Pengaruh Keahlian Audit dan Independensi terhadap Pendapat Audit: Sebuah Kuasieksperimen
Mayangsari, Sekar (Adv.Dr.Suwardjono, Msc), Dr.Suwardjono, Msc
Pendapat auditor merupakan produk jasa kantor akuntan publik. Pendapat auditor merupakan jaminan mutu laporan keuangan yang diterbitkan oleh suatu badan usaha. Pendapat ini didasarkan atas keyakinan auditor terhadap bukti-bukti
yang dikumpulkan. Artinya pendapat auditor merupakan simpulan auditor terhadap bukti-bukti yang berhasil dikurnpulkan. Kenyataannya simpulan ini sering salah.
Pendapat terhadap laporan keuangan auditan didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan akan terus berjalan selama suatu jangka waktu yang pantas (satu tahun, SPAP 341). Konsep kelangsungan hidup ini merupakan asumsi utama dalam penerbitan suatu laporan keuangan. Auditor sering melakukan kesalahan dalam memprediksi kelangsungan hidup perusahaan. Kesalahan pendapat tidak hanya terjadi di Indonesia. Taffler dan Citroen (1988) menunjukkan bahwa beberapa dari perusahaan di Inggis dan USA yang bangkrut hanya sekitar 20% yang menerima opini qualified.
Sebenarnya, kesalahan tersebut bisa saja disebabkan oleh adanya kecurangan. Tetapi seandainya kecurangan itu dianggap tidak ada, maka pertanyaannya "Mengapa dapat terjadi demikian?" Penelitian ini mencoba untuk menjawab pertanyaan tersebut. Beberapa hasil penelitian, menunjukkan bahwa kesalahan ini disebabkan oleh faktor keahlian audit dan independensi (Barnes Huan 1993; Lee, Tom, & Stone 1995).Selain faktor keahlian audit dan independensi, keputusan atas kelangsungan hidup suatu perusahaan merupakan suatu jenis keputusan yang membutuhkan pengujian terhadap ingatan dalam jangka panjang (Birenberg & Shields 1984; Libby 1989).
Bias yang muncul dapat terjadi karena kesalahan dalam mengingat jenis informasi lain yang saling berhubungan. Bias ini akan menyebabkan kesalahan dalam membuat
keputusan (Libby 1989). Choo dan Trotman (1991) menyatakan bahwa auditor yang berpengalaman lebih cenderung mengingat informasi yang atypical dibandingkan informasi
yang typical. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuasieksperimen. Eksperimen dilakukan dalam 2 tahap. Pada tahap pertama dikembangkan instrumen yang mengklasifikasi
menjadi ahli dan tidak ahli serta mengklasifikasi independen dan tidak independen. Dengan kata lain instrumen digunakan untuk memanipulasi subjek menjadi ahli dan tidak ahli serta independen dan tidak independen. Kelompok eksperimen ini diberi tugas untuk memprediksi kelangsungan hidup suatu perusahaan satu tahun mendatang. Pada tahap kedua, eksperimen dilakukan untuk menguji apakah
ada perbedaan perlakuan (ahli dan tidak ahli) terhadap informasi typical dan terhadap informasi atypical.
Metoda analisis eksperimen ini dengan menggunakan ANOVA. Hasilnya menunjukkan bahwa auditor yang ahli dan independen memberikan pendapat yang berbeda dengan ketiga kelompok partisipan yang lain. Pendapat auditor yang ahli dan independen lebih tepat dibandingkan ketiga kelompok yang lain (mendukung hipotesis pertama). Pada tahap selanjutnya diuji interaksi antara keahlian audit dan jenis
informasi terhadap kuantitas informasi yang diingat. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya interaksi antara keahlian dengan jenis informasi. Dengan demikian hasil
penelitian ini mendukung hasil penelitian Choo & Trotman (1991) yang menunjukkan bahwa auditor yang ahli lebih memperhatikan informasi atypical.
Auditor's opinion is the service product of public accounting firms. Auditor opinion forms the quality assurance of financial statements issued by a corporation. This opinion is based on the auditor's belief toward the evidence collected It means that auditor opinion is the auditor's inference on the evidence collected. In fact this inference is often incorrect. An opinion on audited financial statement is based on the assumption that the
company will be viable during a reasonable period of time (one year, SPAP 341). This going concern concept is the main assumption in publishing a financial statement. Auditors have often made mistakes in predicting a company's going-concern. Erroneous opinions occurred not only in Indonesia. Teller and Citroen (1988) showed that among USA and British companies that failed, only 20 per cent that receive qualified opinion. Actually, the mistakes may simply occur due to fraudulence. But should the frauds were considered nonexistent, the qustion is, "Why is it happen?" This study tried to answer that question. The results showed that some of these mistakes were due to auditing competence and independence factors (Barnes and Huan 1993; Lee, Tom, and Stone 1995). In addition to auditing skills and independence factors, the decision over the going-concern of a company was a type of decision that needed a testing of a long-term memory (Birenberg and Shields 1984; Libby 1989). A bias may occurr because of the error in recalling other related types of information. This bias will cause the error in
drawing a conclusion (Libby 1989). Choo and Trotman (1991) argued that the experienced auditors had more tendencies to recall atypical than typical information. This study was performed using quasi-experiment. The experiment was
performed in two stages. In the first stage, an instrument classifying the expert and nonexpert and the independent and non-independent was developed. The instrument was
used to manipulate the subjects as the experts and non-experts as well as independent and non-independent. The experimental group was assigned to predict continuity a company in one year later. In the second step, the experiment was performed to test whether there
were treatment differences (expert and non-expert) with respect to the typical and atypical information.
The analysis used in the experiment was ANOVA. The results showed that the opinion on the company going concern of the expert and the independent auditor was statistically different from that of the other experimental group. This finding supported the first hypothesis. Further testing on the impact of expert and nonexpert on the quantity of information use was also determined by the information typed. This was demonstrated by the interaction between the expertise and the type of information. The study results confirmed Choo and Trotman's study (1991) that the expert auditors gave more attention to atypical information
Kata Kunci : Keahlian Audit, Independensi, Typical, Atypical, pendapat audit