5,39). Dari hasil analisis quantitatif di atas, dan dengan mempertimbangkan temuan-temuan di lapangan, dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya kepemimpinan "bupati kiai" dan iklim organisasional di kantor Bupati Gresik memang efektif mempengaruhi tingkat pemberdayaan karyawan. Namun itu bukan berarti bahwa hasil penelitian tersebut dapat diadopsi secara langsung untuk menjelaskan studi kepemimpinan yang berlaku di instansi dan daerah lain, mengingat efektivitas kepemimpinan dan pembentukan iklim organisasional sangat banyak ditentukan apakah gaya yang diterapkan tersebut sesuai dengan budaya organisasi, norma norma dan budaya masyarakat setempat yang telah berlaku. Untuk itu, pengkajian ulang mengenai gaya kepemimpinan yang sesuai dalam setiap masa kepemimpinan bupati yang terpilih sangat diperlukan dalam rangka menemukan gaya kepemimpinan terbaik untuk diterapkan dalam organisasi.">
MANAJEMEN IMAJINATIF; Studi atas Efektivitas Gaya Kepemimpinan
Mohammad Ihsan (Adv : Amin Wibowo, SE, MBA), Amin Wibowo, SE, MBA
Konsep pemberdayaan (empowerment) merupakan salah satu pandangan baru untuk meningkatkan motivasi dan produktivitas karyawan. Melalui konsep ini, karyawan diserahi wewenang dan tanggung jawab yang lebih besar dalam
pengambilan keputusan. Di sini dibutuhkan pula komunikasi atau saling tukar infonnasi dan pengetahuan antara manajer dan karyawan sehingga para karyawan dapat benar-benar memahami tugasnya dan dapat memberikan kontribusi nyata
bagi pencapaian prestasi organisasi.
Untuk organisasi seperti pemerintah kabupaten, konsep pemberdayaan karyawan sangat perlu dilakukan, mengingat dalam konteks demokratisasi yang berlangsung saat ini telah terjadi perubahan besar dalam hal pemerintahan daerah
dibanding era sebelumnya. Kalau pada era Soeharto dan Habibie seorang bupati biasanya berasal dari birokrat, atau militer yang secara organisatoris sudah banyak
berkecimpung di dunia birokrasi, maka pada pemerintahan Gus Dur ini, bupati terpilih banyak berasal dari aktivis-aktivis parpol besar dengan basis pendidikan yang beragam, termasuk dari kalangan "kiai" pesantren dan merupakan orang orang baru yang secara teknis mayoritas belum banyak berpengalaman di dunia pemerintahan.
Keadaan ini berimplikasi pada gaya kepemimpinan yang dilaksanakan, seperti "kiai" walaupun sudah menjadi pemimpin politik atau formal, dalam pengambilan keputusan manajerial mereka masih sering meminjam pola pengambilan hukum Islam (istinbath al-ahkam) dalam bentuk analogisme (qiasi), kesepakatan bersama (ijma'i) dan bahkan inisiatifnya sendiri (ijtihadi). Keputusankeputusan
yang lahir dari sinilah (terutama ljtihadi) yang sering disebut sebagai imajinatif karena memang tidak ditemukan dalam prinsip-prinsip manajemen modern yang rasional dan menurut pada hitung-hitungan matematik.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah gaya kepemimpinan Bupati Gresik yang kebetulan seorang "kiai" dan iklim organisasional yang ada efektif menciptakan pemberdayaan karyawan pada Kantor Bupati Gresik. Analisis
yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis quantitatif dan analisis deskriptif Analisis quantitatif dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen (gaya kepemimpinan dan iklim organisasional) dengan variabel dependen (pemberdayaan karyawan) dengan menggunakan model regresi berganda, uji koefesien determinan (R2 ), Uji F dan Uji t . Sedangkan analisis
deskriptif dilakukan untuk menjelaskan dan melengkapi keterangan yang ada dalam analisis kuantitatif dengan memperhatikan temuan-temuan yang ada di lapangan.
Dalam penelitian ini terdapat dua hipotesis yang akan diuji, yang pertama adalah "Gaya kepemimpinan "bupati kiai" berpengaruh terhadap pemberdayaan karyawan," dan yang kedua, adalah " Iklim organisasional berpengaruh terhadap pemberdayaan karyawan,". Berdasarkan hasil analisis secara quantitatif dapat diketahui bahwa kedua hipotesis dalam penelitian ini dapat diterima dikarenakan
dalam uji t, masing-masing variabel mernpunyai t hitung > dari t tabel. Hipotesis pertama diterima karena t hitungnya (=16,103) > t tabel (=1,645). Sedangkan hipotesis kedua juga diterima karena t hitungnya (=8,029) > t tabel (-1,645).
Sedangkan dari pengujian hipotesis dengan menggunakan uji F dapat diketahui bahwa gaya kepemimpinan "bupati kiai" dan iklim organisasional secara bersama-sama mempengaruhi tingkat pemberdayaan karyawan, dikarenakan dari hasil
perhitungan diperoleh nilai F hitung (=17,158) > nilai F tabel (=5,39).
Dari hasil analisis quantitatif di atas, dan dengan mempertimbangkan temuan-temuan di lapangan, dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya kepemimpinan "bupati kiai" dan iklim organisasional di kantor Bupati Gresik memang efektif
mempengaruhi tingkat pemberdayaan karyawan. Namun itu bukan berarti bahwa hasil penelitian tersebut dapat diadopsi secara langsung untuk menjelaskan studi kepemimpinan yang berlaku di instansi dan daerah lain, mengingat efektivitas kepemimpinan dan pembentukan iklim organisasional sangat banyak ditentukan apakah gaya yang diterapkan tersebut sesuai dengan budaya organisasi, norma norma dan budaya masyarakat setempat yang telah berlaku. Untuk itu, pengkajian ulang mengenai gaya kepemimpinan yang sesuai dalam setiap masa kepemimpinan bupati yang terpilih sangat diperlukan dalam rangka menemukan gaya
kepemimpinan terbaik untuk diterapkan dalam organisasi.
Kata Kunci : Manajemen Imajinatif, Gaya Kepemimpinan, Bupati Kyai, Gresik