Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi ketimpangan distribusi pendapatan antar kecamatan di kabupaten dan kota propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 1998-2004
Mirnasari, Ranni (Pemb : Dr. Budiono Sri Handoko, MA), Dr. Budiono Sri Handoko, MA
Berdasarkan data SUSENAS tahun 2002, proporsi jumlah penduduk miskin Propinsi DIY sebesar 20,14 persen dari keseluruhan jumlah penduduk. Jumlah penduduk miskin tersebut terbesar pada Kabupaten Gunungkidul dan terkecil pada Kota Yogyakarta. Masih besarnya jumlah penduduk miskin dengan penyebaran yang tidak merata tersebut menunjukkan bahwa masih banyak jumlah penduduk yang belum menikmati hasil pembangunan ekonomi, dan terdapat ketimpangan distribusi pendapatan antar wilayah pada Propinsi DIY.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari beberapa faktor terhadap ketimpangan distribusi pendapatan antar wiIayah pada kabupaten/kota di Propinsi DIY. Faktor tersebut antara lain pengeluaran pemerintah untuk pembangunan, investasi swasta, panjang jalan, dan pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode regresi panel untuk mengukur pengaruh dari faktor-faktor diatas terhadap ketimpangan. Untuk: menghitung nilai ketimpangan antar wilayah digunakan Indeks Williamson. Dari estimasi dengan menggunakan regresi panel, dihasilkan persamaan yang berbeda untuk masing-masing kabupaten/kota. Dimana, untuk Kota Yogyakarta faktor yang berpengaruh signifikan adalah pengeluaran pemerintah untuk: pembangunan, panjang jalan, dan pertumbuhan ekonomi. Untuk Kabupaten Slernan adalah investasi swasta, panjang jalan dan pertumbuhan ekonomi. Kabupaten Kulonprogo memiliki hasil yang sarna dengan Kabupaten Sleman. Dan untuk: Kabupaten Gunungkidul faktor yang berpengaruh secara signifikan hanya investasi swasta.
Based on SUSENAS data of 2002, the proportion of poor people in Province of DIY was 20.14 percent. That number shows that there still about 20 percent of people that still not received the yield of economic development. The highest number of poor people is in Gunungkidul Regency, and the lowest is in Yogyakarta City. The differences in number of poor people among regions shows the regional inequality of income in DIY Province.
This research aimed to analyze factors that influence the regional inequality in regencies and city in Province of DIY. Those factors are government expenditure on development, private investment, economic growth, and road length. The analysing method is Pooled Least Square Regression, to measure the effect of factors above toward the regional inequality. Williamson Index is used to measure the value of regional inequality. Based on the estimation, the result for each region are different. Which is, for Yogyakarta City, factors that has significant influence to inequality are government expenditure, road length, and economic growth. For Sleman regency, private investment, road length and economic growth. Kulonprogo regency has the same result with Sleman. And last, for Gunungkidul regency factors that significantly influence toward regional inequality is only private investment.
Kata Kunci : Kesenjangan Sosial, Upah Minimum, Pendapatan Daerah