Laporkan Masalah

Analisis Ex-Ante Dampak Merger Bank Pada Industri Perbankan Di Indonesia Tahun 1993:1-2009:1

LESTARI, MURTI (Adv.: Iswardono S. Permono, Prof. Dr., M.A), Iswardono S. Permono, Prof. Dr., M.A

2015 | Tesis | S3 Economics

Penelitian ini merupakan analisis ex-ante dari dampak merger bank terhadap industri perbankan Indonesia. Latar belakang penelitian ini adalah adanya kebijakan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dan Single Presence Policy (SPP) yang dapat menimbulkan banyak merger dalam industri perbankan Indonesia. Teori Industri mengungkapkan, merger dapat minimbulkan dua dampak kinerja yang saling kontradiktif. Satu sisi merger dapat menimbulkan dampak positif berupa efisiensi, namun di sisi lain merger dapat menimbulkan dampak negative berupa kekuatan monopoli (monopoly power). Oleh karena itu, bila terjadi merger perlu dilakukan evaluasi dampaknya di masyarakat. Teori institusi menguraikan bahwa untuk mengevaluasi kebijakan, evaluasi ex-ante perlu dilakukan karena apa bila diperkirakan akan muncul dampak negatif di masyarakat, maka dampak tersebut bisa dihindari atau diminimalkan. Dari teori ini maka merger perbankan perlu dievaluasi secara ex-ante. Tujuan umum penelitian ini adalah melakukan analisis ex-ante dampak merger bank terhadap industri perbankan Indonesia. Terdapat dua indikator yang akan diamati yaitu pre condition dan the lesson from similar experiences in the past. Pre condition akan diukur dengan struktur industri dan elastisitas permintaan kredit, sementara the lesson from similar experiences in the past akan mengambil kasus merger Bank Mandiri, merger Bank Danamon, dan merger Bank Permata. Oleh karena itu tujuan khusus dari penelitian ini adalah (1) mengukur struktur pasar dalam industri perbankan Indonesia, (2) mengukur elastisitas permintaan kredit, dan (3) melakukan analisis resp on kinerj a atas merger pada merger Bank Mandiri, merger Bank Danamon, dan merger Bank Permata. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: (1) Meskipun pendekatan pangsa pasar dan NEIO tidak menghasilkan kesimpulan yang selaras, namun berdasarkan teori, pendekatan non-struktur lebih mencerminkan tingkat persaingan industri yang sesungguhnya. Oleh karena itu studi ini menyimpulkan bahwa struktur industri perbankan Indonesia adalah oligopolis. (2) Elastisitas permintaan kredit di Indonesia adalah - 0, 1779 atau kurang dari 1 (inelastis ). Dari dua kesimpulan ini, maka gelombang merger yang mungkin muncul karena adanya kebijakan API dan SPP, diperkirakan akan menurunkan persaingan dan . meningkatkan monopoly power. (3) Dari pengamatan merger pada tiga bank, dapat diambil kesimpulan bahwa merger pada bank kecil menghasilkan respon kinerja yang lebih baik dari pada merger dan konsolidasi pada bank besar. Untuk kembali pada posisi stabil, merger pada bank besar memerlukan waktu yang lebih lama dari pada merger pada bank kecil. Jika dilakukan merger pada bank besar, bentuk merger dan akuisisi (mempertahankan salah satu existing bank) memberikan respon kinerja yang lebih baik dari pada konsolidasi (tidak ada existing bank).

This research is an ex-ante analysis of impacts of merger bank in Indonesian banking industry. The foundation of this research is the implementation of lndonesian Banking Architecture (API) and Single Presence Policy (SPP) which can lead to many mergers in Indonesian banking industry.

Industrial theory states that merger can generate two contradictory performance impacts. In one side, merger can generate positive impacts in the form of efficiency, but in the other side it can generate negative impacts in the form of monopoly power. Therefore the merger strategy needs to be evaluated to identify its impacts in the society. The institutional theory explains that, to evaluate a policy, an ex-ante evaluation needs to be performed to avoid or minimize negative impacts of the policy that possibly occurred in the society. The general objective of this research is to conduct an ex-ante analysis of impacts of bank merger in Indonesian banking industry. There are two indicators to be observed, i.e. pre-condition and lessons from similar experiences in the past. The

pre-condition will be measured with industrial structure and elasticity of demand for credit, while the merger of Bank Mandiri, Bank Danamon, and Bank Permata will be the lessons from similar experiences in the past. Thus, the specific objectives of this research are: (I) to determine market structure in Indonesian banking industry, (2) to determine the elasticity of demand for credit, and (3) to carry out an analysis on company's performance response toward merger in the merger of Bank Mandiri, Bank Danamon, and Bank Permata. The conclusions of this research are: (1) Although structural and nonstructural approach does not generate similar conclusions, based on theory, nonstructural approach can further reflect the actual level of industrial competition. Therefore, this study concludes that the structure of Indonesian banking industry is oligopoly; (2) The elasticity of demand for credit in Indonesia is -0.13 or less than 1 (inelastic). Of the two conclusions stated above, the wave of mergers that may arise because of the API and the SPP is expected to reduce competition and increase monopoly power; (3) Ftom observations on the three bank mergers, it can be concluded that merger of small banks produce better performance response compare to that of merger and consolidation of large banks. To return to a stable position, the merger of large banks requires a longer time than the merger of small banks. If merger carried out on large banks, the form of mergers and acquisitions (retaining one existing bank) delivers better performance response than consolidations (no existing banks).

Kata Kunci : analisis ex-ante, dampak merger bank, existing bank, kinerja perbankan, konsolidasi, akuisisi, kebijakan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) , Single Presence Policy (SPP), ) Elastisitas permintaan kredit, pendekatan pangsa pasar, NEIO, oligopolies, pers


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.