Implikasi Penerapan Kaidah Kebijakan Fiskal (Fiscal Rule) Terhadap Pendekatan Makroekonomika Konsensus Baru (New Consensus Macroeconomics)
MARSELINA (Adv.: Insukindro, Prof. Dr., M.A dan Akhmad Makhfatih, Dr., M.A), Insukindro, Prof. Dr., M.A dan Akhmad Makhfatih, Dr., M.A
Pengelolaan utang dan defisit anggaran di Indonesia didasarkan atas UU No 17 Tahun 2003 dan PP No 23 Tahun 2003, yang besarannya mirip dengan konsep Maastricht Treaty yaitu batas tertinggi utang pemerintah 60 persen PDN dan defisit anggaran tertinggi 3 persen PDB. Namun konsep ini tidak menjelaskan kapan seharusnya pemerintah melakukan kebijakan anggaran defisit, seimbang atau surplus anggaran, karena selama PDB meningkat, pemerintah dapat terus menambah utangnya. Utang yang tinggi akan membebani anggaran karena utang harus dibayar sehingga mengganggu ruang fiskal (fiscal space), perekonomian dan kesinambungan fiskal. Untuk itu diperlukan suatu studi mencari alternatif lain konsep pengelolaan utang yang dapat menjamin ruang fiskal, kesinambungan fiskal dan pertumbuhan ekonomi, sehingga Indonesia bisa terhindar dari mengalami gagal bayar seperti yang dialami negara-negara Uni Eropa yang menggunakan konsep tersebut..
Pemikiran Makroekonomika Konsensus Baru (MKB) dipilih karena sesuai dengan kondisi yang dihadapi perekonomian di Indonesia saat ini dimana para agen ekonomi menghadapi kondisi harga dan upah yang kaku (sticky), agen menggunakan nalarnya untuk membuat keputusan yang optimal melalui keputusan antarwaktu (intertemporal choices) yang bersifat forward looking. Model Arestis dilakukan modifikasi dengan menambahkan variabel defisit penyetabil utang dalam setiap persamaannya dan menambahkan satu persamaan lain yaitu persamaan kebijakan fiskal, sehingga keseimbangan umum lebih lengkap.
Model antar waktu yang dinamis dan terkointegrasi dalam studi ini diestimasi menggunakan Vector Error Correction Model (VECM) dengan kejutan menggunakan simulasi yang sebelumnya telah dilakukan uji akar unit untuk melihat stasioneritas data runtun waktu dan uji stabilitas model menggunakan uji CUSUM dan CUSUMSQ . Menggunakan metode Two Stage Least Square (2SLS) model disetimasi. Diperoleh hasil bahwa, penerapan defisit penyetabil utang dalam jangka panjang akan meningkatkan kesenjangan output, mendorong kenaikan harga barang, menurunkan suku bunga, menurunkan nilai tukar rupiah terhadap euro sehingga memperbaiki kondisi neraca transaksi perdagangan di Indonesia, sebaliknya dalam jangka pendek penerapan defisit penyetabil utang tidak signifikan mempengaruhi pembentukan harga-harga barang di dalam negeri, suku bunga, nilai tukar rupiah terhadap euro dan variasi neraca transaksi berjalan di Indonesia karena kendal time lag kebijakan. Pola respon kesenjangan output, harga, suku bunga, nilai tukar, neraca transaksi berjalan dan defisit primer tidak berbeda dengan ketika sebelum dilakukan simulasi, namun penambahan defisit penyetabil utang menyebabkan kinerja variabel-variabel ekonomi makro tersebut lebih tinggi dibandingkan sebelum dilakukan simulasi. Menggunakan koefisien nilai ect (-4) diperoleh hasil bahwa persamaan tingkat harga relatif paling cepat menyesuaikan kembali menuju keseimbangan yang baru dan persamaan tingkat suku bunga paling lambat menyesuaikan menuju keseimbangan yang baru dibandingkan persamaan–persamaan lainnya.
Management government debt and budget deficit in Indonesia is based on ACT No 17 of 2003 and Government Regulation no 23 of 2003, that its measurement likes Maastricht Treaty concept used in some European Union countries. The implementation of this concept is government set maximum limit on government debt of 60 percent of GDP and maximum limit on budget deficit of 3 percent of GDP. The obstacle of this concept is, these is not described in the concept clearly when it is supposed to do the policy deficit, balanced, or surplus budget. As long as GDP increases, government debt can be added continuously, regardless of whether the economy still needs additional debt or not. High debt will burden the budget because debt must be paid so it shrinks fiscal space, disturbs the economy and fiscal sustainability. So, it needs a study to find out another alternative concept of debt rule that can ensure fiscal sustainability and economic development to avoid Indonesia from experienced default such as Europian Union countries.
Thoughts of New Consensus Macroeconomic (MKB) was choosen because it is appropriate with the condition faced by economic in Indonesia today, where economic agents are dealing with the condition of pricing and rigid wage (sticky), agents use their logic to make optimal decision through inter temporal choices which is forward looking. The modification is done for Arestis Model by adding variables of debt deficit stabilizer in each equation and it adds another equation that is equation of fiscal rule, so the general stabilitation is more fully.
Intertemporal model which is dynamic and cointegration in this study, was estimated by using Vector Error Correction Model (VECM) with the surprise uses a simulation and a unit root test has previously been done to see stationer of time series data and test of the stability model uses CUSUM test, CUSUMSQ test and heteroscedasticity and autocorrelation test as a classic assumption test are conducted. The model was estimated by using Two Stage Least Square (TSLS).
It was found that deficit debt stabilizer in Indonesia, for a long term, gives positive impact on output gaps, the level of prices, interest rate, exchange rates, current account and primary budget deficits, but it the short term has no impact on these macro economics variables because there is time lag in this fiscal policy implementation. Price equation or inflation adjutsment equation is the quickest equation to adjust a new equilibrium, while the equation of interest rate adjust equilibrium slowly. The pattern of response is not different from the situation where the simulation done by adding and subtracting 1 percent of deficit debt stabilizer. When deficit is added, performance of economic variables is better than the deficit debt stabilizer restricted.
Kata Kunci : fiscal rule, fiscal sustainability, debt stabilizing deficit and VECM