Laporkan Masalah

MANAJEMEN KONFLIK PERAN PROFESIONAL-MANAJERIAL MELALUI ORIENTASI TUJUAN SISTEM DAN KEADILAN PERSEPSIAN: SUATU UPAYA MENINGKATKAN KINERJA DAN KEPUASAN KERJA

MIJTMAINAH, SITI (Adv.Dr. Supriyadi, MSc), Dr. Supriyadi, MSc

2000 | Tesis | S2 Accounting

Peran ganda (dual role) seorang akuntan publik sebagai seorang profesional pada peran dan/atau jabatan manajerial di kantor akuntan publik, secara historis diyakini menimbulkan dampak yang buruk yaitu menimbulkan konflik peran profesional-manajerial Karena konflik peran sebagai penyebab stress di tempat kerja berdampak buruk bagi

psikologis, fisik dan perilaku seseorang, manajemen kantor akuntan publik berkepentingan untuk mengantisipasinya. Solusi alternatif yang diajukan oleh Comerford dan Abernethy(1999) adalah dengan kepemilikan orientasi tujuan sistem pada diri profesional yang berpartisipasi dalam proses penganggaran. Penelitian ini menipakan replikasi sekaligus ekstensi penelitian Comerford dan Abernethy (1999). Di samping bertujuan sebagai konfirmasi hasil penelitian tersebut dalam rangka meningkatkan validitas eksternal, penelitian ini berupaya pula mengetahui hal-hal sebagai berikut: pertama, pengaruh keadilan persepsian pada hubungan antara orientasi profesional akuntan publik dengan konflik peran profesional-manajerial yang dialaminya; kedua, pengaruh konflik peran profesional-manajerial pada kinerja akuntan publik; ketiga, pengaruh konflik peran profesional-manajerial pada kepuasan kerja akuntan publik. Dengan menggunakan jasa pos (mail survey), dari total pengiriman kuesioner sejumlah 350 buah yang ditujukan pada akuntan publik yang berpartisipasi pada proses penganggaran pada 97 kantor akuntan publik di Indonesia, terkumpul data siap olah sebanyak 96 buah, dengan tingkat responsi sebesar 28,90%. Pengujian hipotesis menggunakan regresi berganda dengan model interaksi dari dua variabel independen untuk hipotesis pertama dan kedua; dan menggunakan koefisien korelasi Pearson untuk hipotesis ketiga dan keempat yang diajukan. Analisis dilakukan terpisah-pisah pada kelompok sampel untuk menghindari artifact correlation. Hasil analisis menunjukkan temuan penelitian yang tidak dapat menolak hipotesis pertama yang diajukan yaitu interaksi antara orientasi profesional dan orientasi tujuan sistem tidak berpengaruh negatif terhadap konflik peran profesional-manajerial pada lingkungan akuntan publik yang berpartisipasi pada penganggaran. Temuan ini tidak

konsisten dengan hasil yang ditunjukkan Comerford dan Abernethy (1999), namun sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menggunakan perspektif kontemporer misalnya Frese (1982), Mortimer dan Lorence (1979), Bartol (1979), Blau (1989), Lachman dan Aranya (1986), Morrow dan Goetz (1988), Morrow dan Wirth (1989), Welsch dan La Van (1981), Vandenberg dan Scarpello (1994), yang antara lain memandang bahwa kedua bentuk komitmen, yaitu komitmen organisasional dan komitmen profesional berhubungan positif bukan negatif. Sedangkan pada hipotesis kedua, hanya kelompok yang memiliki tingkat partisipasi penganggaran rendah yang menunjukkan penolakan dukungan atas hipotesis ini. Pada kelompok ini, interaksi antara orientasi profesional dengan keadilan persepsian berpengaruh negatif terhadap konflik peran profesional-manajerial. Hal ini berarti pada tingkat partisipasi penganggaran rendah, semakin tinggi tingkat keadilan yang dipersepsikan akuntan publik akan mengakibatkan konflik peran profesional-manajerial yang semakin rendah. Pengujian atas hipotesis ketiga pada kelompok sampel yang memiliki tingkat partisipasi rendah, mengindikasikan tidak dapat ditolaknya hipotesis ketiga, yaitu konflik peran profesional-manajerial tidak berpengaruh terhadap kinerja akuntan publik. Temuan ini konsisten dengan penelitian Fitri (1998) untuk kelompok dokter, namun tidak konsisten dengan hasil penelitian Abernethy dan Stoelwinder (1995). Kesimpulan ini berbeda pada kelompok sampel yang memiliki tingkat partisipasi penganggaran yang tinggi, yang menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara konflik peran profesional-manajerial dengan kinerja akuntan publik yang memiliki tingkat partisipasi penganggaran yang tinggi. Hasil analisis ketiga kelompok sampel menunjukkan temuan yang tidak dapat menolak hipotesis keempat. Artinya, konflik peran profesional-manajerial tidak memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap kepuasan kerja akuntan publik. Hasil analisis ini tidak konsisten dengan penelitian beberapa penelitian terdahulu, misalnya Abernethy dan Stoelwinder (1995), Aranya dan Ferris (1984), namun konsisten dengan hasil penelitian Fitri (1998) pada kelompok sampel dokter. Penelitian ini memiliki keterbatasan yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) Sampel yang terbatas pada profesional di lingkungan kantor akuntan publik tidak dapat digunakan sebagai dasar generalisasi; (2) Instrumen orientasi tujuan sistem perlu penilaian psikometrik lebih lanjut; (3) Instrumen orientasi profesional diduga tidak cukup memadai untuk digunakan di Indonesia, karena ada perbedaan budaya khususnya tradisi riset di antara lingkungan public teaching hospital di Australia dengan lingkungan kantor akuntan publik di Indonesia; (4) Ukuran kinerja menggunakan item tunggal, sehingga mungkin tidak memadai untuk menilai kinerja individu; (5) Instrumen pengukur kinerja yang mengacu pada pengukuran diri sendiri (self-rating) diduga mempengaruhi hasil yang diperoleh dan akan berbeda hasilnya seandainya instrumen variabel ini menggunakan konsep superior rating; (6) Penelitian ini

