Laporkan Masalah

Model Pendukung Keputusan untuk Lokasi Perusahaan dalam Kawasan industri studi kasus pada Kawasan Pasar Seni Gabusan di Daerah Bantul

HEVEA RUKMANAHADI (Pembimbing: B.M. Purwanto, Dr., M.B.A.), B.M. Purwanto, Dr., M.B.A.

2010 | Skripsi | S1 Extention - Management

Keputusan lokasi bisnis adalah keputusan yang harus dibuat secara hati-hati. Di saat manajemen telah memutuskan untuk beroperasi di suatu lokasi tertentu, banyak biaya menjadi tetap dan sulit untuk dikurangi. Idealnya yang diharapkan dari pemilihan lokasi bisnis adalah lokasi yang memiliki tingkat adaptasi yang terbaik. Pemilihan lokasi bisnis dalam kawasan industri pun perlu dipertimbangkan, karena banyak faktor yang berpengaruh dalam keputusan pemilihan kawasan industri. Menarik industri baru menjadi tujuan utama dari banyak Negara yang memahami bahwa industrialisasi merupakan kunci dari pertumbuhan ekonomi.

Dalam rangka untuk menarik perusahaan kedalam lokasi, pengembang pertama kali harus mengidentifikasi potensi dari lokasi dan fokus utama dari pengambil keputusan, tipe dari eksekutif yang mewakili perusahaan yang akan masuk kedalam kelompok industri. Pada umumnya, riset pada area ini hanya fokus pada optimalisasi metodologi. Sampai saat ini, belum ada definisi yang baik mengenai cara mengukur prilaku dari eksekutif perusahaan yang memilih untuk menempatkan bisnisnya di lokasi tertentu.

Dalam penelitian ini melibatkan dua kelompok, kelompok pertama adalah pengrajin yang berada dalam satu kawasan tertentu, dalam hal ini peneliti mengambil lokasi kawasan Pasar Seni Gabusan. Kelompok kedua adalah pengrajin lain yang berada di luar lokasi tersebut yaitu Manding. Penelitian ini ingin mengidentifikasi faktor apa yang membedakan antara kedua lokasi dilihat dari berbagai sudut pandang.

Dikembangkan tiga model dalam penelitian ini, dan dalam setiap model melibatkan penggunaan berbagai teknik statistik untuk memperoleh tujuan. Alat statistik utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Diskriminan. Model satu membedakan antara kedua lokasi tersebut dilihat dari potensi yang dimiliki oleh kedua lokasi tersebut. Model dua dan model tiga membedakan kedua lokasi tersebut dilihat dari perilaku para eksekutif atau pihak yang berperan dalam pemilihan lokasi. Model dua membedakan antara kedua lokasi tersebut dilihat dari sudut pandang pemenuhan harapan terhadap lokasi. Model tiga membedakan antara lokasi yang keseluruhan harapan terhadap lokasi terpenuhi dan yang tidak terpenuhi jadi tidak lagi membedakan antara lokasi Pasar Seni Gabusan dan Manding. Dari model satu diperoleh hasil ternyata yang membedakan adalah Peraturan Pemerintah. Dari model dua ternyata yang membedakan adalah Kebijakan mengenai Asuransi Tenaga Kerja dan Kemudahan Pengurusaan Ijin Usaha. Dari model tiga yang membedakan adalah Tersedianya Fasilitas Informasi, Dekat dengan Sekolah, Dekat dengan Universitas, Penerimaan dari Masyarakat Sekitar yang Positif, Dekat dengan Fasilitas Kesehatan, Tersedianya Fasilitas Ibadah.



Decision concerning business location should be carefully made. While management has decided to operate at a particular location, numerous costs are fixed and difficult to be reduced. At ideal level, business locations should be those with the best adaptation. Industrial estate selected as business location also needs to consider because many factors influencing the decision to select the industrial estate. Attracting new industries becomes the main goal of many countries with better understanding that industrialization is the key to economic growth.

To attract companies into the site, developers should first identify the potentials of the location and the main focus of decision makers, the types of executives representing the types of company to enter the industrial groups. In general, researches in this area merely focus on methodology optimization. Until this day, no good definition is available on how to measure the behavior of corporate executives preferring to run their business in certain sites.

Two groups were involved in this study. The first group consisted of craftsmen found in a given area; in this case the researcher took Pasar Seni Gabusan (Gabusan Art Market) area. The second group comprised other craftsmen beyond the area, namely Manding. This research aimed to identify factors differentiating the two locations viewed from different perspectives.

Three models were developed in this research; each of them involved the utilization of various statistical techniques to meet the objectives. The Discriminant Analysis was exploited as the main statistical tool. The first model differentiated the two locations based on potentials found in both locations. The second and third models differentiated behavior to distinguish both location based on the behavior of executives or the parties playing a role in the site selection. The second model distinguished both locations viewed from the perspective of how to fulfill expectations of the location. Model three distinguished locations meeting and not meeting the expectations hence, it was no longer to distinguish between the Art Market Gabusan and Manding sites. The first model found that the difference of both was the government regulation. Based on the second model, it was identified that the differences were on the Policy on Employment Insurance and Simplicity in Licensing. From the three models the Availability of Information Facilities, Proximity to Schools, Nearness to the University, Positive acceptance of Surrounding Community, Closeness to the health facilities, availability of Worship Facility.

Kata Kunci : Strategi Lokasi, Faktor-Faktor Yang Membedakan Lokasi, Analisis Diskriminan, Location Strategy, Factors Differentiating Locations, Discriminant Analysis


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.