Laporkan Masalah

Perbandingan Penggunaan Jaringan Saraf Tiruan dan Model Regresi Untuk Penentuan harga Saham Pada Penawaran Perdana :Studi Kasus Perusahaan-perusahaan yang Melakukan Penawaran Perdana Periode 1991-1996 di Bursa Efek Jakarta

Indarti,Nurul (Adv.Drs.Pangestu Subagyo ,M.B.A ), Drs.Pangestu Subagyo ,M.B.A

1998 | Skripsi | S1 Management

Underpriced pada penawaran perdana saham adalah fenomena yang terjadi pada hampir semua pasar modal yang aktif.Penelitian ini bertujuan membuktikan fenomena underpriced di Bursa Efek Jakarta. Underpriced terjadi karena harga penawaran perdana saham terlalu rendah dibandingkan dengan harga penutupan pada hari pertama perdagangan. Penentuan harga penawaran perdana saham merupakan masalah yang sulit dan rumit. Jika harga penawaran dapat ditentukan dengan baik, maka underpriced dapat dihindari. Hal ini berarti menghindari kehilangan kesempatan untuk mendapatkan modal yang lebih besar. Penelitian ini juga mencoba mengembangkan model Jaringan Saraf Tiruan (JST) — sebuah teknologi yang berkembang dalam dasawarsa terakhir — untuk penentuan harga penawaran saham. Dengan menggunakan variabel-variabel yang sama, model JST tersebut akan dibandingkan dengan model regresi ganda. Pada bagian akhir, variabel-variabel yang diduga kuat mempengaruhi harga penawaran saham tersebut dianalisis. Manfaat yang didapat dari penelitian ini adalah dapat digunakannya model hasil penelitian jika model yang dikembangkan dapat memperkecil tingkat underpriced. Selain manfaat tersebut, penggunaan JST untuk aplikasi keuangan, diharapkan dapat merangsang penelitian-penelitian dengan alat-alat bantu baru. Penelitian ini membuktikan hipotesis yang menyatakan bahwa fenomena underpriced terjadi di Bursa Efek Jakarta. Juga hipotesis yang menyatakan bahwa penggunaan JST untuk penentuan model harga penawaran perdana saham lebih baik dibandingkan dengan model regresi ganda. Untuk membuktikan hipotesis tersebut digunakan data-data perusahaan yang melakukan penawaran perdana (initial public offering - IPO) pada tahun 1991 sampai 1996 di Bursa Efek Jakarta. Hipotesis pertama dibuktikan dengan menghitung rasio antara selisih harga saham pada penutupan hari pertama perdagangan dan harga penawaran perdana dengan harga penawaran perdana.Hipotesis kedua dibuktikan menggunakan model JST dan model regresi ganda untuk memodelkan penentuan harga penawaran perdana. Model JST yang digunakan adalah yang berarsitektur radial basis function dengan algoritma pembelajaran orthogonal least squares. Penentuan koefisien-koefisien regresi pada model regresi menggunakan metode ordinary least squares. Uji asumsi klasik dilakukan terhadap model regresi. Variabel-variabel independen dan variabel dependen model regresi sama dengan input dan output model 1ST. Variabel-variabel independen atau input didasarkan pada penelitian-penelitian sejenis sebelumnya. Variabel-variabel independen tersebut adalah (1) persentase saham yang ditahan pemilik lama, (2) laba kotor yang dihasilkan, (3) reputasi penjamin (underwriter), (4) reputasi auditor, (5) nilai penjualan keseluruhan, (6) capital expenditure on asset, (7) capital expenditure on sales, (8) operating cash flow on sales, (9) operating return on asset, (10) asset turnover, (11)financial leverage, dan (12) umur perusahaan. Datadata keuangan diambil dari data satu tahun sebelum penawaran perdana. Pengujian validasi model dilakukan dengan membagi data menjadi dua: data untuk pelatihan dan data untuk pengujian. Data pelatihan digunakan untuk menentukan model regresi atau bobot tiap variabel pada model JST. Data pengujian digunakan untuk menguji model regresi atau bobot tersebut, yang kemudian dibandingkan dengan data sebenamya. Uji signifikansi statistik, baik parsial maupun keseluruhan, digunakan untuk analisis hasil penelitian. Penelitian menghasilkan temuan bahwa rata-rata underpriced yang terjadi di Bursa Efek Jakarta sebesar 7,98%. Sebagian besar saham (72,06%) mengalami underpriced, 12,5% mengalami overpriced (harga saham ditaksir terlalu tinggi), dan 15,44% saham tidak mengalami mispriced. Hal ini berarti hanya sebagian kecil (15,44%) saham yang harga penawaran perdananya sama dengan harga saham pada penutupan hari pertama perdagangan. Penelitian tidak berhasil membuktikan hipotesis yang menyatakan bahwa model JST lebih baik secara signifikan daripada model regresi. Hasil tahap pelatihan dan pengujian menghasilkan temuan yang relatif sama. Model yang dihasilkan, baik model regresi ataupun JST tidak dapat memperbaiki tingkat underpriced yang terjadi. Hal ini berarti, kedua model tersebut belum layak digunakan untuk penentuan harga penawaran perdana saham. Penelitian juga menghasilkan temuan bahwa variabel-variabel independen, baik secara parsial maupun keseluruhan, tidak dapat menjelaskan variabel dependen secara signifikan. Dan temuan-temuan tersebut dapat ditarik simpulan-simpulan bahwa (1) fenomena underpriced terjadi di Bursa Efek Jakarta, (2) model JST tidak menunjukkan kinerja yang lebih baik daripada model regresi, (3) variabel-variabel independen tidak dapat menerangkan variabel dependen secara signifikan, (4) penggunaan model regresi dan model JST belum layak digunakan untuk penentuan harga penawaran perdana saham, dan (5) berdasarkan temuan-temuan di atas dapat disimpulkan bahwa ketidakpastian prilaku pasar modal di Indonesia relatif tinggi. Saran-saran yang dapat diajukan untuk penelitian-penelitian selanjutnya adalah (1) penambahan jumlah sampel penelitian, (2) penambahan variabel independen, (3) data peringkat underwriter dan auditor seharusnya data satu tahun sebelum penawaran perdana, dan (4) pemisahan atau klasifikasi auditor berdasar spesialisasi per sektor industri.




-

Kata Kunci : harga saham,model regresi,Underpriced, penawaran perdana ,initial public offering, jaringan saraf tiruan ,artificial neural network


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.