Analisis pengaruh kebijakan moneter terhadap hubungan model tiga faktor dengan return saham: perbandingan antara standar CAPM dengan ekstensinya
Imronudin (Adv.: Dr. Suad Husnan, MBA), Dr. Suad Husnan, MBA
Judul penelitian ini adalah "Analisis pengaruh kebijakan moneter terhadap hubungan model tiga faktor dengan return saham; perbandingan antara standar capm dengan ekstensinya".
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh faktor lain selain beta, terhadap return saham. Penelitian ini juga ingin mengetahui bagaimana pengaruh kebijakan moneter (sebagai moderating variable) terhadap hubungan model tiga faktor (beta, size, book-to-market) dengan returnn saham. Selain itu, penelitian ini membandingkan model standar CAPM dengan model tiga faktor untuk mengetahui mana yang lebih baik dari kedua model tersebut dalam menjelaskan variasi return saham.
Dalam pengujian model tiga faktor peneliti mengadopsi model yang dikembangkan oleh Jensen dan Mercer (2002), yang disamping menguji ketiga faktor tersebut terhadap return saham, juga memasukkan variabel kebijakan moneter sebagai moderating variable. Peneliti menggunakan tingkat suku bunga SBI sebagai proxy dari kebijakan moneter.
Hasil analisa regresi dengan data cross section menunjukkan bahwa model standard CAPM temyata tidak mampu menjelaskan variasi return saham. Hal ini ditunjukkan oleh nilai F-statistik yang tidak signifikan.
Model tiga faktor tidak dapat menjelaskan secara signifikan pengaruh beta, size, dan book-to-market terhadap perubahan return saham. Hal ini ditunjukkan oleh tidak ada satupun nilai t-hitung dari masing-mising variabel independen terhadap variabel dependennya, demikian juga untuk nilai F-statistiknya juga tidak signifikan.
Variabel kebijakan moneter semakin nemperjelas hubungan antara beta dengan variasi return dimana pada kondisi moneter yang ekspansif, beta mempunyai pengaruh positif terhadap return saham. Artinya pada kondisi moneter yang ekspansif, saham-saham yang mempunyai risiko sistematis (beta) besar cenderung menghasilkan return lebih besar, dan sebaliknya saham-saham yang mempunyai beta kecil cenderung menghasilkan return yang lebih kecil. Sedangkan pada kondisi moneter yang kontraktif beta mempunyai koefisien yang bertanda negatif, menunjukkan bahwa pada kondisi moneter yang kontraktif semakin besar risiko sistematis sebuah perusahaan semakin besar return.
Variabel kebijakan moneter semakin nempeIjelas hubungan antara size perusahaan dengan variasi return dimana pada kondisi moneter yang ekspansif, size mempunyai pengaruh negative terhadap return Saham.
Pene1itian ini masih memiliki keterbatasan dalam proses pemilihan sample yaitu masih mengikutsertakan perusahaan-perusalaan yang memberikan bonus share dan melakukan stock split, dimana keduanya dapat mengakibatkan pengaruh pada perbandingan yang tidak konsisten antar return saham. Selain itu, sedikitnya jumlah saham yang memenuhi syarat pembentukan porlofolio, menyebabkan penelitian ini memiliki keterbatasan pada metodologi penelitian yaitu hanya membagi portofolio dalam dua kelompok dua rangking (beta besar V s beta kecil, size besar vs size kecil, BE/ME besar vs BE/ME kecil).
Kata Kunci : kebijakan Moneter, Return Saham, data cross section, standard CAPM