tidak mempertimbangkan faktor lain misalnya ukuran kantor akuntan publik atau pun pemilahan responden berdasarkan jabatan hierarkhis yang diduga mempengaruhi tingkat

konflik peran maupun kepuasan kerja akuntan publik: (7) Penelitian ini tidak menindaklanjuti hasil pengujian otokorelasi pada kelompok sampel dengan tingkat partisipasi penganggaran tinggi dalam hipotesis pertama dan hipotesis kedua yang menunjukkan hasil yang inconclusive. Berdasarkan keterbatasan penelitian ini, maka dapat dilakukan penelitian lanjutan setelah mengantisipasi berbagai keterbatasan tersebut. Sehubungan dengan instrumen orientasi profesional, studi lanjutan perlu memodifikasi instrumen ini sedemikian rupa agar

representatif mencakup kondisi para profesional Indonesia khususnya bagi profesi akuntan publik. Karena kekuatan hubungan orientasi profesional-organisasional merupakan fungsi dari keprofesionalan, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan yang menggunakan setting yang berbeda. Prediktor orientasi profesional bersama-sama dengan keadilan persepsian hanya berhasil menerangkan 16,6% variasi variabel konflik peran profesional-manajerial bagi lingkungan kantor akuntan publik, karenanya masih besar peluang bagi penelitian selanjutnya untuk mencari dan menemukan variabel lain yang dapat menjelaskan dengan lebih baik variabel konflik peran profesional-manajerial. Pendalaman teori-teori keadilan tampaknya menarik untuk dilakukan karena Leung dan Lind (1986) menyatakan bahwa pada kultur Asia fair process effect dalam kerangka keadilan atas prosedur organisasi belum dapat ditemukan. Sementara ini, riset yang menguji pengaruh kepercayaan pada desain dan sistem pengendalian akuntansi masih relatif sedikit.

Historically, it was believed that dual role (i.e. the individual as professional and also involve in managerial role) can potentially have adverse consequences through the creation of role conflict. Comerford and Abernethy's (1999) finding revealed that the individuals with a high professional orientation will experience less adverse consequences (i.e. lower role conflict) when involved in the budgeting process provided that they have taken on a system goal orientation. As such, this field study reexamines this professionalmanagerial role conflict with the different subject. Besides, this study is extended by looking at the moderating effect of perceived fairness on the relationship between professional orientation and role conflict. Furthermore, it examines the relationship between role conflict and both public accountant's job performance and job satisfaction. The data for the study were obtained through a survey questionnaire that was administered to 350 public accountants who participate in budgeting process in each public accounting firms. Of the 350 questionnaire distributed, 96 usable responses were obtained, yielding a response rate of 28.90 percent. The relationship between professional orientation, managerial orientation/perceived fairness, and role conflict, after controlling for the level of participation in budgeting, was tested using a multiple regression model employing a twoway interaction term. The impact of role conflict on both public accountant's performance and job satisfaction is tested by examining the Pearson correlation coefficients. The result of this study was not consistent with those indicated by prior empirical research which showed that goal system orientation had a direct effect on the relationship between professional orientation and role conflict. This finding, however, support the contemporary perspective (Frese (1982), Mortimer dan Lorence (1979), Bartol (1979), Blau (1989), Lachman dan Aranya (1986), Morrow dan Goetz (1988), Morrow dan Wirth (1989), Welsch dan La Van (1981), in Vandenberg dan Scarpello (1994)), which suggest that occupational commitment and organizational commitment are positively, not negatively

associated. The other finding of this field study does not enable rejection of the second null hypothesis for the sample group with lower participation level. It indicates that professional-managerial conflict is reduced when professionals who have lower participation level in budgeting, have higher perceived fairness level. Furthermore, the findings revealed that the role conflict does not have negative impact on accountant public's

performance who have lower participation level. It was consistent with Fitri (1998) but did not support Abernethy and Stoelwinder (1995). This conclusion was different with the group who have higher participation level, which show the negative and significant association between role conflict and performance. The result of this field study also shows the finding which can not reject the forth null hypothesis. It means role conflict does not have negative impact on accountant public's job

satisfaction. This finding was consistent with Fitri (1998) but was not consistent with some prior research (for example Abernethy and Stoelwinder (1995), Aranya and Ferris (1984)). Several limitations of the study should be noted. As the study was undertaken in only one professional organization setting, further research is required to assess if these relationships hold in other setting. There has been limited use of the professional and system goal orientation measures and therefore, further testing of their properties may be beneficial. Further psychometric assessment of these instruments is required. Additional measures of performance, which could be externally verified, might also enhance the measurement of performance. As this field study shows only 16.6 percent variation of professional-managerial role

conflict in public accounting firms, further research is required to find other variables which can explain role conflict variable better. Further development of the theory of fairness would also be fruitful, because Leung and Lind (1986) assessed that fair process effect in Asia culture, especially in procedural fairness context has not been found. Nowadays, research on the impact of trust on accounting control design and system is still limited.

Kata Kunci : konflik peran profesional-manajerial, orientasi profesional, orientasi tujuan sistem, keadilan persepsian, kinerja, kepuasan kerja, partisipasi dalam proses penganggaran.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.