Laporkan Masalah

PERDAGANGAN INTRA-INDUSTRI INDONESIA DI PASAR DUNIA

HERMANTO (Pembimbing: DR. ARIEF ROMELAN KARSENO, MA.), DR. ARIEF ROMELAN KARSENO, MA.

2012 | Tesis | S2 Economics

Berdasarkan beberapa studi empiris mengenai perdagangan intra-industri, Greenaway dan Milner (1989) mengelompokkannya menjadi tiga kategori. Pertama, country-specific, di mana intensitas perdagangan intra-industri untuk industri tertentu ditentukan oleh karakteristik mitra dagangnya, Kedua, industry- specific, yaitn perdagangan intra-industri yang banyak dipengaruhi oleh permintaan spesifik dari komoditi/ industri dan karakteristik penawaran (supply). Ketiga, policy-based, yaitu intensitas perdagangan intra-industri dipengaruhi oleh faktor-faktor kelembagaan atau kebijakan. Penelitian ini akan lebih difokuskan untuk menguji hipotesis industry-specific tentang perdagangan intra-industri di Indonesia. Dari beberapa alasan perdagangan intra-industri (IIT) , diferensiasi produk terlihat sebagai penyebab yang terpenting (lihat Balassa, 1967; Grubel and Lloyd, 1975).

Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dan estimasi ekonometrik, yang mencoba membuat penilaian secara umum mengenai perdagangan intra-industri Indonesia serta variabel-variabel yang mempengaruhinya. Analisis ini akan diterapkan pada kelompok produk ekspor industri manufaktur berdasarkan Standard International Trade Classification (SITC) dan International Standard Industrial Classification (ISIC) untuk data tahun 1980, 1985, 1990, 1995, 1996 dan 1997.

Dari hasil analisis yang dilakukan dalam penelitian ini dapat diperoleh beberapa kesimpulan, yaitu: pertama, intensitas perdagangan intra-industri (PII) Indonesia selama kurun waktu 1980 - 1997 masih rendah. Penelitian ini menunjukkan bahwa pada tahun 1980 - 1997, dari 23 kelompok industri berdasarkan ISle yang diteliti dalam penelitian ini, hanya 12 kelompok industri yang mernpunyai indeks PH di atas 40 persen.

Kedua, dilihat dari perkembangan indeks dan nilai PH Indonesia berdasarkan SITe (SITe 5 - 8) dalam kurun waktu 1980 - 1997, memperlihatkan adanya kecenderungan meningkat. Hal ini menandakan ada kesenderungan positif bagi perkembangan intra-industri Indonesia di sektor manufaktur, untuk makin dikembangkan di masa mendatang. Ketiga, komoditas yang memiliki indeks perdagangan intra-industri tinggi secara cukup konsisten

pada periode 1980 - 1997 hanya 30 buah (18,99 persen) dari 158 komoditas industri manufaktur Indonesia.

Keempat, analisis ekonometrik atas perdagangan intra-industri Indonesia dengan pendekatan industry-specific menghasilkan kesimpulan yang sama dengan hipotesis yang telah dibangun oleh beberapa pakar ekonomi sebelumnya. Yaitu, diferensiasi prod uk, skala ekonomi suatu industri dan tingkat persaingan struktur pasar mempengaruhi intensitas perdagangan intra-industri.

Based on the empirical studies on intra-industry trade, Greenaway and Milner (1989) classified intra-industry trade in three categories. First, country- specific, is the intra-industry trade for some industries are determined by the characteristic of their partners. Second, industry-specific, is the intra-industry trade that is more influenced by specific demand for some commodities or industries and the characteristics of supply. Third, policy-based, the intra-industry trade that is influenced by institutional or policy matters.

This research will be focused for testing industry-specific hypothesis of intra-industry trade in Indonesia. By some reasons of intra-industry trade (liT), product differentiation as the most important variable (Balassa, 1967; Grubel and Llyod, 1975).

Descriptive analysis and econometric model were applied in this study to obtain a general conclusion about intra-industry trade in Indonesia and what the variables influence it. This analysis will be applied on the group of export product in manufacturing industries based on Standard International Trade Classification (SITC) and International Standard Industrial Classification (ISlC) in year 1980, 1985, 1990, 1995, 1996 and 1997.

So, by the analysis that was applied in this research could be obtained some conclusions. First, the intensity of intra-industry trade in Indonesia is still low. This study shows that only 12 industries of 23 industries based on ISIC have an IIT more than 40 percent in 1980 - 1997. Secondly, the growth of lIT index and value shows the increasing trend. This condition shows that Indonesia has a positive chance to more expansive in the future.

Third, there are only 30 commodities (18,99 per cent) of 158 commodities that have a high lIT index in period 1980 - 1997. Forth, econometric analysis to intra-industry trade in Indonesia by industry-specific approach obtain the conclusion that product differentiation, scale economies in industry and market structure competitiveness in industry influences the intra- industry trade.

Kata Kunci : intra-industry trade, industry-specific, product differeutuuion


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.