Laporkan Masalah

Analisis Kinerja Rumah Sakit Umum Jayapura Propinsi Irian Jaya

HAMZAH, ABDULLAH (Adv.: Faried Widjaya M., Dr., M.A), Faried Widjaya M., Dr., M.A

2015 | Tesis | S2 MEP

Penelitian ini bermaksud menganalisis kinerja Rumah Sakit Umum (RSU) Jayapura dalam kaitannya dengan upaya untuk menjadikan RSU ini sebagai unit swadana yang dapat diandalkan. Pengukuran terhadap kinerja RSU dilakukan melalui perhitungan rasio efisiensi biaya pengelolaan dan indeks kinerja penerimaan. Selain itu, untuk merumuskan strategi yang dibutuhkan bagi pengembangan RSU ini menjadi unit swadana, akan dilakukan analisis SWOT. Untuk kepentingan analisis, data yang digunakan adalah data sekunder mengenai PAD, Retribusi Daerah, Penerimaan RSU dan biaya pengelolaan RSU. Data ini didapatkan dari Kantor Statistik Propinsi Irian Jaya dan pihak RSU Jayapura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa realisasi penerimaan RSU Jayapura menunjukkan peningkatan yang konstan sepanjang tahun 1993- 1998, yaitu rata-rata meningkat sebesar 18,33% per tahun. Sejalan dengan itu, realisasi penerimaan retribusi daerah dan PAD juga meningkat. Jika dikaitkan dengan retribusi daerah, tampak bahwa share penerimaan RSU Jayapura mencapai 56,81% (1993) dan 52,62% (1998). Rasio efisiensi biaya pengelolaan meningkat dari 0,2616 pada tahun 1993 menjadi 0,3678 pada

tahun 1998. Namun demikian, berdasarkan kriteria yang digunakan, kinerja efisiensi kurang balk, karena penerimaan RSU Jayapura hanya mampu menutup 28,38% biaya rutinnya. Selama periode analisis pihak pengelola RSU Jayapura mampu merealisasikan penerimaan mendekati potensinya, walaupun sepanjang periode analisis tampak gejala penurunan. Dari segi ini dapat dikatakan bahwa pihak pengelola RSU Jayapura menunjukkan indeks kinerja penerimaan yang relatif tidak berubah. Hashi analisis sensitivitas menunjukkan bahwa penerimaan RSU Jayapura lebih peka terhadap perubahan jumlah penduduk disbanding perubahan PDRB dan pendapatan per kapita. Pertumbuhan penduduk sebesar satu persen akan meningkatkan penerimaan RSU Jayapura sebesar 5,18 persen. Sementara itu, setiap pertumbuhan PDRB dan pendapatan per kapita sebesar satu persen, hanya mengakibatkan pertumbuhan penerimaan RSU Jayapura sebesar 0,91 persen dan 1,12 persen. Hash analisis SWOT menunjukkan bahwa RSU Jayapura berada pada kuadran II. Posisi semacam ini mengandung arti bahwa RSU Jayapura berada dalam suatu lingkungan eksternal yang positif, artinya peluang yang dimiliki lebih besar dari ancaman yang dihadapi; hanya saja RSU Jayapura secara internal mengalami hambatan, karena kekuatan yang dimiliki lebih kecil dibanding kelemahannya. Strategi yang diperlukan untuk mendorong perkembangan RSU ini adalah strategi untuk menjaga stabilitas dengan memberi tekanan pada upaya untuk mengatasi berbagai kelemahan internal sehingga mampu memanfaatkan peluang yang ada.

The objective of the research is to analysis the performance of Jayapura hospital as a basic for the local government effort to develop this hospital to become self-funding unit. Cost efficiency ratio and revenue performance index used as indicators to measuring the hospital performance. Beside that, SWOT analysis used to formulating strategy needed by the hospital to become self-funding unit. The data used in the analysis process , was secondary data about PAD, local retribution, the hospital revenue and cost. The data obtained from the Provincial Statistical Office and the hospital administration unit. The results of the research show that the realization of the hospital revenue tends to increase constantly as long periods of analysis. The average rate of the increase are 18.33 percent per annum. Together with the hospital revenue, the realization of local retribution and PAD also increases constantly. In the relation with the local retribution, share of the hospital revenue reach 56.81 percent (1993) and 52.62 percent (1998). Cost efficiency ratio increasing from 0.2616 (1993) to 0.3678 (1998). According to the criterium, this efficiency ratio were poor, because the hospital revenue only covering 28,38 percent of the hospital routine cost. On the other side, in the periods of analysis, the hospital revenue almost reach its potency. From this side, it can be stated that there were no changes in the performance index of revenue. Sensitivity analysis show that the hospital revenue, the hospital revenue more sensitive on the changes of the population compared with the

changes of the PDRB and the per capita income. One percent growth of the population could increase 5.18 percent of the hospital revenue. Meanwhile one percent of the PDRB and per capita income growth could increase 0.91 and 1.12 percent of the hospital revenue. SWOT analysis results show that the hospital position placed in the quadran II. It mean that the hospital had good external conditions where the hospital opportunities bigger than the threats, but internally, the hospital faced with the conditions where the hospital strength less than the hospital weaknesses. The strategy needed to overcome this conditions were strategy to maintain stability with stressing on the efforts to overcome the internal weaknesses so as to maximize the opportunities.


Kata Kunci : Kinerja Perusahaan, Analisis Sesitivitas, perhitungan rasio efisiensi biaya pengelolaan, indek kinerja penerimaan, pertumbuhan PDRB, pendapatan per kapita.manajemen strategic, performance, Cost efficiency ratio, revenue performance index.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.