Analisis Pendapatan Asli Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (1970 - 1992)
I. Agus Wantara (Pembimbing): Dr. Insukindro, MA, Dr. Insukindro, MA
Intisari
Studi ini berusaha menaksir dampak penggandaan (impact multiplier) dalam hubungan keuangan pemerintah pusat dan daerah, terutama tentang bantuan pemerintah pusat dan pendapatan asli daerah di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 371741 Variabel yang terlibat sebelumnya dibagi menjadi empat persamaan, yaitu persamaan pendapatan asli daerah, persamaan investasi swasta, dan persamaan prasarana jalan, serta persamaan bantuan pemerintah pusat. Cara yang ditempuh untuk mengestimasi impact multiplier tersebut dengan menggunakan metoda Two Stage Least Squares (2SLS) dan sebagai bahan perbandingan digunakan pula metoda Indirect Least Square (ILS). Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder, yang diperoleh dari Kantor Bagian Keuangan Propinsi DIY, Kantor Statistik Propinsi DIY, dan International Financial Statistics, serta dari beberapa sumber data yang lain, dari tahun 1970 - 1992. Vaariabel yang dilibatkan ada sebanyak 9, yang terdiri dari 4 variabel endogen dan 5 variabel eksogen. Hasil estimasi yang diperoleh adalah sebagai berikut : 1. Penggunaan metoda 2SLS maupun ILS menghasilkan estimasi yang tidak jauh berbeda. Hanya saja untuk persamaan bantuan pemerintah pusat, kalau dilihat multiplier yang diestimasi untuk wisatawan (domestik dan asing) ada perbedaan nilai, yaitu 50,089 dengan digunakannya metoda 2SLS sedangkan kalau digunakan metoda ILS multiplier yang diestimasi hanya sebesar 16,322. Hal ini terjadi karena untuk metoda 2SLS persamaan tersebut diestimasi secara langsung, sedangkan untuk metoda ILS persamaan tersebut diestimasi secara tidak langsung. 2. Dengan menggunakan uji statistik t pada tingkat signifikansi 5% dari 12 multiplier 4 di antaranya tidak signifikan, dan dari 4 konstanta 3 di antaranya tidak signifikan. Namun hasil uji secara keseluruhan terhadap pembentukan sistem persamaan cukup kuat yaitu dengan nilai R-Square mendekati 1. 3. Kenaikan jumlah wisatawan (domestik dan asing) berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan asli daerah. Dengan demikian salah satu cara meningkatkan pendapatan asli daerah adalah dengan mengusahakan peningkatan jumlah wisatawan tersebut yang berkunjung ke propinsi DIY, misalnya dengan menggiatkan promosi tentang obyek-obyek wisata maupun musium yang ada. Perubahan jumlah wisatawan tersebut ternyata juga berdampak langsung terhadap besarnya bantuan pemerintah pusat, dengan arah hubungan yang positif. 4. Adanya perubahan pada pendapatan regional per kapita akan mempunyai dampak penggandaan (impact multiplier) terhadap besarnya investasi swasta di propinsi tersebut dan jumlah bantuan dari pemerintah pusat. Dengan demikian bila pendapatan regional per kapita meningkat maka akan berdampak pada peningkatan investasi swasta di propinsi tersebut, dan hal ini kiranya sesuai dengan teori investasi. 5. Penemuan yang cukup menarik adalah bahwa perubahan suku bunga ternyata tidak berdampak langsung secara signifikan terhadap variasi perubahan besarnya investasi swasta di propinsi DIY. Namun demikian karena arah hubungannya adalah negatif, kiranya masih sesuai dengan teori investasi. 6. Prasarana jalan berdampak langsung terhadap investasi swasta di propinsi tersebut. Hal ini bisa dimengerti, karena prasarana jalan merupakan hal yang vital untuk mendukung lancarnya transportasi dalam memindahkan bahan baku, maupun produk sehingga akan menekan biaya. Dengan demikian harapan akan keuntungan yang diperoleh oleh para investor menjadi semakin besar. Oleh karena itu bisa dimengerti bila prasarana jalan semakin baik/mulus, investasi akan semakin besar. Selain itu ternyata prasarana jalan juga mempunyai dampak langsung terhadap jumlah bantuan pemerintah pusat dengan hubungan yang positif.
Summary
This study evaluates the impact of the financial interaction between central and regional governments by means of impact multiplier. The focus will be on central government aid to Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY=Yogyakarta Special Region) and the region's own income (income before transfers). The model consists of four behavioral equations : (1) a region's own income equation, (2) a private investment function, (3) a road infrastructure equation, (4) a central goverment aid function. Those 4 endogenous variables are explained by 5 exogenous variables. Two estimation techniques were used: Two Stage Least Squares (2SLS) and Indirect Least Squares (ILS). ILS was used to check the reliability of the 2SLS results. The sample covers observations for 23 years (1970 - 1992). The data were obtained from (1) Kantor Bagian Keuangan Propinsi DIY, (2) Kantor Statistik Propinsi DIY, (3) International Financial Statistics and various other sources. The estimation results point out that: 1. 2SLS and ILS yield similar results, except for the value of the foreign and domestic tourism multiplier. 2. Only 4 out 0112 estimated multipliers were not significantly different from 0 at a 5% significant level. The overall goodness of fit (in terms of R2) is excellent
(with R2 close to 1). 3. Any increase in toursm (domestic and foreign) had a direct effect on the income that is generated by the region itself. In addition, increasing tourism in DIY also increases the region's own income through an increase of central government aid to the region. 4. Any increase in the region's per capita income triggers an increase in investment and central government aid.The positive multiplier effect on investment is consistent with economic theory. 5. In contrast with conventional wisdom, investment in the province of DIY does not depend on the interest rate. 6. Spending on road infrastructure affects private investment positively. Indeed, good road infrastructure facilitates the transportation of intermediate input and output and increases the profitability of private investment. In addition, higher spending on road infrastructure makes the central government channel more
regional aid.
Kata Kunci : Analisis Pendapatan Asli Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (1970 - 1992)