Laporkan Masalah

Selisih Kurs Sebagai Instrumen Perataan Laba

HARARI, MARGARETA DWIKARDINI MARYUDI (Adv.: Nur Indriantoro, Dr., M.Sc.) , Nur Indriantoro, Dr., M.Sc.

2014 | Skripsi | S1 Accounting

Praktik perataan laba telah dilakukan oleh banyak perusahaan di Indonesia. Perataan laba dapat dilakukan dengan beberapa instrumen, antara lain extraodinary items, biaya penelitian dan pengembangan, dan biaya penjualan dan pengiklanan. Penelitian ini menguji selisih kurs sebagai instrumen yang digunakan oleh perusahaan di Indonesia.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah dengan memasukkan selisih kurs akan terjadi peningkatan fluktuasi laba dan apakah manajemen perusahaan di Indonesia menggunakan kebebasannya dalam perlakuan akuntansi terhadap selisih kurs untuk menghindari fluktuasi dalam laba operasi. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi investor dalam menilai kinerja perusahaan, bagi IAI dalam mempertimbangkan standar pelaporan perusahaan go public, bagi BAPEPAM dalam menetapkan aturan, dan bagi pihak-pihak yang berkepentingan lainnya.

Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:

Hl: Memasukkan selisih kurs dalam laporan laba rugi tidak akan meningkatkan fluktuasi laba

H2: Manajemen perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak menggunakan kebebasannya dalam perlakuan akuntansi terhadap selisih kurs untuk menghindari fluktuasi dalam laba operasi

Pengukuran variabel yang dipakai dalam penelitian ini mengikuti langkah-Iangkah sebagai berikut:

Pertama kali dilakukan pengukuran

• Reported operating income (tidak termasuk selisih kurs) selanjutnya disebut ROI

• Calculated operating income (termasuk selisih kurs) selanjutnya disebut ROI + X

• Reported net income (termasuk selisih kurs) selanjutnya disebut RNI

• Calculated net income (tidak termasuk selisih kurs) selanjutnya disebut RNI ± X

Kemudian keempat ukuran tersebut dihitung trend-nya dengan persamaan regresi sebagai

berikut:

Et = + 13 Tt +ut

di mana

Et = hasil perhitungan OI dan/atau NI

a = intersep dari hubungan linear antara waktu dengan pengukuran income

= trend waktu dari OI dan/atau NI (slope dari hubungan linear)

T = t = waktu

varians (residual) dari OI dan/atau NT dari trend waktunya

Ukuran standar dari ut untuk setiap empat pengukuran itu dan untuk setiap perusahaan

diperoleh dengan membagi mean squared error (MSE) laba dari trend linear dengan rata

rata laba yang dilaporkan selama periode pengamatan. Kemudian ukuran standar tersebut

diuj i dengan menggunakan Wilcoxon Matched-pairs Ranked-Signs Test dengan pasangan

sebagai berikut:

a) V(ROI + X) - V(ROI) dengan harapan V(ROI + X) > V(ROI)

b) V(RNI) - V(RNI ± X) dengan harapan V(RNI) > V(RNI ± X) di mana V adalah varians dari setiap ukuran laba.

Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Tidak terbukti bahwa terjadi peningkatan fluktuasi dalam laba apabila dicantumkan laba rugi selisih kurs, baik ke dalam laba operasi maupun laba bersih.

2. Tidak terbukti bahwa manajemen perusahaan-perusahaan di Indonesia menggunakan kebijaksanaannya terhadap perlakuan akuntansi terhadap selisih kurs untuk menghindari fluktuasi dalam laba operasi.

Kata Kunci : Kurs, Perataan Laba


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.